Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 105: Terimakasih sudah menyelamatkanku


Pagi yang tenang, cahaya matahari menerobos malu-malu dari balik tirai. Alex menggeliat dan menoleh ke samping. Ia tersenyum tipis ketika melihat Kinara masih terlelap. Suara dengkuran halus dari depan wajahnya membuat seringai di wajah Alex semakin lebar. Ia mengusap pipi Kinara dengan sangat hati-hati, tidak ingin membuatnya terbangun. Tampaknya istrinya yang bergulung dengan nyaman di balik selimut itu benar-benar kelelahan. Wanita itu sudah bekerja sangat keras tadi malam. Um, lebih tepatnya, ia sudah memaksa istriya bekerja keras semalaman.


Alex mendekatkan wajah dan mencium kening Kinara dengan sangat pelan. Aroma percintaan mereka masih melekat di tubuh istrinya, membuatnya merasakan bagian tubuhnya yang sensitif segera memberikan reaksi. Hawa dari mesin pendingin ruangan tiba-tiba tidak terasa. Ingatan akan suara dan erangan istrinya tadi malam membuatnya seperti sedang dilingkupi oleh uap panas. Harus diakui, pengalaman pertamanya benar-benar luar biasa. Rasanya sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata Sensasinya sangat jauh berbeda jika dibandingkan saat ia terpaksa harus bermain solo.


“Ini benar-benar gila,” gumamnya seraya menggelengkan kepala dengan senyum lebar masih terpatri di wajahnya. Rasanya seperti kecanduan. Mungkin ia tidak akan pernah puas menikmati tubuh molek yang terasa sangat pas dengan tubuhnya itu. Seakan lekuk tubuh mereka diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain.


Bulu mata Kinara bergetar. Aroma maskulin yang sangat dikenal oleh indera penciumannya menggelitik saraf-saraf di hidung. Keningnya mengerut. Ia sangat ingin membuka mata tetapi seluruh tubuhnya tidak mau bekerja sama. Tungkai-tungkainya lemas dan tak bertenaga, sementara tulang-tulangnya terasa seperti baru saja dipatahkan satu per satu dan disambung kembali. Intinya, seluruh tubuhnya terasa remuk redam.


Alex menarik kembali tangannya ketika melihat pergerakan kecil dari istrinya. Ia menumpu kepala dengan tangan kanan dan mengamati wajah istrinya dalam diam. Namun, semakin diamati, wajah yang merona alami itu justru semakin membuatya bernapsu. Detak jantungnya mulai meningkat, sesuatu di bawah sana pun mulai mengeras. Semakin dilihat dan dirasakan, ia semakin tidak bisa menahan diri.


“Sial,” geram pria itu dan melompat turun dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi.


Pria itu mengisi bathtub dengan air dingin hingga hampir penuh. Ia mendongak untuk mengambil sabun, tetapi pantulan dirinya di depan cermin menghentikan gerakannya. Lengan, pundak, dan ... Alex membalikkan badan untuk memeriksa punggungnya. Semuanya dipenuhi bekas cakaran. Matanya menyipit seraya mendekat ke cermin untuk memastikan penglihatannya. Bahunya memar, sebuah bekas gigitan yang cukup dalam tercetak di sana. Alih-alih merasa kesal atau kesakitan, pria itu tersenyum seperti orang bodoh dan ... um, semakin terangsang!


Ia menghela napas dan mengembuskannya kuat-kuat sebelum masuk ke dalam bathtub. Semoga berendam air dingin bisa membantu meredam hasratnya, kalau tidak ... mungkin ia akan kembali ke kamar dan menyerang istrinya yang masih terlelap.


***


Kinara menguap lebar dengan mata terpejam erat, kedua tangannya terentang ke atas kepala, berusaha merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku dan pegal. Lehernya tegang, dan ... ah, rasa pedih yang menyengat pangkal paha membuat wanita itu mengerang pelan. Seluruh tubuhnya terasa lengket dan pegal.


Pukul berapa sekarang? Kenapa Alex tidak membangunkanku?


Ia memaksa untuk membuka matanya meski kelopaknya menolak keras untuk saling menjauh.


