Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 123: Maaf, Baby ....


Kinara bersembunyi di balik pilar ketika melihat dua bodyguard sedang melakukan patroli. Untuk saat ini, ia tidak tahu siapa yang dapat dipercaya dan siapa yang bersekongkol untuk menyingkirkannya, jadi pilihan yang paling aman adalah bergerak diam-diam. Setelah dua orang itu lewat, Kinara merunduk di antara rimbun tanaman hias dan menuju jendela di bawah kamar Alex, tempat pertama yang harus ia datangi untuk memastikan bahwa dugaannya tidak keliru.


Wanita itu berhenti di bawah tembok yang dirambati morning glory. Ia memeriksa keadaan sekitar, lalu merunduk di bawah pipa air setelah yakin tidak ada orang yang lewat. Ia menarik pipa air yang menempel di dinding untuk menjajal kekuatannya. Setelah cukup yakin pipa itu bisa menahan bobot tubuhnya, Kinara melepas high heels-nya, lalu merobek gaunnya dengan pisau hingga selutut. Ia melilitkan potongan gaun itu pada pisau, lalu mengigitnya kuat-kuat.


Kamu hanya perlu terus naik dan jangan melihat ke bawah, Nara, gumamnya dalam hati sebelum melompat dan mulai memanjat.


Ranting kering dan ujung tanaman merambat menggores lengan dan kakinya, tapi Kinara mengabaikan rasa tidak nyaman itu. Itu terus mencari pijakan dan mendorong tubuhnya untuk naik. Lengannya mulai gemetaran ketika ia mencapai lantai dua. Balkon ke kamar Alex berada sekitar satu meter dari tempatnya menggelantung. Kinara mengatur napasnya dan mulai mengayukan kaki.


Satu.


Dua.


Tiga.


Hop!


Ia melompat dan meraih pinggiran balkon sebelum tubuhnya merosot ke bawah. Kakinya menendang-nendang udara untuk mencari pijakan, tetapi tidak ada satu pun benda yang dapat menopang tubuhnya.


“Ukh!”


Kinara menggeram dan mengetatkan otot lengannya hingga tubuhnya perlahan terangkat. Ia terus menekan pinggiran balkon dengan kuat hingga akhirnya pinggangnya sejajar dengan besi pembatas itu. Lututnya menekan ujung balkon dan membantunya melompati besi setinggi satu setengah meter itu.


“Fuh!”


Pisau terlempar dari mulut Kinara. Seluruh tangan dan kakinya gemetaran, tetapi ia benar-benar tidak punya waktu untuk beristirahat. Saat ini setiap detik sangatlah berharga. Dengan satu gerakan cepat Kinara melepas lilitan kain di pisau. Ia kembali memutar gulungan kain itu pada tangan kanannya, lalu mengigit ikatannya untuk membentuk simpul mati. Mengabaikan banyakan goresan di tangan dan paha, wanita itu berjalan menuju jendela. Tangan kanannya terkepal kuat, lalu dengan satu tarikan napas panjang, ia menghantamkan tinjunya ke jendela.


Prang!


Suara kaca yang pecah bersamaan dengan pecahan beling yang menyebar ke semua arah. Kinara melepaskan kain di tangannya, menggunakannya untuk menyingkirkan pecahan kaca di lantai. Ia menjulurkan tangan melalui lubang di jendela dan membuka selot yang mengunci lembaran kaca itu dari dalam.


“Ah!” erangnya ketika sisa kaca yang menempel di jendela menggores lengannya. Perih dan pedih menyengat, tetapi suara desahan dari dalam kamar membuatnya tidak mau membuang waktu.


Ia melompat masuk dan menyibak kain gorden. Lalu, pemandangan di depan matanya membuatnya hampir membeku. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Dalam keremangan, ia bisa melihat dengan jelas wanita yang sedang bergerak di atas tubuh suaminya itu menoleh padanya sambil menyeringai penuh kemenangan. Wanita ****** itu bahkan tidak berhenti meski melihatnya menyaksikan perbuatan yang menjijikkan itu.


“Kinara ... Baby, aku mencintaimu ....”


Suara Alex yang menyerupai bisikan tertahan itu entah bagaimana meremukkan jantung Kinara. Ia tidak bisa bernapas. Sesak. Rasanya ia tenggelam dalam lumpur yang menjijikkan. Alex terus menyebut namanya berulang-ulang, sama ketika mereka sedang bercin*ta. Ia tahu pria itu sedang tidak sadar. Meski cahaya dalam ruangan ini cukup temaram, ia bisa melihat seluruh tubuh suaminya memerah. Mata pria itu bahkan tidak bisa fokus ke satu titik, terus berkedip dan berputar dengan tidak wajar.


