Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 141: Tidak bisa menjaganya


"Baby," panggil Alex ketika jarum panjang sudah hampir menyentuh angka delapan, tetapi Kinara masih tidur dengan pulas.


Pria itu sudah berganti pakaian dan bersiap untuk ke kantor. Namun, melihat kondisi istrinya yang seperti itu membuatnya tidak buru-buru meninggalkan rumah.


Alex duduk di tepi ranjang dan mengelus pipi Kinara.


"Sayang, kami tidak ke kampus?" tegurnya dengan suara rendah dan lembut.


Kinara menggeliat ketika telapak tangan Alex memberi sensasi dingin di wajahnya. Ia meraih tangan Alex dan menekannya di kening dan lehernya. Rasanya sangat nyaman.


Alex tersenyum tipis melihat tingkah Kinara. Ia mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah dan leher istrinya hingga wanita itu membuka mata dan terkekeh geli.


"Hentikan," ucap Kinara seraya mendorong wajah suaminya agar menjauh, "Aku belum gosok gigi."


"Tidak ada bedanya bagiku," jawab Alex dengan tenang. Ia menyingkap selimut dan menindih tubuh istrinya sambil berkata, "Aku tidak keberatan untuk membuktikannya."


Kinara terkikik dan menghindar dari kungkungan suaminya. Ia berguling menjauh dan membalas, "Tapi aku keberatan. Beri aku waktu untuk mengumpulkan tenaga lebih dulu."


Walaupun mengatakan hal itu sambil tertawa, Kinara sungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia tahu ketika Alex selesai berurusan dengannya, ia pasti tidak memiliki sisa tenaga meski hanya untuk menggerakkan tangan.


"Aku hanya bercanda, kemarilah. Sudah kubuatkan sarapan untukmu."


Alex bangun dan mengambil nampan di atas meja. Semangkuk bubur rempah mengepulkan asap ketika tutup saji dibuka. Aroma rempah yang kuat menyebar ke seluruh penjuru ruang kamar. Ia mengambil sesendok bubur dan meniupnya hingga dingin.


"Buka mulut," perintahnya.


Air liur Kinara hampir menetes ketika Alex menyodorkan bubur itu padanya. Ia membuka mulut dengan patuh dan melahap makanan itu. Rasanya sangat lembut dan gurih, aromanya sama sekali tidak membuat mual.


"Enak sekali, kamu yang buat?" tanya Kinara dengan sorot menyelidik. Ia sama sekali tidak menyangka Alex bisa memasak. Beberapa hasil karya pria itu sangat cocok dengan lidahnya.


"Kamu suka?" balas Alex sambil menyendokkan suapan berikutnya.


Kinara mengangguk. "Aku pikir pria kaya tidak bisa masak. Biasanya para konglomerat sepertimu terbiasa dilayani," godanya, kemudian membuka mulut lagi.


Alex tertawa pelan dan menjawab, "Ada banyak hal yang kamu tidak tahu, Sweetheart. Tidak semua orang jaya seperti yang kamu bayangkan."


Kinara menyeringai lebar hingga matanya menyipit. Ia sungguh berpikir semua konglomerat itu menyebalkan dan arogan, termasuk Alex. Namun harus ia akui, semua tuduhannya itu sama sekali tidak berdasar. Atau mungkin memang dirinya yang sangat beruntung sehingga mendapatkan pendamping sesempurna pria di hadapannya itu.


Alex menyuapi istrinya dengan telaten hingga isi mangkuk tandas tak bersisa. "Sudah merasa lebih baik?" tanyanya.


Ia mengusap sudut-sudut bibir Kinara dengan serbet, lalu menyeringai puas melihat wajah istrinya yang mulai bersemu, tidak sepucat tadi malam.


"Ya. Terima kasih, Sayang," jawab Kinara turun dari ranjang. Pening dan mualnya sudah berkurang. Ia meraih nampan daei tangan Alex, hendak membantu pria itu membereskan bekas sarapannya.


