
"Yang telah terjadi apa maksud Anda Nona?" Alexa malah bertanya balik pada Tara.
"Tentang semuanya, mulai dari Bibi datang ke rumah itu hingga sekarang. Apa Bibi Alexa masih saja belum paham?" Tara sekarang terlihat mengambil buah mangga yang tadi dikupas oleh Alexa. "Jika Bibi Alexa mau berteman denganku maka, tolong ceritakan aku tentang silsilah yang ada pada keluarga itu, mulai dari Gio hingga seterusnya," ucap Tara dengan mulut yang penuh. Karena ia memakan buah mangga langsung hap. "Tidak usah kebanyakan mikir, disini cuma ada kita berdua, ayolah ceritakan saja aku. Supaya nanti kalau aku mati tidak jadi penasaran," seloroh Tara yang memang paling bisa bercanda seperti saat ini.
"Tuan muda Gio, adalah laki-laki yang sangat baik."
"Itu saja?"
"Lalu apalagi yang akan saya ceritakan, kepada Anda Nona, tentang Tuan muda Gio?"
"Tantang pacarnya, karena selama ini kamu tahu sendiri bagaimana dia menyembunyikan identitasnya yang asli. Satu lagi sudah berapa banyak mantan laki-laki itu?" Entah mengapa Tara malah tertarik ingin tahu itu. Karena gadis itu sangat mudah penasaran dalam hal apapun . "Hei, kenapa Bi Alexa diam saja? Ayo jawab pertanyaanku ini."
"Baik Nona, begini Tuan muda sama sekali tidak pernah mau berpacaran dengan wanita manapun. Meskipun para gadis dan wanita sangat mengidolakannya tapi sayang, begitu banyak wanita dan gadis cantik itu tidak ada satupun yang menarik di hati Tuan muda Gio, oleh karena itu Tuan muda sama sekali tidak memiliki mantan ataupun pacar. Jadi, Adalah gadis yang sangat beruntung itu Nona. Karena Anda telah mampu memenangkan hati Tuan muda." Alexa mengatakan ini memang benar apa adanya, bahwa Gio sama sekali tidak pernah berpacaran. Apalagi memiliki mantan. "Apa ada lagi yang ingin Anda tanyakan lagi tentang Tuan muda, Nona?"
"Jangan-jangan Bi Alexa menipuku saat ini. Karena tidak mungkin wajah me sum seperti Gio tidak memiliki pacar ataupun mantan." Tara menaruh tangannya di dagunya, sebab gadis itu saat ini terlihat seperti sedang berpikir keras. "Kok, aku tidak percaya dengan apa yang Bi Alexa katakan itu ya."
"Terserah Anda saja Nona, mau percaya atau tidak yang penting saya sudah mengatakan yang sejujurnya." Alexa lalu terlihat berdiri. "Kalau Anda masih tidak percaya dengan saya, Anda bisa tanyakan langsung pada Gavin. Karena Gavin adalah asisten, sekretaris, dan tangan kanan Tuan muda Gio. Sehingga dia juga pasti tahu tentang apa saja rahasia Tuan muda."
"Bibi dan Gavin pasti sama saja."
"No, Bibi wanita dan Gavin laki-laki. Dan bagaimana bisa Nona berpikiran kami berdua sama?"
"Sepertinya memori pada otak Bibi harus segera di reset, biar tidak rusak karena virus," jawab Tara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebab ia jadi tahu kalau Gavin tingkah lakunya sama persis seperti Alexa. "Aku memang telah dipertemukan dengan orang-orang aneh, Ya Tuhan kenapa begini sekali perjalanan hidupku?" tanya Tara di dalam benaknya.
"Saya permisi dulu Nona Tara, karena sepertinya Tuan muda Gio sudah kembali." Sesaat setelah mengatakan itu Alexa langsung saja keluar tanpa mendengar balasan Tara.
*
Benar saja yang masuk itu adalah Gio, laki-laki itu terlihat membawa paper bag di tangannya. "Makan siang dulu, aku akan menyuapkanmu," kata Gio sambil membuka paper bag yang ternyata isinya adalah bubur ayam. "Ayo makan dulu setelah itu minum obat," lanjut Gio.
"Aku tidak lapar, kau saja yang memakannya," tolak Tara sambil memalingkan wajah. Sebab ia tidak berani menatap Gio karena ada kata-kata yang mengatakan tentang, cinta itu datang dari mata yang turun ke hati. Oleh sebab itu, bahwa itu yang di takutkan oleh gadis itu saat ini. "Kau saja yang makan bubur Gio, karena saat ini aku pengen makan yang pedas-pedas dan berkuah." Suara Tara menelan salivanya bisa didengar oleh Gio. "Aku menyebutnya saja sudah ngeces, bagaimana kalau aku melihatnya sekarang di depan mataku sendiri, bisa-bisa satu atau dua mangkok langsung habis. Uh! Lezatnya." Tara terlihat mengusap bibirnya sendiri.
"Untuk saat ini, buang pikiranmu jauh-jauh Tara, karena dokter tidak memberikanmu makan sembarangan kecuali bubur ini." Gio membuat Tara menatapnya langsung. "Iya, Tara. Untuk saat ini kamu benar-benar harus memakan makanan dari rumah sakit ini dulu, aku berharap semoga kamu mengerti Tara."
"Bawa aku pulang," kata Tara tiba-tiba. "Gio, bawa saja aku pulang karena aku sudah tidak apa-apa. Aku sudah sehat."
"Lain kali, jangan pakai pisau pengupas buah, besok-besok pakai saja ger gaji. Supaya hidupmu cepat berakhir, dan kamu juga bisa pakai pisau pem otong daging," celetus Gio tanpa rem.
"Oh, jadi kau mau menjadi duda, begitu?"
"Aku masih perjaka, meskipun aku sudah menikah denganmu. Karena aku dan kamu tidak pernah melakukan itu. Jadi, aku tetap akan menjadi bujang meskipun aku dan kamu bercerai," jawab Gio santai.
"Aku akan melahirkan anak untukmu," ucapan Tara setak saja membuat Gio kaget karena Tara tiba-tiba saja mengalihkan pembicaraan dan malah mengatakan itu kepada sang suami.
"Saat ini kamu sedang bercanda apa serius?" tanya Gio langsung sambil menatap bola mata indah Tara, si gadis yang keras kepala. "Tara, jawab aku. Apa kamu serius?"
"Kapan kita akan mulai melakukannya?" tanya Tara yang malah mengabaikan pertanyaan Gio. "Kapan kita akan mulai?" tanya Tara sekali lagi.
Gio terdiam karena ia tidak menyangka bahwa Tara akan setuju memberinya anak. "Jika kamu serius, maka setelah kamu sembuh kita akan mulai lembur, agar bayi itu cepat hadir di rahimmu," jawab Gio, yang kini juga mulai terlihat serius.