“Aku akan membunuhmu kalau tidak menyingkir sekarang,” geram Kinara penuh peringatan pada wanita yang melihat ke arahnya dengan tatapan merendahkan.


Ia berjalan mendekat dengan langkah tertatih. Melihat Alex yang begitu tersiksa di bawah tubuh siluman ular itu membuat hati Kinara ikut hancur. Ia tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu, tidak berdaya dan merasa kotor. Sangat kotor sampai ia ingin membunuh dirinya sendiri.


Jessica terkekeh pelan. Ia menunduk dengan gerakan sangat provokatif dan ingin mencium Alex. Namun, belum sempat niatnya itu terlaksana, Kinara menerjang ke arahnya seperti seekor banteng betina yang mengamuk. Emosinya meluap hingga ubun-ubun. Bilah pisau tergenggam dalam kedua tangannya teracung tinggi. Dengan kekuatan penuh, ia menancapkan benda pipih itu di belikat Jessica.


“Argggh!” jeritan memilukan lolos dari bibir Jessica. Ia menatap Kinara dengan sorot tak percaya. Cairan merah dan anyir mengucur deras mengaliri punggungnya yang putih, menciptakan perpaduan warna yang mengerikan.


Mata Kinara lebih merah dan pekat daripada darah yang membanjiri ranjang. Urat-urat di leher dan pelipisnya berkedut dengan cepat. Tanpa memberi kesempatan bagi Jessica untuk melawan, Kinara menarik rambut wanita itu dan menyeretnya turun dari atas ranjang, melemparnya hingga terseret di atas lantai. Jejak darah tercetak di atas ubin berwarna putih itu, hampir sepanjang dua meter.


Tubuh Jessica bergetar hebat menahan rasa sakit. Ia sama sekali tidak menyangka Kinara akan senekat ini. Ia pikir wanita itu akan menangis dan meninggalkan Alex, tapi ternyata ....


Kedua tangan Jessica menggapai-gapai ke belakang, berusaha mencabut pisau yang menancap di sana. Ia berjalan mundur ketika melihat Kinara mulai menghampirinya dengan tatapan mata yang nyalang, persis seekor serigala betina yang sedang mengincar mangsanya. Jessica semakin panik dan gugup, air mata merebak di pelupuk mata dan mengaburkan pandangannya. Ia berusaha bangun sambil menoleh ke kanan kiri untuk mencari senjata, tetapi tidak ada satu pun benda yang cukup kuat untuk membalas Kinara. Lagipula punggungnya benar-benar sakit luar biasa.


“A-aku ... aku—“


Kinara mengayunkan kakinya sekuat tenaga ke dada Jessica.


Bugh!


“Egh!”


Jessica tersedak. Bagian belakang tubuhnya menghantam tembok dengan sangat keras hingga pisau di belikatnya masuk semakin dalam. Ia merasa benda tajam itu baru saja menggesek salah satu ruas tulangnya dengan cukup keras hingga rasa nyeri dan ngilu membaur menjadi satu.


Raungan keras dan menyayat hati memekakkan telinga, tapi Kinara belum mau berhenti. Ia kembali mengangkat kakinya dan menekan leher Jessica sekuat tenaga sehingga wajah wanita itu membiru.


“Sudah kukatakan untuk menyingkir darinya,” geram Kinara dengan suara sarat akan emosi. Ia memusatkan seluruh tenaganya pada tungkai kanannya hingga tubuh Jessica mulai kejang seperti ikan yang terdampar di daratan.


Kedua tangan Jessica mencoba memukul dan mencakar kaki Kinara, tapi itu hanya membuat rasa sakit di punggungnya semakin dahsyat. Ia berusaha mengangkat kaki untuk menendang Kinara, tetapi wanita di hadapannya itu bergeming, seakan tidak merasakan apa pun. Air mata mulai menetes dari pipi Jessica, seirama aliran darah yang merembes dari punggungnya dan membasahi tembok. Paru-parunya sudah hampir pecah. Mungkin tulang tenggorokannya retak. Rasanya benar-benar menyakitkan.


“Nara?”


Tubuh Kinara menegang ketika mendengar Alex memanggil namanya. Ia tersadar dan menyadari Alex masih linglung di atas tempat tidur.


