Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 87: Andromeda Corporation


Tumpukan kertas bertebar di atas meja kerja Alex. Ia baru saja mencetak semua laporan yang dikirim oleh Anne. Tiga bulan belakangan ini, Jotuns Corps sudah menyerupai cangkang kosong. Hanya bangunannya saja yang berdiri, tapi di dalamnya tidak ada apa-apa lagi. Jericho benar-benar melaksanakan niatnya untuk menghancurkan hasil kerja keras Alex.


"Brengsk!"


Alex meremas kertas-kertas itu dan melemparkannya ke sembarang arah. Meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencegah kejatuhan Jotuns Corps, tetap saja gagal. Posisinya yang masih lumpuh dan buta tidak bisa membuatnya bisa melakukan pergerakan secara bebas. Orang-orang pasti akan curiga kalau ia sampai tahu perkembangan Jotuns Corps secara detail.


Ayah, ibu, terutama granny, sama sekali tidak mempercayai apa yang ia kemukakan mengenai saudara sepupunya itu. Di mata mereka, ia hanya sedang kesal dan ingin menjatuhkan Jericho. Mereka tidak tahu kejadian sebenarnya lebih rumit dari sekedar nilai saham Jotuns Corps yang kian merosot.


Sebenarnya, ia bisa saja menggunakan pengawal bayangan untuk menyelamatkan Jotuns Corps, tetapi itu pasti akan membuat Jericho curiga dan melaporkan hal itu pada atasannya. Ia juga tidak bisa meminta bantuan pada Billy, sahabatnya itu pun akhir-akhir ini sengaja menghindar darinya. Ia tahu Billy pun sedang berjuang dengan caranya sendiri.


Setelah menarik napas dalam-dalam, Alex kembali memeriksa lembar demi lembar laporan di hadapannya. Seharusnya ada sesuatu yang bisa ia jadikan petunjuk. Ia harus menemukan apa itu, dan di mana celah yang bisa ia pakai sebagai titik awal pencarian. Selama 03 belum mendapat infomasi mengenai tempat yang ia suruh lacak berdasarkan infomasi dari Billy, mereka harus tetap mencoba semua kemungkinan lain yang bisa ditempuh.


Gerakan tangan Alex tiba-tiba berhenti ketika melihat laporan pembelian salah satu aset Jotuns Corps di Rusia. Nama perusahaan yang membeli aset itu terlihat familiar.


"Andromeda Corporation. Di mana aku pernah melihatnya," gumam Alex sambil mengambil tumpukan map lain di atas meja.


Ia membaca scanning, melihat nama-nama perusahaan asing yang terlibat kerja sama dengan Jotuns Corps akhir-akhir ini. Matanya terpaku pada nama developer yang memenangi tender untuk mengerjakan proyek Jotuns Corps di China.


Andromeda Corporation.


Alex memisahkan berkas itu dan kembali mencari dengan teliti. Kalau tebakannya benar, akan ada lebih banyak lagi nama itu dalam proyek-proyek yang lain. Ia hanya perlu bersabar mencarinya.


Tok. Tok. Tok.


Alex mendongak ketika mendengar suara ketukan di pintu. Ia melirik layar monitor di atas meja. Kinara sedang berdiri bersama dokter Ana di depan ruangannya. Secepat kilat Alex menekan tombol di bawah meja. Dalam sekejap lantai bergerak dan terbuka. Meja berisi file dan map itu tertarik ke bawah, sedangkan sebuah meja baru yang polos bergerak naik menggantikan posisi meja sebelumnya. Ia memunguti kertas yang berserakan di lantai dan membuangnya ke tong sampah, kemudian berjingkat menuju kursi rodanya yang tergeletak menghadap jendela.


"Alex?" panggil Kinara seraya mengetuk pintu lagi.


"Masuk!" jawab Alex setelah memakai kacamata hitamnya.


Kinara mendorong daun pintu dan berjalan masuk. Dokter Ana mengekor di belakangnya. Gadis itu berjalan dengan langkah panjang menuju suaminya dan berdiri di sisi pria itu.


"Kamu lupa ada janji dengan dokter Ana?" tanya Kinara seraya menyentuh pundak Alex dengan lembut.


"Ah, aku lupa," jawab Alex. Ia meraih tangan Kinara di atas pundaknya, lalu mengecupnya sekilas.


Setelah insiden malam pertama yang gagal itu, hubungan di antara mereka semakin dekat. Namun, mereka belum pernah mencoba untuk mengulangnya kembali. Mereka berdua sama-sama bersikap seolah hal itu tidak pernah terjadi. Alex sengaja membiarkan istrinya bersikap seperti itu agar gadis itu tidak merasa canggung berada di dekat. Sementara Kinara terlalu malu untuk membicarakan hal itu dengan suaminya.