“A-Alex?” seru Kinara ketika melihat suaminya sedang duduk di meja kerja yang berjarak sekitar satu meter dari ranjang. Pria itu menatap lurus ke arahnya dengan sorot yang ... entah, Kinara merasa pria itu akan menyergapnya jika ia berkedip.


Tak lama kemudian, Kinara merasakan udara dingin menerpa dadanya, membuatnya berjengit dan menunduk. Rupanya selimutnya tersingkap sampai pinggang!


Pantas saja ....


Wanita itu buru-buru menarik selimut untuk menutupi dadanya, lalu kembali merosot ke atas kasur. Mukanya memerah ketika menyadari suaminya tidak mengalihkan tatapannya yang menghujam jantung itu. Oh, tentu saja ia tahu dengan pasti apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu.


“A-apa yang kau lakukan di situ?” tanya Kinara dengan suara parau. Lagipula, sejak kapan perlengkapan kerja suaminya dipindahkan ke kamar ini?


Alex berkedip satu kali, lalu bangun dari kursinya dan berjalan menghampiri istrinya. “Menurutmu?” tanyanya seraya duduk di tepi ranjang.


Kinara beringsut ke arah yang berlawanan sambil mengigit bibir dengan cemas. Rasa sakitnya belum reda. Ia sungguh tidak sanggup kalau ... kalau Alex menginginkannya lagi.


“Kemarilah, Sayang,” panggil Alex seraya menepuk ruang kosong di sebelahnya.


Kinara menggeleng cepat seraya berkata, “Tidak mau!”


“Aku hanya ingin membantumu ke kamar mandi. Cepat ke sini,” bujuk Alex.


Kinara tetap menggeleng. “Aku bisa sendiri,” sahutnya.


Saat ini, tidak ada satu helai benang pun yang menempel di tubuhnya. Membayangkan tangan dan jari-jari suaminya akan bersentuhan langsung dengan kulitnya saja sudah membuatnya merinding sampai ke ubun-ubun!


“Jangan keras kepala. Aku tahu pasti masih sakit, Baby. Jadilah penurut seperti tadi malam. Oke?”


Kinara melotot. “Ap-apa katamu?”


“Jadilah penurut, Sayang,” jawab Alex seraya berdiri dan memutar ke sisi ranjang tempat istrinya berada. Namun, ketika ia sudah hampir sampai, wanita itu berguling dan menjauh ke tempatnya tadi duduk.


Alex menghela napas dan berkacak pinggang. “Baiklah,” ujarnya seraya berbalik dan berjalan menuju meja kerjanya.


“Cepatlah mandi, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, tapi mungkin sekarang lebih tepat disebut makan siang,” sambung pria itu seraya duduk dan kembali membuka lembaran berkas perusahaan di atas meja.


Kinara menatap suaminya dengan tidak percaya. Sejak kapan pria itu berubah menjadi begitu lembut dan perhatian. Apakah karena semalam? Semalam ... semalam itu ... sungguh luar biasa ....


Wajah Kinara memerah hingga daun telinga.


“Tidak ada,” elaknya seraya mengetatkan selimut ke tubuh dan mencoba untuk bangun.


“Sayang, aku sudah melihat semuanya. Tidak ada yang perlu kau tutupi dariku lagi.” Alex kembali menginterupsi meski wajahnya masih menunduk menghadap lembaran kertas di tangannya. “Lagipula semuanya terlihat indah, aku tidak keberatan untuk melihat atau menyen–“


“Tutup mulutmu,” desis Kinara seraya melempar sebuah bantal ke arah suaminya. Ia benar-benar malu.


Sial. Mengapa tadi malam ia tidak merasa malu sama sekali? Ini sangat membingungkan. Mengapa semua rasa malu itu berkumpul sekarang? Ia benar-benar ingin menghilang dari hadapan suaminya.


Alex terkekeh setelah berhasil menghindari bantal yang dilempar oleh Kinara. Ia mendongak dan mengedipkan mata pada istrinya itu.


Tentu saja Kinara semakin kesal, tetapi ia mengabaikan suaminya dan mencoba untuk bangun. Ia menapakkan kaki ke lantai. Lututnya gemetaran. Ia menekan sandaran ranjang untuk membantunya berdiri. Lengannya gemetaran. Ia benar-benar kepayahan.