Tubuh Jessica merosot ke atas lantai ketika kaki Kinara meninggalkan lehernya yang sudah lebam. Dengan napas satu-satu, ia menghirup oksigen sebanyak yang ia mampu.


“Tolong,” desahnya dengan napas terputus-putus, “Tolong aku ....”


Kinara mengabaikan jala*ng itu. Dengan cepat ia menghampiri Alex, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.


“Berengs*ek! Kenapa kamu berat sekali?! Benar-benar seperti seekor ba*i!” maki Kinara sambil menyeret suaminya menuju kamar mandi. Melihat kening suaminya yang mengernyit seolah menahan sakit membuatnya ingin marah sekaligus menangis dalam satu waktu.


Kinara sudah hampir kehabisan napas ketika akhirnya berhasil membawa Alex ke bawah shower. Ia melepas selimut dan menatap tanda kemerahan yang memenuhi leher dan dada pria itu. Wanita itu menggigit bibirnya kuat-kuat dan menyalakan air.


Alex sedikit terkesiap, tapi masih menatap ke arah istrinya dengan linglung.


“Kinara?” panggilnya sambil menatap istrinya dengan tidak fokus.


Tubuhnya seperti terbakar hingga ke tulang. Rasa tidak nyaman membuat inti tubuhnya terasa sangat sakit. Rasanya seperti ia menginginkan sesuatu ... sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti apa itu.


Plak!


“Kamu itu bodoh, ya?!” maki Kinara dengan wajah memerah. Ia tidak bisa menahan air matanya lagi. “Sudah kukatakan untuk berhati-hati, kenapa ceroboh sekali!”


Plak!


“Aku membencimu! Kamu dengar? Aku membencimu, Alex!”


Alex tertegun. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menyentuh wajah istrinya, tapi wanita itu menepis tangannya dengan cukup keras hingga tubuhnya tersentak.


“Jangan menyentuhku!” seru Kinara.


Ia menunduk dan mulai terisak dengan keras hingga kedua bahunya ikut bergetar. Mengingat kembali bagaimana tadi Jessica berada di atas tubuh suaminya benar-benar membuatnya mual. Namun, mengingat bagaimana sikap Alex ketika ia mengalami trauma membuatnya menahan semua rasa kesal dan kecewanya. Di mana pun wanita jala*ng itu menyentuhnya, itu tidak penting, bukan? Ia tahu, Alex tidak menginginkan wanita siluman itu.


Alex mengerjap pelan. Air dingin yang mengguyurnya perlahan melawan rasa panas yang membuatnya tidak nyaman. Lalu, suara dan aroma istrinya yang sangat nyata itu perlahan membawanya ke permukaan.


“Apa yang terjadi?” tanya Alex, “Kenapa menangis?”


“Di mana pelac*ur itu menyentuhmu?” teriak Kinara. Ia kembali bangkit lalu memukuli dada suaminya sekuat tenaga.


Alex hanya terdiam dan membiarkan istrinya melampiaskan emosinya.


Setelah puas memukuli suaminya, Kinara mengambil sabun dan menuangkannya sebanyak mungkin ke tubuh Alex. Ia lalu mulai menggosok dengan sangat keras.


“Bodoh! Kenapa kamu sangat bodoh? Aku sudah bilang, jauhi ular betina itu! Kamu membuatku sangat kesal!” maki Kinara sambil terus menggosok tubuh suaminya tanpa mengurangi tenaganya sama sekali.


Alex mematung dan berusaha mencerna semua perkataan istrinya. Melihat bagaimana wanita itu menangis dan terus membersihkan tubuhnya membuat otaknya mulai merangkai kepingan informasi yang terputus-putus di kepalanya.


Kinara memutar keran hingga air memancar dari shower dengan kekuatan maksimal. Ia kembali menuang sabun dan menggosok permukaan kulit Alex hingga kulit pria itu hampir terkelupas.


“Sayang ...,” panggil Alex pelan. Suara rintihan minta tolong dari kamar membuatnya semakin ngeri ketika mulai menyadari apa yang sedang terjadi.


“Bagaimana kalau dia hamil? Apa yang akan kamu lakukan? Kamu akan mencampakkanku? Dasar bedeb*ah! Aku membenci kalian semua! Orang kaya yang menyebalkan! Aku benar-benar muak dengan ini semua!” teriak Kinara sebelum kembali berjongkok dan menangis dengan pilu.