"Biar aku saja," ujar Alex sembari meletakkan mangkuk kotor dalam nampan dan menata tutupnya. Ia mengambil cangkir berisi cairan kecokelatan dan menyodorkannya pada istrinya.


"Apa ini?" tanya Kinara. Ia belum pernah meminum cairan seperti ini sebelumnya.


"Teh chamomile, bagus untuk meredakan rasa tidak nyaman di perutmu."


Alex meletakkan cangkir ke dalam genggaman Kinara yang hanya menatapnya tanpa berkedip.


"Jus jeruk kurang bagus ketika perutmu sedang bermasalah," lanjutnya seraya mengangkat tangan Kinara dan mendekatkan cangkir ke bibirnya, "Minumlah selagi masih hangat."


Kinara sangat terharu hingga matanya berkaca-kaca. Bagaimana bisa ia mendapat suami sebaik ini? Ia sunggu hampir menangis ketika suara Alex kembali memecah keheningan.


"Jangan terharu seperti itu. Aku melakukan semua ini agar kamu cepat pulih dan kita bisa ... aw! Apa salahku?"


Kinara melotot dan meneguk habis tehnya dalam satu tarikan napas. Ia meletakkan cangkir kosong ke atas nampan dan berderap menuju kamar mandi.


"Monster!" desisnya sebelum menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Ia tidak ingin Alex berubah pikiran dan tiba-tiba menyusulnya. Pria itu selalu tidak bisa ditebak.


"Baby, aku akan menunggumu di depan," seru Alex sambil membawa nampan keluar dari kamar.


"Aku segera menyusul," balas Kinara.


Ia menyalakan shower dan mandi dengan cepat. Seharusnya Alex sekarang sudah berada di kantor, tetapi pria itu masih menunggunya seperti ini, membuat Kinara tidak ingin membuat suaminya menunggu lebih lama lagi.


Setelah selesai membersihkan diri, Kinara memakai handuk dan berjalan menuju walk in closet. Sebuah blouse cream polos dan jeans hitam menjadi pilihannya. Ia berganti pakaian dan merias diri sesimpel mungkin: pelembab, bedak tabur, lipgloss. Done.


Ia memakai sepatu keds dan mengambil tasnya di dalam lemari. Sambil berjalan keluar, ia mengingatkan diri untuk berterima kasih pada Lorie yang selalu menyiapkan segala keperluannya dengan sangat baik.


"Sayang, ayo berangkat," ajaknya ketika mencapai ruang tamu.


Alex mendongak dan terpana untuk sesaat ketika mendapati sosok istrinya berdiri di dekat pintu. Entah mengapa penampilan wanita itu semakin hari semakin membuatnya terpesona.


"Aku harus meminta Lorie untuk memperketat pengawasan. Aku tidak mau ada yang berhasil mencuri hatimu dan berhasil membawamu pergi dariku. Terutama putra walikota itu," gerutu Alex sambil menggandeng tangan Kinara dan berjalan menuju halaman.


Kinara terbahak. Ia tidak menduga Alex akan semakin over protektif seperti ini. Menurutnya penampilannya selalu biasa saja. Sebuah anugerah Alex bisa jatuh cinta padanya ketika ada begitu banyak wanita yang lebih cantik darinya.


"Jangan berlebihan, Sayang. Tidak ada yang menyukaiku selain kamu. Dan tidak ada yang aku cintai selain kamu," hiburnya seraya berjinjit dan mencium rahang Alex sekilas.


Lorie menghela napas dan membukakan pintu mobil. Setiap hari menyaksikan adegan kemesraan seperti itu membuat jantungnya bergejolak. Pipinya memerah ketika tiba-tiba teringat pada ... putra walikota..


Sialan. Kenapa harus mengingat senyumannya di saat seperti ini, rutuknya dalam hati.


