Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 118: Bersekutu


Di sebuah cafe yang terletak di sudut kota, Amanda Shu mengaduk minuman dalam gelasnya dengan gugup. Ia mengenakan kaos V-neck putih polos dan sebuah celana jeans biru dongker. Tak ada lagi kesan elegan dan mewah yang tersisa dari penampilannya. Setelah Jericho mendekam di penjara, seluruh saham The Mag’s Company merosot tajam, bahkan bisa dibilang tidak memiliki nilai yang cukup berarti lagi. Semua kerja keras ayahnya hancur hanya dalam satu hari.


Kemudian Alex muncul dan membabat habis semuanya, tanpa meninggalkan sisa sedikit pun. Kini, bahkan sekedar untuk membeli segelas hot capuccino pun ia harus memikirkannya berulang kali. Jika bukan karena Jessica sendiri yang menghubunginya, ia tidak akan mau muncul di tempat umum seperti ini, apalagi harus mengeluarkan sisa tabungannya untuk membeli minuman dan menunggu wanita itu di sini.


Amanda melihat ponselnya dengan gelisah. Sudah lewat setengah jam dari waktu yang disepakati oleh mereka berdua, tetapi Jessica belum juga datang.


“Kenapa dia lama sekali?” gerutu Amanda sambil menoleh ke kanan dan kiri, berharap bisa menemukan siluet Jessica di antara orang yang lalu lalang. Namun nyatanya, sosok yang ia tunggu masih belum juga terlihat.


Jangan tanya bagaimana ia bisa mengenal wanita itu. Ia pernah melihat foto Jessica satu kali ketika berkunjung ke kediaman keluarga Smith. Waktu itu nyonya Beatrice menunjukkan album foto lama milik Alex, di sanalah ia melihat foto Alex bersama Jessica sejak kecil hingga mereka beranjak dewasa. Oleh karena itulah Amanda langsung mengenali wanita itu ketika berpapasan di kantor Alex beberapa hari lalu. Untunglah ia memutuskan untuk menunggu hingga Jessica dan Alex berpisah di kedai teh, kemudian menghampiri wanita itu dan memperkenalkan diri. Beruntung pula Jessica menyambutnya dengan tangan terbuka, meski diiringi tatapan mencemooh dan sedikit merendahkan. Tidak masalah, ia sudah mulai terbiasa dengan tatapan seperti itu sejak kehidupan nyata hancur berantakan.


Dulu, ketika ia masih berusaha mendekati Alex, pria itu selalu mengungkit mengenai Jessica, bahwa dirinya sangat tidak sebanding dengan mantan kekasihnya yang anggun dan menawan itu. Akan tetapi, lihatlah sekarang, siapa yang dinikahi oleh pria itu? Hanya seorang pelayan rendahan! Memang ia salah karena telah meninggalkan Alex ketika pria itu lumpuh, tapi bukankah itu adalah hal yang wajar? Semua orang berhak mencari kebahagiaan mereka bukan? Seharusnya pria itu merasa cukup bersyukur karena ia bersedia kembali padanya, bukannya malah menyuruh bodyguard untuk menyeretnya keluar dari kantor seperti seorang pencuri.


“Maaf membuatmu menunggu,” ujar Jessica seraya duduk di depan Amanda, “Ada hal yang harus kuselesaikan sebelum ke sini.”


Amanda hampir terlonjak ketika mendengar suara merdu dari hadapannya. Ia mendongak dan menyadari siapa yang baru saja berbicara dengannya.


Secara otomatis, Amanda memberikan senyum terbaiknya dan berkata, “Tidak apa-apa, aku sedang ada waktu luang.”


Ya. Waktunya kini sangat luang sampai-sampai ia tidak tahu harus melakukan apa. Semua kenalan dan teman-teman sosialitanya mendadak menghilang begitu saja ketika tahu kalau ia dan keluarganya jatuh bangkrut. Tidak ada satu orang pun yang bersedia menolong, mereka terlalu takut pada Alex. Ketika Amanda menyebut nama mantan tunangannya saja, orang-orang di sekitarnya langsung menyingkir dan tidak mau ikut campur.


