
“Kapan kita akan kembali ke Italia? Orang tuaku terus menanyakan kapan kamu akan datang bersama papa dan mamamu. Aku sudah setuju untuk mundur dari dunia modeling agar dapat menikah denganmu, jangan kecewakan aku,” ucap Alice setengah berbisik, tapi masih bisa didengar oleh Lorie yang memasang wajah tanpa ekspresi di atas tempat tidur.
“Secepatnya,” jawab Raymond singkat.
“Kamu sudah mengatakan itu sejak minggu lalu. Sekarang mereka benar-benar menginginkan kepastian,” balas Alice dengan bibir mengerucut, membuat penampilannya terlihat menggemaskan.
Raymond menghela napas dan menatap tunangannya yang bersikeras itu. Setelah bergumul dengan hati nurani dan pikirannya, akhirnya hanya bisa men\*desah pasrah dan berkata, “Baik, kalau begitu dua hari lagi kita pulang. Bagaimana? Kamu senang?”
Alice melompat kecil dan bertepuk tangan. “Sangat senang!” serunya.
Oh, ya ampun ....
Lorie menggerutu dan mencibir dalam hati. Di matanya, Alice terlihat seperti seekor anak anjing yang bersikap lucu dan imut untuk menyenangkan hati tuannya. Diam-diam ia bersumpah, demi apa pun yang ada di dunia, ia tidak akan pernah melakukan trik konyol seperti itu untuk mendapatkan seorang pria.
Alice menyodorkan satu kotak makanan kepada Raymond, kemudian membawa yang satu lagi dan menyerahkannya kepada Lorie.
“Aku sampai lupa, ini ... makanlah selagi hangat,” ujarnya.
Lorie melirik sekilas ketika mendengar suara Alice datang dari sisi kanan tempat tidurnya. Ia menerima pemberian itu dan mengucapkan terima kasih, kemudian memakannya dalam diam.
“Lorie, kamu harus datang ke pernikahan kami nanti,” kata Alice sambil menatap Raymond dengan binar penuh cinta.
“Oke. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah repot-repot membawakan sarapan ini, aku akan datang,” balas Lorie.
Wajah Alice berubah masam. Ia melirik tajam ke arah Lorie sambil mengepalkan jemarinya, lalu mengatupkan rahang erat-erat agar tidak membalas dengan kalimat yang akan membuat martabatnya sama rendahnya dengan wanita sakit itu.
Lorie mengangkat potongan daging asap dengan garpu, mengamatinya dengan serius sebelum memasukkan potongan daging itu ke mulut.
“Ini benar-benar enak,” gumamnya sambil mengunyah. “Di mana kamu membelinya?”
“Satu blok sebelum rumah sakit.”
“Um. Lain kali kalau datang, tolong belikan lagi.”
Alice memaksakan seulas senyum dan menjawab, “Oke.”
Tiba-tiba pintu kembali terbuka dan Dokter Ana melangkah masuk bersama dua orang perawat. Wajah dokter itu terlihat serius.
“Nona Lorie, apa yang kamu makan? Sudah aku katakan tidak boleh makan sembarangan,” tegurnya ketika melihat Lorie sedang menusuk potongan daging yang terakhir dengan garpu.
“Oh ... ini ... Alice sudah berbaik hati membawakannya, sayang kalau tidak aku makan. Lagi pula ini benar-benar enak, Anda mau mencobanya, Dokter?” tanyanya seraya mengacungkan garpu ke arah lawan bicaranya.
Dokter Anda mendengkus dan memberi perintah kepada salah seorang perawat, “Buang makanan itu.”
“Hey ....” Lorie ingin protes saat kotak makanannya direbut begitu saja, tapi kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk mencegah sang perawat membuang makanan yang belum habis itu ke dalam tong sampah.
“Anda sangat menjengkelkan,” gerutunya seraya memelototi Dokter Ana.
Meski masih sedikit menggerutu, Lorie tetap berbaring dan membiarkan Dokter Ana memeriksanya.
Di sofa, Alice menariki lengan baju Raymond sambil berbisik dengan sangat pelan, “Ayo, keluar ....”
Raymond mengangguk dan berdiri. Ia membuang kotak bekas sarapannya ke tong sampah dan berpamitan kepada Lorie dan Dokter Ana.
“Kami pergi dulu. Aku akan kembali setelah—“
“Tidak perlu,” sela Dokter Ana.
“Maaf?” Raymond sedikit terkejut dengan respon rekan sejawatnya itu. Mengapa sikapnya mendadak berubah menjadi sinis dan dingin.
“Aku mengizinkan Anda untuk tinggal karena mengira kehadiran Anda mampu membawa kembali memori pasien, tapi sepertinya aku sudah keliru. Kehadiran Anda tidak berarti apa pun. Oleh karena itu, Tuan Dawson, Anda tidak perlu kembali lagi ke sini,” ucap Dokter Ana dengan ekspesi yang sangat serius.
Raymond membeku di tempatnya dan tidak tahu harus membalas apa. Ia sama sekali tidak menduga Dokter Ana akan berkata seperti ini. Bukankah ia sudah cukup banyak membantu dengan menjaga Lorie sampai selama koma?
Di sampingnya, wajah Alice benar-benar terlihat jelek. Ia sadar tadi Dokter Ana menegurnya secara tidak langsung dengan meminta perawat untuk membuang makanan yang dibawa olehnya. Lalu kini, wanita itu bahkan berani meremehkan kekasihnya? Benar-benar lancang!
“Sayang, dokter itu benar. Kamu tidak perlu kembali lagi ke sini. Lagi pula kita akan segera menikah, jangan mengurusi hal yang tidak penting,” ucap Alice sambil menarik lengan Raymond yang masih berdiri dan menatap Lorie tanpa berkedip.
“Raymond?” panggilnya lagi.
Raymond menoleh ke arah tunangannya dan menatapnya dengan ekspresi yang rumit, lalu kembali menatap Lorie.
“Aku akan kembali saat jam makan siang,” ucap Raymond sebelum berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu.
“Raymond!” panggil Alice sembari mengejar tunangannya dengan wajah masam.
Setelah kedua orang itu tidak terlihat lagi, Dokter Ana menatap Lorie sambil bersedekap dan berkata, “Sampai kapan kamu akan meneruskan permainan ‘hilang ingatan’ ini, Kapten Lorie?”
Lorie menarik selimut hingga menutupi kepalanya dan membalas, “Sampai dia berhenti menggangguku.”
“Hey, itu bukan sikap yang sopan untuk berbicara dengan orang yang bersedia untuk berpura-pura bersamamu!” protes Dokter Ana.
“Dasar tidak sopan,” gerutunya lagi ketika Lorie tidak memberi reaksi apa pun.
“Kamu bisa mengatakan kepada Alex untuk memindahkanmu, dengan begitu dia tidak akan mengganggu lagi,” ucapnya sebelum membereskan peralatan dan berjalan keluar dari ruangan itu.
***