Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
27


Pada saat itu juga suara tawa di ruang tamu itu mulai terdengar hanya karena kalimat Gio yang mengatakan kalau dirinya kuat.


"Sudahlah, Dad, daripada obrolan yang tidak berfaedah ini berlanjut lebih baik Gio pergi saja." Gio baru saja akan berdiri tapi Malvin malah menarik tangan Gio, karena posisi duduk Gio saat ini berada di tengah-tengah kedua orang tuanya itu. "Ada apa lagi, Dad? Saat ini aku ingin pergi menemui Tara, karena aku sudah tahu kalau Mommy tidak mengalami luka yang cukup serius karena perbuatan Sera," kata Gio yang kembali duduk tenang. "Sekarang biarkan aku pergi."


"Daddy akan meracikkan kamu jamu itu, nanti malam kamu datang dan ambil," ucap Malvin yang tidak mempedulikan raut wajah putranya itu. "Supaya kamu dan Tara cepat memiliki anak, bagaimana Gio, apa kamu sekarang mulai tertarik?"


Mendengar pertanyaan itu Gio malah membatin, "Apa aku terima saja tawaran Daddy, untuk dibuatkan jamu itu? Atau malah sebaiknya jangan?" Gio bertanya-tanya di dalam benaknya saat ini. "Kalau aku terima, itu bisa mempercepat Tara hamil," sambungnya membatin.


Sedangkan Lydia yang mendengar itu hanya diam saja, karena wanita itu tidak mau ikut campur dalam pembahasan masalah seperti ini. Sebab ia tidak mau kalau sampai Malvin, suaminya itu curiga tentang rencananya dan Gio.


"Gio, bagaimana?" tanya Malvin sekali lagi sehingga membuat Lydia dan Gio sama-sama terlonjak kaget. Sebab kedua anak dan ibu itu saat ini sedang melamun.


"Nanti aku pikirkan Dad, karena aku perlu mendiskusikan ini dulu dengan Tara," jawab Gio yang kali ini berhasil berdiri tanpa di halangi oleh Malvin. "Kalau aku dan Tara sudah mendiskusikan ini, dan Tara setuju, maka Daddy langsung bisa meracik jamu itu." Gio terlihat sudah mulai melangkahkan kakinya. "Aku akan menghubungi Daddy secepatnya, kalau begitu aku pamit dulu Mom, Dad." Sesaat setelah mengatakan itu Gio langsung pergi.


"Mas, kamu ini apa-apaan sih, menyuruh Gio pakai jamu itu." Lydia mengatakan itu setelah Gio pergi. "Aku saja tidak sanggup melayanimu, Mas. Bagaimana dengan Tara coba? Yang akan melayani Gio. Mungkin anak itu tidak akan sanggup."


"Sudah kamu diam saja Sayang, karena aku yakin Tara akan mampu menyeimbangi permainan Gio," balas Malvin, yang berusaha meyakinkan Lydia. "Kamu tenang saja, ini akan membuat putra kita sekali tembak akan langsung membuat Tara hamil," lanjut Malvin.


"Ish, Mas ini. Pokoknya jangan kasih Gio jamu itu. Bisa-bisa dia tidak mau bekerja karena meminta Tara untuk terus-terusan melayaninya," ucap Lydia yang malah tidak setuju dengan ide gila Malvin yang akan memberikan Gio jamu kuat. "Apa Mas lupa? Bagaimana dulu aku hampir saja pingsan karena Mas terus-terusan minum jamu itu."


"Tara akan sanggup, Sayang. Kamu seharusnya senang karena Gio akan memberikan kita cucu. Maka dari itu, biarkan aku meracik jamu kuat itu, supaya bayi yang lucu-lucu akan cepat tumbuh di rahim Tara."


"Hm, terserah kamu saja Mas, yang penting aku sudah memberitahumu." Pada akhirnya Lydia memilih untuk mengalah karena ia tahu, bahwa ia tidak akan bisa menang melawan Malvin. "Aku masuk ke kamar dulu mau beristirahat."


"Aku ikut, karena membahas jamu kuat membuat adik kecilku di bawah sini. Meronta-ronta," seloroh Malvin. Sehingga membuat Lydia memutar bola mata.


"Sayang, masih ada cara lain, ayolah!" seru Malvin.


Lydia menoleh saat wanita itu sudah sampai di anak tangga nomor empat. "Ingat umur Mas, jangan terus-terusan minta jatah."


"Sayang ...," panggil Malvin lembut yang kemudian ikut mengusul sang istri.


***


Gio menatap Tara saat laki-laki itu baru saja datang di rumah sakit.


"Ngapain kamu melihatku seperti itu? Apa aku terlihat aneh saat leherku di perpan seperti ini?" tanya Tara pada sang suami.


Gio yang di tanya menggeleng kuat. "Kamu justru terlihat sangat cantik," jawab Gio tanpa malu-malu.


Tara mendesis, "Jangan kesini lagi Gio, kalau kamu hanya ingin berkata gombal seperti ini karena, aku yang mendengarnya merasa sangat malu."


"Buat apa kamu malu? Bukankah kamu harus senang kalau aku ini mengakuimu sangat cantik?"


"Aku tidak malu, dan sebaiknya kamu diam saja. Gio, jangan sampai mood-ku hancur. Hanya gara-gara ini."


"Baiklah, kamu jelek!" ucap Gio sehingga membuat Tara menatapnya dengan sinis.


"Dasar menyebalkan! Sekarang lebih baik kamu jangan datang! Sekarang enyahlah dari hadapanku!" ketus Tara. "Sana pergi saja," ucap Tara yang benar-benar menyuruh suaminya pergi.