Jessica membalas senyuman Amanda. Wanita di depannya itu benar-benar terlihat sangat menyedihkan. Wajahnya yang putih mulai terlihat kusam dan tak terawat. Semua pakaian dan benda bermerk seakan menguap di udara, digantikan oleh baju dan tas yang sepertinya merupakan barang bekas. Oh, tentu saja ia mengetahui semua perubahan itu karena ia selalu mengawasi siapa pun yang berhasil mendekati Alex selama ia "menghilang".


Kalau bukan karena Billy yang mengancam akan membongkar semuanya, akulah yang sekarang berada di sisi Alex, gerutu Jessica dalam hati. Sekarang, karena ia tidak bisa memiliki pria itu, maka jangan harap wanita lain bisa memilikinya!


“Bagaimana kehidupanmu?” tanya Jessica setelah memesan segelas strawberry smoothie.


“Seperti yang kamu lihat,” jawab Amanda sambil tersenyum masam. Dari sikap dan gerak-geriknya saja, ia sudah bisa menebak bahwa Jessica tidak sesempurna yang diceritakan oleh Alex. Kalau bukan karena ingin membalas dendam, ia tidak sudi berada satu ruangan dengan wanita culas di hadapannya ini.


“Alex menghancurkan semuanya?” Jessica sengaja menyelipkan sedikit nada ironi dalam pertanyaannya, terlihat seakan ia sedang bersimpati, tetapi nyatanya hanya ingin mengejek dengan sangat halus.


Amanda menahan semua kekesalannya dalam hati dan menjawab, “Kurang lebih seperti itu. Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”


“Ah, mengenai hal itu ... aku punya penawaran yang sangat bagus untukmu. Aku akan menyiapkan semuanya, kamu hanya perlu mengatur agar semuanya berjalan sesuai rencana,” kata Jessica sambil menyesap minumannya yang baru saja datang.


“Dan, apa keuntungannya untukku?” tanya Amanda to the point. Ia bukan pegawai dari Dinas Sosial yang melakukan sesuatu secara cuma-cuma dan tidak mendapat imbalan apa pun. Apalagi saat ini, satu dollar pun sangat berarti untuknya.


Satu alis Jessica terangkat tinggi ketika seulas senyum licik muncul di wajahnya. Ia membuka tas Channel keluaran terbaru miliknya dan mengambil selembar cek dari dalam sana. Ia meletakkan kertas yang masih kosong itu dan mendorongnya dengan sangat perlahan ke arah Amanda.


“Isilah dengan berapa pun angka yang kamu suka,” ujar Jessica kemudian berpangku tangan seperti seorang puteri bangsawan.


Mata Amanda terbelalak hingga hampir melomat keluar dari rongganya yang sudah mulai cekung akibat kurang tidur dan beristirahat. Ia menatap Jessica dan lembaran cek di hadapannya bergantian. Setelah yakin wanita di depannya tidak sedang bercanda, Amanda mengambil harta karun itu dan menyimpannya dalam tas kecil miliknya.


“Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya.


“Baik,” kata Amanda. Matanya bersinar terang ketika membayangkan nominal yang akan ia tulis pada kertas dalam tasnya.


“Tunggu. Bagaiamana aku tahu kamu tidak akan mengkhianatiku atau tidak sedang menjebakku?” tanyanya ketika tiba-tiba sadar bahwa wanita di hadapannya sama liciknya dengan dirinya.


“Oh, Honey ... kita berdua sama-sama menginginkan kehancuran pria sombong itu, bukan? Apakah itu tidak cukup kuat untuk dijadikan alasan bahwa aku tidak sedang membohongimu?” balas Jessica. Ia kembali membuka tasnya dan mengambil sebuah amplop cokelat yang cukup tebal. “Ini. Gunakan untuk membeli kebutuhanmu sementara waktu.”