Sikap pemuda itu yang tetap lembut dan sabar meski sudah berkali-kali Lorie bersikap kasar padanya memberi kesan tersendiri.


Gadis itu menyalakan mobil dan berkendara menuju kampus. Seperti biasa, ia berpura-pura menjadi patung, mengabaikan sepasang suami istri yang sedang bermesraan di kursi belakang.


Lorie mengetuk-ngetuk stir mobil sambil mempertimbangkan untuk meminta kenaikan gaji pada tuannya. Setidaknya ia bisa mendapatkan perawatan terbaik kalau tiba-tiba terkena serangan jantung karena menjadi saksi bisu cinta yang menggebu-gebu.


Sepertinya karakter Raymond tidak berbeda jauh dari tuan muda. Pemuda itu merawat Kinara dengan baik ketika di rumah kabin. Dia sama sekali tidak memanfaatkan situasi atau mengambil keuntungan dari Kinara ... itu ... sangat jarang menemukan pria dengan karakter seperti itu ....


"Lorie, kurangi kecepatan. Kita hampir sampai."


Jantungnya berdebar keras, takut tuan muda Smith akan menyadari kalau ia melamun ketika sedang bertugas. Untungnya pria itu terlalu sibuk dengan istrinya hingga tidak menyadari keteledorannya.


Raymond sialan. Kau hampir membuatku sial.


Lorie menarik napas panjang dan menepikan mobil di tempat biasa.


Fokus, Lorie, fokus ....


"Aku sudah meminta Lorie untuk mengantarmu ke rumah sakit. Kabari aku kalau kalian sudah sampai di sana," ujar Alex sambil mendaratkan ciuman di bibir istrinya.


"Hum, baik," gumam Kinara sambil merapikan rambut dan bajunya.


"Love you, Baby."


"Love you too ...."


Kinara menatap punggung Alex yang menjauh hingga pria itu masuk ke dalam mobilnya. Rasanya aneh. Baru saja mereka berpisah tapi ia sudah sangat merindukan suaminya. Padahal tadi malam rasanya ia sangat membenci pria itu sampai ke ubun-ubun. Benar-benar sangat aneh.


"Kamu masih marah padaku?" tanya Lorie setelah hanya ia dan Kinara yang tersisa di dalam mobil. Ia membelokkan kemudi memasuki parking lot.


"Tidak," jawab Kinara sambil menggeleng, "Maaf, sikapku berlebihan."


Lorie tersenyum tipis. "Tidak masalah. Aku pasti akan melakukan hal yang sama kalau berada di posisimu. Aku juga minta maaf, aku hanya menjalankan tugas."


"Sudahlah. Tidak usah dibahas lagi. Ayo, aku ingin ke perpustakaan dulu sebentar," kata Kinara sambil membuka pintu mobil dan turun.


"Baik."


Dua orang perempuan itu berjalan bersisian ke lantai dua. Mata Lorie menyipit ketika melihat bayangan Raymond berlari ke arah mereka dari ujung lorong yang berlawanan.


"Kinara! Awas!" teriak pria itu seraya melambaikan tangannya.


Lorie langsung berhenti dan menarik tangan Kinara agar menyingkir. Namun gerakannya itu terlambat satu detik. Seseorang yang memakai hoodie hitam berlari kencang dari koridor sebelah kanan dan mendorong tubuh Kinara hingga terlepas dari cekalan Lorie.


Kinara memekik terkejut. Ia belum sempat bereaksi ketika tiba-tiba tubuhnya terasa melayang melewati pagar pembatas. Kepalanya lebih dulu meluncur ke bawah.


"Kyaaa!" teriaknya dengan panik seraya menggerakkan kedua tangannya di udara.


"Kinara!" teriak Lorie dan Raymond bersamaan ketika melihat tubuh Kinara terempas dengan kuat di atas tanah. Cairan merah pekat mengalir deras dari sela pahanya.


