Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 1


Bubuk kopi yang diseduh dengan air panas menguarkan aroma khas di dalam pantry. Lorie mengangkat cangkir putih dengan ukiran bunga krisan kuning di atas meja dan mendekatkan benda itu ke hidungnya, menghidu wangi kopi sebanyak yang ia bisa.


Akhir-akhir ini Tuan Alex lebih sering lembur, bahkan bisa dibilang hampir tidak tidur sama sekali. Hal itu membuatnya mau tidak mau ikut begadang sampai pagi. Lagi pula, kadang Amber terbangun tengah malam dan minta ditemani.


Empat tahun terakhir ini benar-benar berat. Bukan hanya untuk Tuan Alex, tapi juga bagi Lorie. Kinara sudah seperti saudaranya sendiri, ada rasa kehilangan yang tak bisa ia ungkapkan ketika wanita itu pergi untuk selamanya. Apalagi dengan meninggalkan tiga orang anak yang masih membutuhkan kasih sayang orang tua. Hal itulah yang membuat Lorie hampir setiap hari berada di The Spring Mountains, meskipun beberapa kali Alex menyuruhnya untuk pulang dan beristirahat.


Ia hidup sebatang kara. Tidak ada yang menunggunya di apartemennya yang sepi, jadi menyibukkan diri bersama tiga orang anak Tuan Alex justru memberi penghiburan tersendiri baginya.


“Kenapa belum tidur?”


Lorie mendongak ketika mendengar suara berat yang sedikit serak dari balik tubuhnya. Ia menoleh dengan cepat dan mendapati tuannya berjalan masuk dengan penampilan yang sedikit berantakan.


Lorie mendesah pelan, Tuan Alex terlihat sedikit lebih kurus, penampilannya sangat jauh berbeda jika dibandingkan saat masih ada Kinara Lee.


“Tuan, Anda mau kopi?” tawar Lorie seraya membetulkan posisi berdirinya.


“Aku akan membuatnya sendiri,” jawab Alex seraya berjalan menuju kabinet gantung dan mengeluarkan butiran kopi yang sudah dipanggang.


Ia memasukkan biji-biji cokelat kehitaman itu ke dalam mesin penggiling, menuang hasil gilingan ke atas kertas penyaring dan menyiramnya dengan air panas.


Lagi-lagi Lorie mendesah pelan. Akhir-akhir ini Tuan Muda Smith lebih menyukai kopi pahit. Lorie tersenyum getir, jika saja Amanda Shu masih hidup setelah melompat dari puncak gedung, ia sendiri yang akan mematahkan kaki dan tangan wanita sun*al itu satu per satu, menikmati jerit kesakitannya ketika ia merobek wajah yang menjijikkan itu dengan belati.


Sayangnya, perempuan sial itu langsung mati di tempat. Tempurung kepalanya hancur, sedikit cairan otaknya berceceran, tapi itu tidak membuat Lorie puas. Kematian dengan cara itu terlalu cepat, rasa sakit yang jal*ng itu rasakan tidak setimpal dengan penderitaan yang dialami oleh Tuan Alex dan tiga orang anaknya.


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Alex ketika melihat anak buah terbaiknya itu sedang terpekur dan menatap lantai.


“T-tidak ada, Tuan,” jawab Lorie cepat. Mana mungkin ia menceritakan isi hatinya kepada Tuan Alex, hanya akan membuat pria itu semakin bersedih.


“Apa kamu kadang merindukannya, Lorie? Maksudku ... kalian lumayan dekat,” gumam Alex sambil menatap kopi di gelasnya seperti sedang menatap sebuah titik yang sangat jauh dan tak terjangkau.


Lorie menimbang sesaat mendengar pertanyaan Alex Smith. Harusnya ia berkata jujur bahwa ia juga sangat merindukan Kinara? Ikatan di antara mereka lebih dari sekadar pengawal dan majikan. Kinara Lee selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Ia merasa memiliki keluarga ketika bersama Kinara, seperti sedang berinteraksi dengan saudara perempuan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.


