Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 102


Setelah pulang untuk mengobati luka dan membersihkan diri, Raymond segera kembali ke rumah sakit pada pukul sepuluh. Ia bersikeras untuk tetap tinggal di sana sepanjang hari. Bahkan kehadiran Billy dan Alex saat jam makan siang sama sekali tidak menganggunya. Ia hanya menegur kedua orang itu untuk basa-basi, lalu tetap duduk diam di sofa seperti sebuah pajangan.


Billy terlalu malas untuk meladeninya sehingga hanya menganggapnya seperti udara. Sementara Alex tidak berkomentar banyak. Baginya, selama Lorie tidak terganggu maka tidak masalah. Selain itu, mereka juga tidak bisa terus stand by di samping Lorie. Jadi sebenarnya kehadiran Raymond cukup membantu.


Hari berlalu dengan cepat. Awan sedikit mendung ketika menjelang sore. Raymond menurunkan tirai dan menyalakan lampu di kamar. Seorang dokter masuk bersama dua orang perawat tak lama kemudian. Pria tua itu memeriksa kondisi Lorie secara keseluruhan.


“Semuanya stabil. Fisiknya pulih dengan cepat. Infus sudah boleh dilepas, tapi belum boleh makan makanan yang keras dan terlalu pedas.”


Setelah ucapan itu terdengar, dua orang perawat yang datang bersama sang dokter segera melepaskan infus di tangan Lorie. Pergelangan tangan yang ditusuk jarum terlihat sedikit bengkak, tapi Lorie tidak terlalu memedulikannya. Selain merasa lega, ia tidak merasakan apa pun lagi. Setelah mengalami peristiwa yang membuatnya berada di antara hidup dan mati, sedikit rasa sakit akibat tusukan jarum sama sekali tidak berarti.


“Apakah ada hal lain yang Anda butuhkan, Nona?” tanya salah seorang perawat.



“Untuk sekarang tidak ada. Aku akan memanggil kalian kalau membutuhkan sesuatu,” jawab Lorie.


“Baik, Nona.” Kedua perawat itu membereskan selang dan tabung infus dengan cekatan, lalu menunggu di samping.


“Dokter, kapan saya bisa keluar dari rumah sakit?” tanya Lorie.


“Kalau kondisi Nona terus membaik, besok siang sudah bisa pulang. Semoga hasil visit besok sudah lebih baik.”


“Saya mengerti. Terima kasih, Dokter.”


“Tidak perlu sungkan, saya pergi dulu.”


Lorie tersenyum dan mengangguk kepada dokter itu. Ia sungguh merasa lega. Tadinya ia pikir harus menginap di rumah sakit selama satu minggu atau lebih. Sepertinya ia harus berterima kasih kepada Ana. Kalau bukan karena obat-obatan penyokong dari sahabatnya itu, mana mungkin ia bisa pulih dengan cepat.


Raymond yang sejak tadi berdiam diri dan duduk dengan tenang di sofa akhirnya melangkah masuk menghampiri Lorie.


“Kamu masih di sini?” tanya Lorie yang menatap Raymond dengan sedikit terkejut. Ia pikir pria itu sudah pergi ketika dokter masuk bersama perawat tadi.


“Sangat tidak senang melihatku?” Raymond balik bertanya. Ada seulas senyum di tipis di wajahnya. Mengetahui Lorie telah pulih dengan baik, hatinya pun sangat bahagia.


Lorie sedikit melunak. Ucapan Ana tadi pagi membuat sikapnya terhadap Raymond berubah. Sahabatnya itu benar, tidak peduli apa motif Raymond mendekatinya, mungkin ini adalah satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk mencoba. Akan tetapi, ia juga tidak mau mengakui perasaannya dengan mudah. Ia ingin melihat seberapa besar pengorbanan yang rela dilakukan oleh Raymond untuknya.



“Bukan begitu maksudku,” gumam Lorie. “Aku takut kamu menunda pekerjaan penting hanya untuk menemani aku di sini.”



“Memangnya apa yang bisa lebih penting dari menemanimu?” balas Raymond.


Alis Lorie menekuk. Pengganggu? Berkeliaran? Apakah maksudnya ... oh, Daniel?


Sesaat kemudian tawa yang lembut dan merdu bergema dalam ruangan. Jadi Raymond khawatir kalau ada Daniel di sekitarnya? Sungguh konyol sekaligus manis.


“Apanya yang lucu?” gerutu Raymond dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat jelek.


Lorie balik bertanya, “Kamu sedang cemburu?”


“Ya.”


“Kenapa?”


“Kenapa? Tentu saja karena aku menyukaimu. Bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu sebelumnya?”


Melihat ekspresi yang kekanak-kanakan itu, Lorie semakin ingin mengganggu Raymond.


“Tapi dia lebih dulu menyukai aku. Saat kamu masih bersama Alice, dia sudah menyukaiku, jadi dia lebih berhak cemburu dibanding kamu,” godanya sambil mengulum senyum.


Raymond kehabisan kata-kata. Ia menatap Lorie dengan tampang yang memelas. Ucapan itu benar. Seharusnya Daniel yang lebih berhak untuk cemburu, tapi ....


“Tapi kamu milikku. Sampai kapan pun, kamu adalah milikku,” ucap Raymond dengan penuh kesungguhan. “Siapa pun yang berusaha mendekatimu, aku akan menyingkirkan mereka tanpa pandang bulu.”


Lorie tercengang. Keberanian dari mana itu? Bisa-bisanya pria itu mengklaim dirinya sesuka hati.


Seolah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Lorie, Raymond menyentuh ujung hidungnya dengan canggung dan berkata, “Suka atau tidak, kamu sudah menjadi milikku sejak malam itu, jadi ... terima saja. Tidak ada kesempatan untuk melarikan diri lagi. Aku tidak mengizinkannya.”


“Kamu!” Wajah Lorie terasa panas. Padahal suhu dalam ruangan sangat sejuk dan dingin, tapi pipinya justru memerah sampai ke telinga.


Pria itu ... sejak kapan menjadi semakin pintar berbicara? Bahkan membahas malam itu dengan tidak tahu malu. Siapa yang sudah meminjamkan keberanian kepadanya?


“Sudah ... sudah ... jangan marah lagi, aku yang salah. Aku minta maaf ...,” bujuk Raymond dengan suara sangat lembut.


Ia melangkah maju untuk membantu Lorie berbaring, lalu memakaikan selimut untuk menutupi tubuh wanita itu.


“Kita bisa berdebat setelah kamu benar-benar pulih. Sekarang beristirahatlah. Aku akan menemanimu di sini.”


Lorie mendengkus dan menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Tidak mau memedulikan Raymond Dawson lagi.


Selain kesal, ia merasa sangat malu. Setiap kali membahas mengenai malam itu, rasanya jantungnya seperti menggila ... menggila sampai ia hampir lupa diri ....


***