
Sudah dua minggu Gio berada di luar Negeri, sejak saat itu juga Tara tinggal di rumah orang tuanya. Membuat wanita itu tiba-tiba saja merasa kalau saat ini ia sangat merindukan sang suami.
"Kira-kira sedang apa Gio di sana, ya?" tanya Tara pada dirinya sendiri. Karena rasa rindu di hati wanita itu semakin menumpuk. Membuat pikiran serta hatinya terus saja tertuju pada satu nama yaitu Gio sang suami, laki-laki yang telah mempu mengukir rasa cinta di dalam jiwa dan raga wanita itu. "Biasanya dia akan selalu menghubungiku di jam 8 malam seperti ini, tapi kenapa sampai sekarang Gio malah belum menelponku? Hanya untuk sekedar melepas rindu, meski melalui video call. Apa laki-laki itu sangat sibuk, sehingga sekedar mengirim pesan singkat padaku saja dia tidak sempat?" Ketika Tara terus saja bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Suara ketukan pintu dari luar terdengar.
"Tara sayang, anak Mama, ayo 'Nak makan malam dulu, karena menahan rindu juga butuh tenaga super ekstra," seloroh Yana yang bercanda di luar sambil mengetuk pintu kamar putrinya itu. "Tara sayang ...," panggil Yana sekali lagi.
"Mama tahu saja kalau anaknya ini sedang menahan rindu," gumam Tara pelan. Sambil terlihat turun dari atas ranjangnya karena ia ingin membuka pintu untuk sang ibu. Dan tanpa perlu menunggu lama Tara terlihat sudah membuka pintu itu untuk Yana.
"Anak Mama, apa sih, yang dilakukan sehingga kamu lama sekali membuka pintu?" Yana sengaja bertanya seperti itu pada putrinya karena ia melihat wajah sang putri cemberut.
"Belum satu jam, Mama udah bertanya seperti itu saja," jawab Tara.
"Oh jadi, Mama harus nunggu satu jam di depan kamar kamu ini baru, bisa dikatakan kalau kamu lama sekali membuka pintu untuk Mama, begitu maksud kamu?"
Tara mengangguk beberapa kali. "Betul sekali, ternyata Mama sangat pintar pantesan jodoh sama Papa yang juga sangat pintar." Tara terlihat menaik-turunkan alisnya, dengan mimik wajah yang masih sedikit cemberut.
"Kamu ini, ayo kita makan malam dulu, Papa dan kakak kamu sudah menunggu di meja makan," kata Yana sambil memegang tangan putrinya. "Makan dulu, baru tidur karena Mama tidak mau kalau sampai suamimu mengira, Mama dan Papa tidak pernah memberikanmu makan di rumah ini."
Tara melirik ponsel yang ia pegang di tangan kirinya. Sehingga membuat Yana langsung mengerti apa yang saat ini membuat raut wajah Tara menjadi cemberut.
"Gio masih sibuk Tara, nanti kalau dia selesai sibuk pasti akan segera menghubungi, istrinya yang saat ini sedang rindu berat," ucap Yana tiba-tiba.
Sedangkan Yana yang melihat putrinya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tara, Tara ... kamu ini ada-ada saja," kata Yana yang kemudian terlihat menarik gagang pintu kamar Tara, dan dengan cepat menutup kembali pintu itu.
Tara yang melihat pintu kamarnya sudah di tutup dengan segera menatap layar ponselnya. "Kemana saja? Kenapa tidak menghubungiku? Apa kamu habis berkencan? Atau habis jalan-jalan dengan wanita lain?" Deretan pertanyaan Tara membuat Gio dengan cepat mengarahkan kamera ponsel pada tumpukan dokumen. Supaya sang istri tidak terus-terusan mencurigainya.
"Lihatlah Tara, semua tumpukan dokumen ini," kata Gio yang melihat bibir Tara komat-kamit karena sepertinya wanita itu sedang kesal pada dirinya. "Tara kalau rindu bilang saja, jangan malah mau mengajak suamimu ini bertengkar," lanjut Gio yang tahu kalau semua wanita jika sedang rindu pasti akan mengajak pasangannya untuk bertengkar. Dengan cara memberikan pertanyaan menjebak seperti saat ini.
"Aku tanya kamu kemana saja, Gio?" tanya Tara yang tidak mau secara terang-terangan mengaku dirinya sedang merindukan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu. "Gio, kamu kemana saja?"
"Sayang," panggil Gio sehingga membuat pipi Tara langsung seperti buah tomat yang baru saja matang. "Sayang, aku baru saja selesai bekerja, kalau kamu tidak percaya lihatlah, Gavin sampai ketiduran di tumpuka dokumen yang satunya lagi." Gio sekarang terlihat memperlihatkan sekretaris serta tangan kanannya itu pada sang istri. "Lihat sayang, aku sama Gavin bekerja sampai tidak kenal waktu, biar bisa cepat kembali ke Indonesia."
Tara yang baru kali ini mendengar Gio memanggilnya dengan sebutan sayang merasa ada yang sedikit berbeda. "Tadi kamu memanggilku apa, Gio? Karena aku rasa indera pendengaranku saat ini sedang bermasalah."
"Sayang Tara ... Tara Sayang ...," jawab Gio lembut. "Sayang, lagi apa sekarang di sana?" tanya Gio yang merasa lucu ketika melihat pipi sang istri berwarna merah.
"Jangan memanggilku sayang, karena kamu tidak benar-benar menyayangiku." Tara memalingkan wajah. Supaya ia tidak melihat Gio.
Gio malah terkekeh mendengar kalimat Tara. "Jika aku tidak sayang padamu, mana mungkin aku bekerja keras setiap hari seperti ini sayang, coba kamu pikirkan apa yang aku katakan ini."