Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
43


Tara begitu terkejut ketika melihat sang kakak dan ibunya sedang berpelukan di ruang tamu tepat di atas sofa. Wanita itu begitu terkejut dan tiba-tiba saja hati Tara menjadi merasa tidak karuan sebab ia sama sekali tidak melihat keberadaan pembelai laki-lakinya. "Ma, apa yang telah terjadi? Dan di mana Dion? Kenapa aku tidak melihatnya di sini?" tanya Tara dengan deretan kalimat yang terlontar dari mulut wanita itu. Namun, pada detik berikutnya Tara bisa mengerti apa yang sedang terjadi saat ini tatkala ia melihat wajah Arzan yang tidak terlihat bersahabat.


"Tara, Nak Dion, membatalkan pernikahanya," jawab Yana dengan air mata yang semakin mengalir deras. Dan terlihat Yana saat ini berusaha menenangkan Tika, yang juga sedang menangis histeris. "Dion juga kabur membawa mobil kakak kamu," lanjut Yana.


Tubuh Tara langsung saja lemas, seolah-olah wanita itu tidak mampu memompa tubuhnya sendiri. Di saat ia mendengar jawaban sang ibu. Untung saja Gio dengan sigap memeluk pinggang sang istri sehingga Tara tidak jatuh luruh ke lantai. Karena wanita itu merasa benar-benar tidak memiliki tenaga. Sebab apa yang ia takutkan akhirnya terjadi juga dimana sang kakak di tinggalkan oleh Dion setelah laki-laki itu mendapatkan apa yang diinginkan.


"Ceraikan dia Gio, dan segeralah menikah denganku," kata Tika lirih sehingga membuat semua yang ada di sana begitu kaget termasuk Tara yang semakin merasa tungkai kakinya lemas. "Ayo Gio! Aku tidak mau menanggung malu! Cerikan Tara dan menikahlah denganku. Karena aku tahu kamu mencintaiku dan menginginkan aku bukan Tata." Di sela-sela isak tangisnya Tika masih sempat-sempatnya mengatakan itu semua. "Mengalah lah demi Kakakmu ini Tara, hanya untuk kali ini saja, karena aku ... karena aku sedang hamil ...." Tika langsung saja turun dari atas sofa dan langsung bersujud di kaki sang ibu.


Membuat siapa saja yang mendengar itu semua merasa semakin shock, ditambah sekarang Arzan terlihat melangkahkan kakinya dengan sangat lebar dan sorot mata yang sangat tajam. Seolah-olah laki-laki itu sudah siap akan menelan seseorang secara hidup-hidup.


"Apa yang kamu katakan Avantika?!" Suara Arzan terdengar menggema di ruang tamu itu. Seketika suhu di ruangan itu mendadak berubah, gara-gara suara melengking Arzan. Karena jika laki-laki itu sudah marah dan murka maka tidak akan ada yang bisa lolos dari amukannya.


Sedangkan Tara sudah benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ataupun berkata-kata. Karena Tara merasa bahwa sang kakak sangat keterlaluan bisa hamil. Dan Tara berpikir bahwa Dion pasti sering kali melakukan itu kepada Tika sehingga sang kakak sampai bisa hamil seperti saat ini.


"Dasar anak kurang ajar! Bayi siapa yang ada di dalam perutmu, hah?!" tanya Arzan yang masih saja menyeret Tika. "Kamu wanita yang berkarir tapi kenapa kamu malah melakukan ini semua? Apa dengan cara begini kamu membalas Mama dan Papamu? Sia-sia Papa menyekolahkan kamu sampai perguruan tinggi. Tapi kelakuan kamu seperti wanita malam!"


Tika bukannya menjawab ia malah berusaha melarikan diri karena ia mengingat dulu Arzan penah mau melemparnya dari lantai dua gara-gara ia hanya ketahuan bolos. Ketika ia masih duduk di bangku SMP. "Pa, maafkan aku, aku mohon jangan menyakitiku dan calon cucu Papa."


"Katakan siapa ayah dari bayi kamu itu, Tika? Sebelum iblis dalam jiwa Papa ini bangkit!" Arzan tidak peduli sudah berapa kali Tika memintanya untuk melepaskan gadis yang sudah tidak pe rawan itu. "Katakan!" bentak Arzan yang tidak suka mendengar hanya ada suara isak tangis sang putri.


"Papa sudah tahu jawabannya. Jadi, jangan terus-terusan menanyakan itu padaku." Tika malah menjawab sang ayah dengan kalimat itu. Membuat Arzan semakin merasa sangat murka.