Lorie terpaku di tempatnya. Otaknya mendadak beku. Semuanya terlalu cepat dan tiba-tiba.


"Kejar wanita itu! Aku akan mengurus Kinara!" seru Raymond seraya berlari menuruni tangga.


Lorie terkesiap dan menoleh pelaku yang berlari ke lantai atas.


"Berhenti!" teriaknya sambil melesat kencang menyusul wanita itu ke atas. "Brengsek! Kubilang berhenti!"


Napas Kinara tersengal. Ia tidak berani bergerak. Seluruh tubuhnya terasa sakit luar biasa. Paru-parunya seperti terkoyak ketika ia bernapas. Namun, rasa sakit di bagian bawah pusarnya perlahan merenggut kesadarannya. Sangat sakit hingga rasanya ia ingin menjerit sekuat tenaga. Akan tetapi, hanya desahan pelan yang lolos dari bibirnya yang pias.


"Alex ... Alex ... Sayang," gumamnya berulang kali sebelum kegelapan menjemputnya.


"Kinara! Bertahanlah," ujar Raymond dengan suara bergetar.


Ia sudah menghubungi Alex ketika berlari turun tadi. Pria itu pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan karena saat ini ... saat ini rasanya ia pun hampir kehilangan kesadaran melihat darah yang begitu banyak.


"Kumohon bertahanlah," bisiknya dengan sangat lirih. Seluruh tubuhnya gemetaran. Seandainya tadi ia bisa berlari lebih kencang, atau berteriak lebih keras.


Brak!


Lorie menendang pintu di roof top hingga terbuka. Napasnya hampir putus, tapi dipaksakan kakinya untuk terus melangkah, menghampiri sosok yang berdiri di tepi gedung sambil menatap ke arahnya tanpa rasa gentar. Ia mengeluarkan Baretta dari dalam jaket dan menodongkannya pada wanita itu.


"Kamu ... kamu ... Amanda, kamu pantas mati." Lorie menatap lurus pada sosok di hadapannya dan membidiknya.


Amanda Shu terkekeh pelan dan duduk di tepi pagar pembatas.


"Katakan pada Alex, seharusnya dia menerimaku kembali," ujarnya dengan ekspresi acuh tak acuh.


"Kalau aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada yang boleh. Atau setidaknya, dia melepaskan keluargaku. Dia pikir bisa hidup bahagia di atas penderitaanku? He ... he ... he ... Dia pikir bisa menyingkirkanku seperti Jessica? Jangan mimpi! Sekarang mari kita lihat, apa yang akan dilakukannya pada istrinya jika wanita itu cacat. Atau ... bagaimana kehidupannya kalau wanita itu meninggal. Oh ... mati pun aku rela."


Dor!


Lorie melepaskan satu tembakan dan mengenai dada Amanda. Namun reaksi wanita itu menbuat Lorie merinding.


Amanda terbahak dan berdiri di pagar. Wanita itu seakan tidak merasakan sakit dari peluru yang menembus dagingnya.


Ia melangkah keluar dari besi penghalang dan berkata, "Tidak perlu repot-repot. Aku bisa sendiri. Mati pun aku rela, sangat rela ...."


Amanda melepaskan pegangannya dan terjun bebas dari lantai paling atas. Suara tawanya yang melengking dan penuh ejekan bergema dalam gendang telinga Lorie.


Tanpa memedulikan bagaimana keadaan Amanda. Lorie berlari turun dan menghubungi lagi nomor Alex. Kali ini ia siap kalau tuannya itu membunuhnya dengan cara apa pun.


"Maafkan aku, Nara. Aku gagal menjagamu," gumamnya di antara derai air mata yang menganak sungai.


***


Kali ini saya mau berterima kasih untuk Vira yang menyumbangkan poin sebanyak itu.


Saya benar-benar berterima kasih atas apresiasi kalian semua.


love youu🥰🥰🥰