Amanda tertegun menatap amplop yang disodorokan padanya. Ia bisa menebak isinya, pasti tidak kurang dari seribu dollar. Wanita itu menelan ludah dan menatap Jessica dengan sorot tidak percaya.


Bukankah mereka dulunya saling mencintai? Bagaiman bisa berakhir seperti ini?


“Jangan terlalu banyak berpikir, Honey. Ambil saja uang itu dan belilah apa pun yang kamu butuhkan saat ini. Ingat, kamu akan mendapatkan lebih banyak lagi ketika berhasil menjalankan tugas yang kuberikan padamu nanti.”


“Baik,” ujar Amanda seraya menggenggam amplop cokelat di tangannya erat-erat.


“Aku akan menghubungimu lagi nanti. Pastikan ponselmu tetap aktif,” pesan Jessica sebelum bangkit dan berjalan menjauh, meninggalkan minumannya yang masih tersisa setengah gelas.


Amanda membuka ujung amplop dan mengintip isinya dengan penuh rasa penasaran. Matanya berbinar melihat banyaknya lembaran uang di dalam sana. Kalau semua rencana ini berjalan baik. Mungkinkah ia bisa mendapatkan kehidupannya yang dulu lagi? Glamour dan serba berkecukupan.


Apa pun motivasi Jessica melakukan semua ini, ia tidak peduli. Selama ia mendapat imbalan yang sesuai, ia akan melakukan apa saja, tanpa kecuali. Apalagi jika yang ia lakukan nanti berhasil menghancurkan Alex, bukankah itu adalah sebuah kemujuran? Ia dibayar untuk melakukan sesuatu yang dapat membalaskan dendamnya. Benar-benar sangat bagus.


Sangat bagus ....


***


“Bagaimana keadaannya?” tanya dokter Ana pada dokter James yang sedang memantau layar monitor dengan wajah serius.


“Semuanya normal. Sepertinya pria itu tidak menyadari bahwa kita baru saja menempelkan sesuatu pada chip di kepalanya,” jawab dokter James sembari mengetik beberapa rangkaian angka dan huruf di keypad.


Rentetan angka segera muncul di layar, terus bergerak hingga akhirnya kombinasi angka yang tepat berhenti di tengah layar. Dokter James menekan angka-angka tersebut di monitor kecil yang berfungsi untuk mengaktifkan virus buatannya.


“Mari berharap agar percobaan ini berhasil,” ujar dokter Ana sambil mengusap wajahnya yang tampak lelah. Setelah melakukan operasi untuk menempelkan virtual virus ke dalam chip yang menempel di kepala Billy, ia langsung meminta para pengawal Alex untuk mengantar kembali pria itu ke rumahnya sebelum siuman.


“Ya. Mari berharap untuk yang terbaik,” sahut dokter James setelah melihat virusnya mulai aktif dan menyerang firewall dalam chip. Ini akan memakan waktu yang cukup lama, tapi semoga saja hasil akhirnya sesuai dengan yang mereka harapkan.


Jika benda itu bekerja seperti seharusnya, maka memori yang dipindai dari kepala Billy dapat mereka kendalikan dari sini. Informasi apa yang tidak boleh keluar, tidak akan dapat disadap dari memorinya.


Semoga pihak lawan tidak keburu menyadarinya, harap dokter Ana dalam hati.


Ia tidak dapat membayangkan jika Billy tertangkap dan para penjahat itu tahu mereka sedang berusaha mengakali sistemnya. Nyawa Billy benar-benar dipertaruhkan dalam hal ini, jadi ia meminta dokter James agar merancang virusnya sealami mungkin, menggerogoti sistem dalam chip dengan sangat perlahan sehingga ketika para penjahat menyadarinya, itu sudah sangat terlambat bagi mereka untuk bergerak.


***