“Saya merindukannya hampir setiap hari, Tuan,” jawab Lorie pelan, akhirnya memutuskan untuk tidak berdusta kepada tuannya.


“Apalagi saat melihat anak-anak ... Amber sangat mirip dengannya ...,” lanjutnya lagi dengan suara yang semakin pelan.


Alex tersenyum pahit dan membalas, “Yah, sangat mirip sampai aku merasa sedang menyaksikan Kinara kecil bertumbuh dan berkembang dalam genggamanku. Tidak apa, setidaknya itu dapat mengobati rasa rinduku untuknya, membayar masa-masa ketika aku tidak mengenalinya ....”


Lorie ingin mengucapkan kata-kata penghiburan, tapi ia tahu itu tidak akan berguna sama sekali. Tuannya hanya membutuhnya seseorang yang mau mendengarnya bercerita, bukannya memberi saran klise yang bahkan ia sendiri tidak berani mempercayainya. Hidup tidak pernah adil. Yang kita harus lakukan adalah menghadapi dan menjalaninya, mau tidak mau ... suka tidak suka ....


“Anda harus bertahan sampai akhir, Tuan ... jangan sia-siakan pengorbanan Nyonya untuk melahirkan ketiga anak yang lucu itu,” ujar Lorie sambil berusaha untuk tersenyum meski yang terukir di wajahnya lebih mirip seringai kesakitan. Ia sendiri telah kehilangan cukup banyak orang terdekatnya ... Anne ... Ken ....


Tatapan Alex semakin kosong dan jauh, seolah ingin kembali ke masa lalu ketika semuanya masih baik-baik saja. Ketika ia terbangun dari tidur dan Kinara berada dalam pelukannya. Sekarang ... ia terlalu takut untuk tidur. Setiap kali ia membuka mata dan mendapati bahwa semuanya bukan sekadar mimpi buruk, rasanya seperti jantungnya ditusuk dan dikoyak dengan kasar hingga tak ada lagi yang tersisa dalam rongga dadanya. Itu benar-benar sangat menyiksa.


“Hum ... Lorie, aku berpikir, bagaimana kalau kamu mulai mempelajari manajemen perusahaan? Sepertinya Billy sekarang mulai kewalahan, apalagi Elizabeth sedang mengandung anak pertama mereka. Ke depannya, mungkin dia akan lebih sibuk lagi. Aku tidak ingin mempercayakan urusan ini kepada orang lain.”


Pengalihan topik pembicaraan yang tiba-tiba itu membuat Lorie tertegun sejenak. Manajemen perusahaan? Selama ini yang ia tahu adalah peluru dan senjata tajam. Bisakah ia memikul tanggung jawab itu?


“Jangan cemas, masih ada waktu sekitar tiga sampai empat tahun untuk belajar. Setelah anak-anak masuk sekolah dasar, sepertinya aku akan lebih fokus untuk mengurus mereka,” sambung Alex ketika tak kunjung mendapat tanggapan dari salah satu anak buah kepercayaannya itu.


“Tuan ... ini ....”


“Pikirkan baik-baik dulu. Kalau kamu merasa keberatan, aku akan mencari orang lain.”


“Baik ....”


“Begitu saja, aku pergi memeriksa anak-anak dulu.”


“Ya. Jangan lupa untuk beristirahat, Tuan. Kalau Anda sakit, anak-anak pasti akan sedih.”


“Um. Terima kasih sudah menemaniku mengobrol.” Alex membawa cangkir kopinya dan berjalan keluar dari pantry.


Langkahnya yang gontai terlihat seperti daun kering yang diombang-ambingkan oleh angin musim gugur, kesepian dan menyedihkan.


Lorie memalingkan wajahnya, tidak tega melihat penampilan tuannya yang seperti itu. Pria yang begitu bersemangat dan penuh dengan saripati kehidupan berubah menjadi orang yang hampir tak dikenalinya lagi.


Namun, sekejap kemudian, pikirannya teralihkan oleh tawaran Alex tadi.


Mempelajari manajemen perusahaan ....


Haruskah ia mencobanya?


***