Kinara bertahan dengan posisi berdiri sedikit lebih lama untuk mengumpulkan kekuatan. Kemudian, dengan sangat perlahan ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Namun, gerakan itu terhenti ketika rasa perih dan panas berdenyut di inti tubuhnya.


"Aduh," erangnya pelan.


“Masih sakit, bukan?”


Kinara berjengit ketika mendengar suara Alex dari balik tubuhnya, tetapi ia tidak bisa menghindar lagi. Ia hanya bisa pasrah ketika suaminya mengangkatnya dengan hati-hati dan membopongnya menuju kamar mandi. Pria itu menurunkannya, lalu menyalakan air untuk mengisi bathtub. Kinara hanya diam dan memerhatikan ketika Alex menuang sabun dan memeriksa suhu air untuknya.


Pria arogan dan egois itu rupanya bisa menjadi sangat perhatian dan lembut.


“Perlu kupanggilkan dokter?” tanya Alex ketika melihat wajah istrinya yang masih menahan sakit.


“Lalu membiarkan orang-orang tahu kalau kamu berubah menjadi monster ketika berada di atas ranjang?” goda Kinara seraya meringis.


“Kamu yang mengubahku menjadi monster,” jawab Alex sambil memasang wajah tak berdosa.


Alex melepaskan selimut yang menutupi tubuh Kinara, menatapnya dengan sorot membara hingga istrinya itu jengah dan mengulurkan tangan untuk mendorong dadanya. Namun, dengan sigap Alex menangkap lengan wanita itu, menuntunnya ke bawah dan menekannya pada bukti gairahnya yang mengeras di balik celana.


Kinara terkesiap dengan mata membulat. Bibirnya bergerak, tetapi tak ada satu patah kata pun yang terucap dari mulutnya. Gundukan keras yang menonjol di bawah sana benar-benar besar!


“Lihat, monster kecil ini terbangun sejak pagi tadi dan terus menyiksaku. Dia tidak mau tidur sama sekali. Kurasa dia hanya akan menurut padamu. Tolong aku, bujuk dia supaya tidur,” lanjut Alex dengan wajah memelas.


A-apanya yang monster kecil ... membujuk apanya?!


“Mesum!” teriak Kinara setelah berhasil pulih dari rasa terkejutnya, “Anda, Tuan Muda Smith, benar-benar monster mesum,” desisnya seraya bergegas masuk ke dalam bathtub, membiarkan busa sabun menutupi ketel*njangannya.


Alex terkekeh dan berjongkok di samping bathtub. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap kepala istrinya dengan penuh rasa sayang.


“Aku senang istriku sudah bisa memarahiku lagi. Tetaplah menjadi Kinara yang seperti ini,” ujarnya sebelum mengecup pipi istrinya dan berjalan keluar.


Kinara tertegun. Ia menyentuh bekas ciuman Alex barusan, mengusapnya perlahan dengan tatapan menerawang. Kecupan itu terasa ringan dan lembut, tetapi mampu menyalurkan rasa hangat hingga ke jantungnya. Jari-jarinya bergerak turun, menyapu bibir yang dicium oleh suaminya dengan rakus tadi malam, lalu menunduk dan menatap tubuhnya yang polos. Tak ada lagi bayang-bayang Jericho di sana, hanya ada suara erangan dan geraman suaminya yang melahapnya dengan beringas, memaksanya meledak dalam kenikmatan berkali-kali ... tanpa henti, meski ia sudah menyerah dan meminta ampun.


Kinara bangun dan berdiri di depan cermin, memerhatikan tanda kemerahan yang memenuhi leher dan dadanya. Aneh. Ia tidak lagi merasa jijik dan kotor. Justru rasa cinta yang meluap-luap memenuhi dadanya.


Bulir hangat mengalir di pipi Kinara, bersatu dengan tetes air yang menempel di permukaan kulit. Ia sangat terharu karena merasa dicintai dan diingini. Sebuah perasaan yang tak terlukiskan mengalahkan traumanya. Kebahagiaan sejati merasuk dalam jiwanya karena bisa menyerahkan diri pada orang yang paling ia cintai.


Alex, terima kasih sudah menyelamatkanku ....


***