
Rafael belum sempat membalas ucapan Lorie, suara Billy lebih dulu terdengar.
"Aku tidak pernah memukuli perempuan, apa lagi masih remaja seperti ini. Tapi untuk putrimu ... itu adalah pengecualian."
Dalam sekejap terdengar suara pukulan disertai teriakan putri Rafael dari ponsel yang masih menyala.
“Ampun! Papa! Sakit .... Ampun ... sakit ....”
Suara pukulan bertubi-tubi dan isak tangis putrinya membuat Rafael hampir gila. Tubuhnya menegang. Ia menatap Lorie dengan ekspresi memohon dan memelas, lalu merangkak seperti bayi dan menghampiri wanita itu.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Rafael melepaskan jasnya untuk menutupi tubuh Lorie, tapi wanita itu mendesis dan melotot.
“Singkirkan sampah ini,” ucap Lorie seraya menggertakkan gigi, membuat rasa mual itu kembali mendera. Ia menutup mata dan berbaring diam, tidak ingin bicara apa pun lagi dengan Rafael.
Rafael bersujud dan menundukkan kepalanya hingga menyentuh lantai.
“Nona, aku memohon belas kasihanmu, ampuni aku ... kalau kamu tidak mengampuniku, mereka akan menjual putriku kepada sindikat di luar negeri,” kata pria itu dengan suara yang gemetar.
Ia lalu melirik ke arah anak buahnya dan memberi perintah, “Cepat berlutut dan minta maaf!”
Serentak pria-pria bertubuh kekar itu meletakkan senjata mereka dan mengikuti tindakan sang pimpinan. Mereka berlutut di di belakang Rafael dan memberi hormat berkali-kali.
“Nona, maafkan kelancangan kami.”
“Mohon ampuni kami.”
“Nona, silakan pukul kami.”
Suara-suara seperti dengungan lebah itu terdengar tumpang tindih, membuat kepala Lorie terasa semakin berdenyut nyeri.
“Diam.”
Satu kata itu langsung membuat semua orang bungkam. Tak ada seorang pun yang berani bergerak atau bersuara lagi, termasuk Rafael.
Akan tetapi, keheningan itu tidak berlangsung lama karena satu lusin pasukan berseragam semi militer menerobos masuk ke dalam ruangan itu dan langsung menuju ke arah Lorie. Satu orang segera membentangkan kain untuk menutupi tubuh Lorie, kemudian dua orang segera memindahkan tubuhnya dengan sangat hati-hati ke atas tandu tandu.
Satu-satunya wanita dalam pasukan itu segera memeriksa denyut nadi Lorie dan mengarahkan cahaya dari senter kecil ke matanya. Gerakan pupil yang tidak fokus membuat wanita itu mengernyit. Melihat kondisi Lorie, ia tidak bisa membayangkan siksaan seperti apa yang sudah dilewatinya.
“Kapten, kami akan segera memindahkan Anda,” ucap wanita itu seraya membuka kotak yang dibawanya dan menyuntikkan obat pereda nyeri dan anti inflamasi. Ia lalu mengaitkan botol infus pada penyangga dan mengganjal dengan lipatan selimut agar kepala Lorie berada lebih tinggi dari posisi kakinya.
Kapten?
Seluruh pria yang masih berlutut saling melirik. Jika wanita itu adalah kapten, apakah satu kompi pasukan ini adalah anak buahnya? Diam-diam mereka bergidik ngeri, membayangkan pembalasan seperti apa yang akan mereka dapatkan.
“Kapten—“
“Cepat.”
Salah seorang anggota pasukan maju dan memberikan senjatanya ke tangan Lorie.
“Thomas,” panggilnya.
Pria berjaket parka maju dengan sangat perlahan dan menghampiri Lorie.
“Pergi dari sini.”
“Terima kasih, Nona.” Pria itu membungkuk dalam-dalam sebelum melesat keluar. Ia merasa sangat bersyukur karena bisa lolos dari pembalasan yang mengerikan.
“Rafael,” panggil Lorie lagi dengan sangat pelan, tapi terdengar seperti sambaran petir di telinga pria itu.
Tungkainya sedikit gemetar saat berdiri dan menghadap Lorie. Sungguh ia tak menyangka bahwa Alex Smith akan menyuruh orang untuk menyandera putri semata wayangnya dari asrama untuk ditukarkan dengan Lorie. Vivian adalah satu-satunya permatanya yang paling berharga. Putrinya itu baru berusia 16 tahun! Oleh karena itulah Ia akan melakukan apa pun untuk keselamatan putrinya.
Tangan Lorie yang memegang senjata tampak sedikit gemetar, tapi ia mengarahkannya kepada Rafael dan membidik. Saat pelatuk ditarik, suara pistol yang menyalak terdengar hampir bersamaan dengan raung kesakitan yang terdengar dari mulut Rafael. Pria itu berguling di atas lantai sambil memegangi pangkal pahanya yang berlumur darah.
Dor.
Dor.
Dua peluru melesat menembus tempurung lutut pria itu dengan presisi, membuat Rafael melolong semakin kencang dan berguling di atas lantai.
“Jangan biarkan dia mati, juga anak buahnya ... aku belum selesai,” pesan Lorie sebelum memejamkan mata.
Ia merasa sangat lelah. Seluruh sisa tenaganya telah ia gunakan. Sekarang ia merasa seperti sedang melayang dalam tabung air raksasa. Tidak bisa mendengar apa pun dengan jelas. Pandangannya menggelap. Rasa panas menggerogoti tubuhnya, seperti ada ratusan kelabang yang sedang menancapkan taring berbisa mereka secara bersamaan, benar-benar menyakitkan.
Saat lorong panjang yang dilewati akhirnya berganti dengan hamparan langit malam yang bertaburan bintang, Lorie seperti mengigau. Matanya tiba-tiba terbuka lebar sambil menggumamkan kalimat tidak jelas. Namun, tak lama kemudian, cahaya bulan yang ia lihat perlahan memudar, lalu kegelapan yang pekat menyelimutinya.
“Kapten!” seru wanita yang berjalan di sisi tandu yang membawa Lorie.
Ia panik saat menyentuh kening pemimpinnya. Permukaan kulit pasien Lorie terasa seperti bara, padahal ia sudah memberikan obat dalam dosis tinggi. Wanita itu lalu memberi perintah agar pria yang menggotong tandu berjalan lebih cepat menuju helikopter.
Tidak ada waktu lagi, kalau sampai terlambat ... ia tidak bisa menjamin apakah Wakil CEO Lorie yang merangkap sebagai kapten pasukan bayangan 01 akan bertahan atau tidak.
“Kapten, bertahanlah, kamu harus melihat bagaimana Tuan Alex dan Billy akan meratakan Drun Indsutry dengan tanah.”
***