"Aku akan meninggalkan kalian untuk berbincang," ucap Kinara, "Panggil aku kalau membutuhkan sesuatu," ujarnya lagi sebelum melangkah keluar.


"Baik, terima kasih," kata Alex.


Dokter Ana mengangguk sekilas ketika Kinara berjalan melewatinya. "Bagaimana kondisimu?" tanyanya setelah yakin Kinara telah pergi.


"Cukup baik."


Dokter Ana mengulas senyum. "Bagus. Benar-benar bagus," balasnya seraya mengeluarkan beberapa peralatan dari dalam tas yang dibawanya.


"Meski begitu, kita harus tetap melakukan pemeriksaan rutin untuk mencegah timbulnya komplikasi atau gejala lain yang lebih berbahaya."


Alex mendekat dan membiarkan dokter Ana menempeli tubuhnya dengan berbagai macam peralatan. Ia melakukan apa pun yang diperintahkan oleh wanita jenius di hadapannya itu. Namun, ketika sebuah jarum suntik dikeluarin dari wadahnya, Alex memilih untuk memalingkan wajahnya. Tiga bulan menghadapi ritual yang sama sungguh buka merupakan perkara yang mudah. Meski semua rentetan pengobatan ini telah membuatnya berhasil berjalan seperti sedia kala, tetap saja ia merasa muak melihat jarum suntik.


"Aku akan membawa sampel darah ini dan memeriksanya di lab. Ini adalah pemeriksaan akhir. Aku akan segera mengabarimu," kata dokter Ana sambil mengoleskan kapas yang telah diberi alkohol pada bekas suntikannya, "Melihat dari kemampuanmu sekarang, kita tidak perlu melakukan terapi lagi. Kamu hanya harus terus melatih kekuatan otot dan tulangmu sendiri di rumah."


Alex mengangguk untuk mengiakan. Ia tahu semua obat-obatan dan cara terapi yang dipakai oleh dokter Ana tidak sama dengan obat yang dipakai oleh dokter-dokter pada umumnya. Oleh karena itu, serangkaian tes dan pengawasan masih tetap harus dilakukan. Lagipula, jika ia dirawat dengan prosedur standar kesehatan, sudah pasti sampai hari ijin ia masih bergantungan pada kursi roda. Jadi ketika dokter Ana selesai merapikan peralatannya, Ales menyodorkan tangannya ke arah wanita itu.


"Terima kasih, Dokter," kata Alex dengan raut wajah penuh kesungguhan.


Dokter Ana terpaku sejenak melihat tindakan Alex. Selama ia merawat pria jtu, tidak pernah sekali pun ia melihat pria itu bersikap seperti ini. Tindakan Alex yang seperti ini sungguh membuatnya terharu meski menyembuhkan pria itu adalah tugas dan tanggung jawabnya.


"Sama-sama," jawab dokter Ana sembari menjabat tangan Alex, "Sebuah Kehormatan bagiku."


"Aku telah mengirim sejumlah uang ke bank account-mu, katakan saja jika kurang."


Dokter Ana terkekeh. "Sejujurnya, aku tidak menginginkan uang. Kamu bisa menariknya kembali."


Alis Alex bertaut mendengar pengakuan itu. "Lalu, apa yang kamu inginkan?"


"Izinkan aku bergabung di markas. Beri aku wewenang untuk bereksperimen di laboratorium. Aku jamin tidak akan mengecewakanmu."


Alex tersenyum simpul. "Kamu yakin ingin menukar semua uang itu dengan lab? Kamu bahkan belum memeriksa rekeningmu."


"Tidak perlu. Aku benar-benar tidak butuh uang itu. Tabungan yang kumiliki sudah lebih dari cukup untuk membeli kepulauan Karibia," jawab dokter Ana dengan penuh rasa percaya diri.


Alex mendengkus dan memamerkan senyuman mengejeknya. Sebenarnya ia pun ingin meminta dokter Ana bekerja untuknya. Bakat dan kemampuan wanita itu terlalu hebat untuk dibiarkan. Keahlian langka seperti itu akan menjadi aset yang sangat berguna di masa depan.


"Baiklah, Milyuner. Berikan ini pada petugas yang berjaga di pintu masuk. Mereka akan mengantarmu ke ruanganmu," kata Alex seraya menyodorkan selembar kertas kecil berwarna merah pada dokter Ana.


"Terima kasih," kata dokter Ana sambil menerima kertas bebentuk persegi panjang itu dengan wajah semringah. Ia memasukan benda itu ke dalam saku, kemudian mengambil tasnya dan bersiap untuk keluar.


"Sampai jumpa di markas."


Dokter Ana mengangguk dengan hormat kemudian berjalan ke arah pintu.


Sepeninggal dokter Ana, Alex meraih ponselnya dan mengirimkan pesan ke speed dial nomor 03.


Cari tahu semua tentang Andromeda Corporation.


Kirim.