Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 31


Setelah mendapat izin dari Alex untuk menemani Lorie, Raymond benar-benar tinggal di dalam kamar perawatan itu sepanjang waktu. Ia hanya pergi jika harus ke kamar mandi atau mencari makan. Para dokter dan perawat bahkan sampai hafal pukul berapa pria itu datang dan pukul berapa dia kembali ke apartemen yang disediakan oleh Alex Smith.


Kalau bukan karena sikapnya yang kooperatif, mungkin Alex Smith sudah membatalkan izinnya karena Raymond selalu berada di sana ketika ia datang berkunjung. Untungnya pria itu cukup tahu diri. Kadang dia keluar dari kamar pasien saat Alex dan Billy datang, kadang menemani mereka mengobrol sebentar dan membahas perkembangan kondisi Lorie.


“Kamu tahu, aku merasa seperti kakak laki-laki yang sedang mengawasi calon pacar adik perempuannya,” bisik Billy kepada Alex. Ia melirik ke arah Raymond yang sedang duduk di sisi ranjang Lorie sambil membaca buku.


Sudut bibir Alex terangkat sekilas. “Aku juga merasa seperti itu,” balasnya.


Billy cukup terkejut dengan respon Alex. Ia pikir pria itu akan memukul kepalanya atau mengatainya bodoh, alih-alih sepakat dengan pernyataannya barusan.


“Apa menurutmu mereka akan berkencan?” tanyanya lagi.


“Tidak. Raymond sudah bertunangan.”


“Oh. Lalu, mengapa ... astaga, apakah menurutmu mereka sudah tidur bersama?” bisik Billy dengan suara semakin lirih. Sedetik kemudian, suara pukulan yang cukup keras bergema dalam ruangan, membuat Raymond terkesiap dan menoleh ke arah mereka.


“Selamat sore, Tuan Alex, Tuan Billy,” sapanya seraya meletakkan buku di atas nakas dan menghampiri kedua pria itu.


“Sore,” balas Billy. Ia lalu mengerucutkan bibir ke arah Alex sambil mengusap bahunya yang baru saja dipukul.


Memangnya dirinya salah bicara? Laki-laki dan perempuan tidak mungkin sedekat itu tanpa ada hubungan apa pun. Kalau bukan kekasih, paling tidak karena sudah pernah tidur bersama. Dasar sahabatnya saja yang terlalu polos. Huh!


“Bagaimana keadaannya?” tanya Alex.



“Retak di rusuknya sudah membaik, juga tulang kering dan memar di organ dalam. Semuanya sudah hampir pulih, sekitar 90 persen. Itu semua berkat Dokter Ana. Dia benar-benar hebat. Aku ingin berguru kepadanya,” jawab Raymond sambil tersenyum lebar.


Perkembangan pemulihan Lorie sangat pesat hanya dalam jangka waktu 12 hari. Padahal dengan luka separah itu, setidaknya akan membutuhkan waktu minimal satu sampai dua bulan untuk pulih. Untungnya dengan kualifikasinya sebagai seorang dokter, ia diperbolehkan ikut memantau perkembangan Lorie setiap hari. Hal itu membuatnya sangat lega karena tidak perlu bertanya-tanya akan keadaan Lorie setiap saat.


“Bagus sekali. Sangat bagus ....” Billy ikut tersenyum puas sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.



“Apa kamu tidak lelah?” tanya Alex.



“Tidak. Sama sekali tidak lelah,” jawab Raymond.



“Apakah tunanganmu tidak keberatan?” Kali ini Billy yang bertanya.



Raymond tampak sungkan ketika menjawab, “Tidak, dia sangat pengertian. Jangan khawatir.”



“Benar-benar sangat pengertian,” balas Billy dengan sedikit nada sarkas di dalam ucapannya, membuat Raymond terlihat semakin sungkan.



“Mungkin dia akan menyusul ke sini kalau sudah senggang,” imbuh Raymond.



Mendengar ucapan itu, bukan hanya Billy, bahkan Alex pun mengangkat alisnya saat menatap Raymod.




“Ya. Kamar kami bersebelahan saat di hotel. Alice bertemu dengannya beberapa kali.”



“Oh ....” Raut wajah Billy tampak kecewa. Pupus sudah ... tebakannya soal mereka berdua tidur bersama sepertinya salah.



“Ah, kalau begitu ... silakan, Tuan. Kebetulan saya ingin keluar untuk membeli makan siang. Apakah Anda berdua ingin makan sesuatu juga?” tawar Raymond.



Billy melambaikan tangannya ke arah Raymond sambil berkata, “Tidak ... tidak ... kami sudah makan sebelum ke sini. Kamu pergilah.”



“Baik. Aku pergi dulu.” Raymond membungkuk untuk memberi salam sebelum berjalan keluar.



“Masih berpikir mereka tidur bersama?” sindir Alex setelah punggung Raymond tidak terlihat lagi.



Bibir Billy mengerucut. “Siapa yang tahu? Bisa saja dia menyelinap saat tunangannya—Aduh! Alex! Aku bisa gegar otak kalau terus kamu pukuli!”



“Biar otak kotormu itu kembali ke fungsi normal,” balas Alex seraya berjalan ke sisi ranjang Lorie.



“Lalu kenapa dia begitu bersikeras untuk menunggu hingga Lorie sadar? Itu sedikit tidak wajar kalau tidak memiliki hubungan apa pun, apa lagi mereka baru saja bertemu kembali setelah ... *um*, hampir delapan tahun. Apakah menurutmu itu masuk akal?”



“Kenapa sangat sibuk mengurusi urusan orang lain?” balas Alex seraya melirik tajam. “Mereka bukan anak kecil lagi, biarkan mereka menyelesaikannya sendiri ketika Lorie sadar. Selama dia tidak menyakiti Lorie, maka jaga mulutmu itu.”



Billy mengusap bekas jitakan Laex di kepalanya dengan wajah cemberut.



“Aku bukan ingin mengurusi urusan orang lain, hanya penasaran saja,” gerutunya pelan.



Apa bedanya?


Alex mendengkus dan tidak mau memedulikan sahabatnya lagi. Ia memanggil dokter yang bertugas jaga saat itu dan meminta laporan perkembangan Lorie secara detail. Setelah mengonfirmasi bahwa ucapan dokter kurang lebih sama dengan apa yang disampaikan oleh Raymond tadi, Alex mengajak Billy untuk kembali ke kantor.


***