
Sepulang dari rumah Malvin, Yana jadi bernafas lega karena apa yang ditakutkan tidak menjadi kenyataan. Sebab Tara bisa menerima dengan lapang dada kalau Tika akan menikah dengan Dion.
"Bagaimana reaksi Tara, ketika tahu kalau Dion akan menikah dengan Tika?" tanya Arzan ketika ia dan sang istri saat ini sedang ada di dalam kamar.
Yana yang di tanya tersenyum sambil menjawab, "Tara sudah menerima kenyataan Mas, jadi kamu tidak usah khawatir."
"Apa Tara juga tidak menanyakan tentang kamu yang tahu kalau Gio ternyata anak orang kaya?" Arzan penasaran karena sang istri belum menceritakannya.
"Tara sempat kaget, tapi aku dengan cepat mengalihkan pembicaraan sehingga dia lupa. Dan dia juga jadi percaya sama aku, Mas," jawab Yana yang kini terlihat sedang tidur di atas pa ha sang suami. "Apa menurut Mas, Tara akan marah jika mengetahui semua kebenaran ini?"
"Lho, kenapa kamu malah menanyakan itu, Sayang?" Arzan malah balik bertanya pada Yana.
Sedangkan Yana yang ditanya tidak tahu harus menjawab apa, karena tadi ia tiba-tiba saja mengatakan masalah itu kepada sang suami. Sebab ia takut Tara akan membenci keluarganya sendiri hanya karena kebenaran yang disembunyikan oleh dirinya dan Arzan.
"Mas, aku takut jika Tara tahu maka. Dia pasti akan membenci kita.
"Tara tidak akan tahu, jika kamu dan aku tidak memberitahunya," sahut Arzan menimpali Yana. "Sekarang lebih baik kamu istirahat saja, karena nanti malam kamu akan menyambut calon besanmu," ucap Arzan yang mengingatkan sang istri. "Ayo tidur siang dulu, isi tenaga buat nanti malam," lanjutnya lagi.
"Ayo kita buat lagi, kalau kamu tidak mau kesepian," seloroh Arzan yang malah bercanda. "Bagaimana apa kamu mau, Sayang?"
"Mas ini, aku serius lho, tapi kenapa kamu malah bercanda begini. Ini semua sama sekali tidak lucu tau," gerutu Yana menjawab pertanyaan Arzan. "Sudah sana, Mas pergi kerja saja," ujar Yana yang bangun dari tidurnya. "Karena aku mau membuat beberapa kue untuk jamuan nanti malam."
"Iya sudah, apa perlu aku bantu?"
"Boleh, kalau Mas tidak pergi ke kantor. Dan aku juga mau memanggil Tika juga untuk membantuku," jawab Yana sambil berlalu pergi. "Hm ... Mas, tolong bawakan aku buku resep yang ada di dalam laci itu," seru Yana ketika ia sudah sampai di ambang pintu.
"Buku resep yang mana?" tanya Arzan. Karena laki-laki itu bingung harus mengambil buku resep yang mana, sebab di dalam laci itu ada sepuluh buku resep masakan saja. "Sayang, buku resep yang mana?" tanya Arzan sekali lagi.
Yana yang di tanya menepuk jidatnya karena ia lupa kalau di dalam laci itu ada banyak sekali buku resep. "Mas ambil yang bergambar makanan di sampulnya," jawab Yana asal-asalan. Karena wanita itu juga lupa dengan buku resep yang tadi ia maksud.
Arzan yang di suruh mengambil resep yang ada gambar makanannya, mengerutkan kening. Karena ada empat buku resep itu bergambar makanan. "Sayang, ada em—"
"Biar aku saja yang akan mengambilnya, Mas," potong Yana cepat.