Fakta bahwa ia masih sangat mencintai Alex walau melihat pria itu tidur dengan perempuan lain—meski itu bukan keinginannya—membuatnya sangat sedih. Begitu sedih hingga ia hampir kehabisan napas. Dadanya sangat sesak dan hampir meledak. Rasa sakit ini sungguh membuatnya hancur.


Alex membiarkan air dingin mengaliri tubuhnya, membilas busa sabun yang menempel di kulitnya. Ia sungguh berharap busa dan air itu juga bisa menghapus bekas percintaannya yang membuat istrinya terluka. Ia ingin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tetapi tenggorokannya terasa kering. Pria itu baru akan mengulurkan tangannya untuk menyentuh Kinara, tetapi wanita itu lebih dulu bangun dengan cepat dan mengambil handuk, lalu melemparkan benda itu padanya.


“Bersihkan dirimu sendiri!” seru Kinara sebelum melangkah keluar dari kamar mandi.


Ia berderap ke arah Jessica yang sedang merangkak menuju pintu. Kinara semakin menggila ketika melihat jala*ng itu menggunakan kemeja Alex untuk menutupi tubuhnya yang telanj*ng.


“Aku belum selesai denganmu, Bitc*h!” ujar Kinara sambil menginjak pinggang Jessica hingga menempel dengan lantai, “Aku membiarkanmu merebutnya dariku tujuh belas tahun lalu, tapi sekarang tidak lagi! Tidak akan pernah!”


Ia menarik rambut Jessica hingga wanita ini mendongak dan menjerit kesakitan.


Brak!


Pintu kamar terbuka lebar. Sepasukan pengawal masuk tak lama kemudian.


“Apa yang terjadi di sini?” teriak Brenda Smith dengan suara menggelegar, “Dasar pelayan rendahan! Benar-benar tidak mengerti tata krama! Wanita bar-bar sepertimu tidak pantas menjadi menantu keluarga Smith!”


Kinara mencengkeram rambut Jessica semakin erat hingga wanita itu merintih-rintih.


“Lepaskan dia!” seru Brenda, “Seret pelayan itu keluar dari rumah ini!” perintahnya lagi pada para pengawal yang bersiaga.


Dua orang pria segera maju dan menarik tangan Kinara hingga terlepas dari rambut Jessica. Mereka baru akan menyeret Kinara untuk keluar dari ruangan itu ketika sosok Alex yang keluar dari kamar mandi menghentikan niat mereka. Tubuhnya yang masih basah hanya terbalut handuk, tapi auranya yang mengerikan terpancar ke seluruh ruangan.


“Aku akan membunuh siapa pun yang berani menyentuh istriku. Tanpa terkecuali.”


Suara sedingin es yang penuh ancaman membuat seluruh orang dalam ruangan itu membeku. Dua orang pengawal itu melepaskan cekalan mereka dan mundur tanpa berani membalas tatapan membara yang diarahkan pada mereka.


“Alex! Istrimu–“


“Cukup, Granny! Jangan menguji batas kesabaranku,” sela Alex seraya berjalan menghampiri Kinara, “Kalian tidak diizinkan untuk berada di kamar ini.”


Brenda Smith menatap cucunya dengan mata terbelalak. Seumur hidup, Alex tidak pernah membentaknya seperti ini. Meski begitu, wanita tua itu tetap berjalan keluar sambil mengeluarkan sumpah serapah dari mulutnya.


“Bawa jal*ang itu ke Red Room, kamu tahu apa yang harus dilakukan,” perintah Alex pada Lorie yang tiba-tiba muncul di depan pintu.


Gadis itu langsung berlari ke sini secepat kilat ketika mendengar kekacauan yang terjadi dari para pengawal yang bertugas.


“Baik, Tuan,” jawab Lorie.


"A-Alex ... t-tidak, Alex...," rintih Jessica memohon pengampun, tapi Alex hanya menatapnya dengan penuh kebencian.


Lorie memberi isyarat pada rekannya yang datang bersamanya untuk menyeret tubuh Jessica yang sudah tidak berdaya keluar dari kamar.


Setelah ruangan kembali hening, Alex menyentuh pundak istrinya dengan sangat hati-hati.


“Maafkan aku, Baby ... maaf ...,” bisiknya seraya mendekap tubuh istrinya yang penuh luka dan gemetaran. Tidak terhitung lagi, sudah berapa kali menghancurkan hati wanita dalam pelukannya ini. Apakah kali ini ia masih bisa dimaafkan?


***


yang mau dipost lagi next part-nya nanti malam, komen yaa 😁