
Matahari bersinar dengan sangat cerah hari ini, tidak seperti biasa yang selalu saja mendung tatkala pagi menjelang. Membuat Tara yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke pengadilan merasa kalau alam semesta ternyata mendukungnya untuk berpisah dari Gio, membuat wanita itu beberapa kali menghela nafas dan mengeluarkannya melalui mulutnya dengan sangat kasar. Dan rupanya Tara memilih untuk berpisah dengan Gio, karena baginya hanya dirinya saja yang mencintai laki-laki itu sedangkan ia berpikir kalau Gio selama 10 bulan ini hanya bisa mempermainkan perasaannya saja membuat Tara membulatkan tekadnya.
"Semoga ini yang terbaik, sebab aku tidak mau nanti rasa cintaku ini semakin dalam pada Gio," gumam Tara pelan sambil menutupi lingkaran hitam di bawah kantung matanya, karena tadi malam wanita itu sama sekali tidak bisa tidur. Sebab pikiran gadis itu hanya memikirkan tentang keputusan yang akan ia ambil. Dan terbukti pagi ini Tara malah memilih untuk berpisah saja. "Maaf Gio, aku tidak bisa bertahan di saat cintaku bertepuk sebelah tangan. Karena kodratnya wanita itu di kejar-kejar bukan malah mengejar," lanjut Tika yang sekarang terlihat mengoles bibirnya yang sudah berwarna pink muda dengan lipbalm. Supaya bibir tipis gadis itu tidak terlihat kering dan tidak lupa juga Tara menambahkan blason di pipi kiri dan kanannya dengan tipis-tipis.
"Huh, mau pergi ke pengadilan saja pakai acara dandan. Kamu itu mau ke pengadilan bukan mau pergi ke acara kondangan!" gerutu Tika yang sedang berdekap tangan. "Cepetan, tuh Mama sama Papa sudah menunggu kamu," ujar Tika yang menyuruh sang adik lebih cepat. "Cie, sebentar lagi akan ada yang jadi jamu nih alias janda muda," sambung Tika yang sengaja ingin membuat mood sang adik menjadi tidak karuan untuk pagi yang sangat cerah ini. Secerah hati Tika yang tahu kalau Tara pada akhirnya mau pergi ke pengadilan.
"Kakak bisa kalau masuk ke kamar aku itu, lain kali ketuk pintu atau bisa bilang permisi dulu, itu sudah cukup bagiku. Dan jangan malah seperti ini terus karena aku tidak suka, Kak," ucap Tara yang menyuruh Tika jangan asal main masuk dan nyelonong begitu saja kedalam kamarnya. "Ingat lain kali jangan seperti ini lagi," kata Tara yang terlihat berdiri. "Doakan yang terbaik untuk adik, Kakak ini semoga semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada kendala sedikitpun." Meski Tika mengatakan kalimat yang membuat Tara sakit hati. Namun, emosi Tara sama sekali tidak terpancing dengan sang kakak. Sebab wanita itu berpikir bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk adu mulut dengan Tika. "Aku doakan semoga, hal seperti ini tidak terjadi pada Kakak, karena aku tahu Kakak tidak akan sekuat dan setegar aku."
Tara terlihat seperti orang yang sedang berperan sebagai wanita yang buta dan tuli sehingga ia keluar dari dalam kamarnya sendiri tanpa melihat serta bersuara lagi menimpali sang kakak. karena bagi Tara meladeni orang seperti Tika sama artinya dengan membuang-buang waktunya yang sangat berharga.
"Ish! Dasar Adik durhaka!" geram Tika karena ia berharap kalau tadi Tara seharusnya akan memarahinya, tapi nyatanya Tara memilih untuk cuek bebek saja. "Awas kamu Tara," gerutu Tika. Ketika ia melihat punggung Tara yang mulai menjauh dari kamar itu. "Pokoknya kamu tidak boleh bahagia Tara, sebelum Kakak kamu ini yang harus merasakan kebahagian itu terlebih dahulu. Karena jujur saja aku merasa iri melihatmu merasa bahagia sedangkan aku, sama sekali tidak pernah merasakan yang namanya kebahagian itu," sambung Tika, sambil mengangkat sedikit sudut bibirnya.