
“Lorie? Kita sudah sampai.”
Dokter Ana menepuk-nepuk bahu Lorie beberapa kali. Tadinya ia sempat mengira sahabatnya itu benar-benar pingsan, tapi saat ia memeriksa denyut nadi Lorie dan mendapati bahwa wanita itu baik-baik saja, ia menghela napas lega.
“Ada apa?” tanya Billy yang tiba-tiba berada di balik tubuh Dokter Ana. Tangannya memegang tas kulit berwarna cokelat tua.
Dokter Ana memelototi pria itu. “Kamu mengagetkanku!” gerutunya.
Meski kesal, ia tetap menjawab pertanyaan Billy, “Dia tertidur. Tadi kami mampir ke Red Room. Sepertinya dia kelelahan.”
“Oh. Kalian sudah membereskannya?”
“Rafael?”
Billy mengangguk. Ia langsung pergi ke perusahaan setelah selesai mengurus administrasi Lorie sehingga tidak tahu perkembangan informasi terbaru. Kebetulan ia sedang mampir ke Spring Mountains saat itu untuk mengantarkan berkas yang perlu ditandatangani oleh Alex sehingga bertemu dengan Lorie dan Dokter Ana.
“Lorie sudah membereskannya. Aku hanya membantunya membuka paku di kotak kayu, itu pun tidak berhasil,” ujar Dokter Ana seraya memasang ekspresi ngeri. “Dia sangat menyeramkan, kamu tahu? Hampir sama menyeramkannya dengan Alex. Tidak. Aku rasa, dia adalah versi wanita dari Alex Smith.”
Billy mengangkat bahunya acuh tak acuh sambil membalas, “Dia dilatih oleh Alex sejak masih remaja, memangnya apa yang kamu harapkan?”
“Kamu juga bisa sekejam itu?”
“Itu tergantung kesalahan apa yang dilakukan.”
Dokter Ana memutar bola matanya dan mencibir. Siapa suruh ia mau berteman tiga orang psikopat ini. Sekarang mau bilang menyesal pun tidak bisa.
Billy melongok ke balik bahu Dokter Ana dan bertanya, “Kamu ingin aku menggendongnya masuk?”
“Tidak perlu.”
Billy dan Dokter Ana sama-sama membalikkan tubuh saat mendengar suara Lorie yang berat, suara khas orang yang baru bangun tidur. Wanita itu melepaskan sabuk pengaman dengan sedikit malas dan bergeser turun.
“Kalian sangat berisik. Aku bahkan tidak bisa bermimpi dengan benar,” gerutunya seraya mencoba untuk berdiri.
“Aku hanya ingin membantu.” Billy mencoba untuk membela diri.
“Sama sekali tidak membantu,” balas Lorie dan Dokter Ana bersamaan.
“Hati-hati,” ucap Dokter Ana saat melihat Lorie sedikit sempoyongan. Ia bergegas melingkarkan lengannya dan memapah Lorie dengan perlahan memasuki pintu.
“Aunty!” Amber memekik gembira dari lantai satu. Gadis itu segera meluncur turun, melompati anak tangga dengan bersemangat sehingga Alex beberapa kali mengingatkannya agar tidak terburu-buru.
“Aunty, aku sudah mendekorasi kamar untukmu. Nanti kamu harus memeriksanya, apakah sesuai dengan seleramu atau tidak,” ujar Amber seraya memeluk Lorie dan mendongak untuk menatap wajahnya.
Lorie membalas pelukan Amber dan berjongkok agar posisi mereka sejajar.
“Benarkah? Terima kasih, Sayang. Aunty percaya dengan seleramu, itu pasti akan bagus sekali,” balas Lorie sambil tersenyum lebar, membuat Amber berbinar dan berbunga-bunga karena dipuji seperti itu.
Aslan dan Aaron tampak lebih tenang. Kedua bocah laki-laki itu berjalan di sisi ayah mereka dan menyapa Lorie dengan sopan.
“Halo, Aunty. Selamat datang,” ucap kedua bocah kembar itu bersamaan.
“Terima kasih,” balas Lorie seraya mengusap kepala Aslan dan Aaron dengan penuh rasa sayang.
Ia lalu menoleh ke belakang anak-anak itu dan menyapa Alex, “Tuan, terima kasih ....”
Alex melambaikan tangannya dan membalas, “Jangan sungkan. Anak-anak pasti senang kalau kamu tinggal di sini.”
Pria itu menoleh ke arah Dokter Ana dan bertanya, “Bagaimana kondisinya?”
“Cukup baik, hanya sedikit keras kepala ... itu membuatnya hampir pingsan di mobil.”
Alex dan Billy tertawa mendengar jawaban itu, sedangkan Lorie mendengkus dan menatap tajam ke arah Dokter Ana.
Tiba-tiba Alex menoleh ke arah Billy dan menatap sahabatnya itu dengan mata memicing.
“Kenapa kembali? Bukankah kamu harus kembali ke kantor?” tanyanya.
Billy menyeringai lebar sambil menjawab, “Aku bertemu dengan mereka di depan, jadi aku mengawal mereka kembali ke rumah. Lorie benar-benar terlihat akan pingsan kapan saja, takutnya jika terjadi sesuatu kepadanya, kamu akan menyalahkanku juga karena tidak membantu.”
Kali itu Alex, Lorie, dan Dokter Ana mendengkus bersamaan. Mereka mencibir dan menatap Billy dengan ekspresi tidak percaya. Siapa yang tidak tahu kalau pria itu hanya penasaran dan tidak ingin ketinggalan menggosip?
“Oke ... oke ... aku hanya tidak ingin ketinggalan. Kalian semua berkumpul di sini sedangkan aku harus kembali ke kantor? Itu sungguh tidak adil,” gerutu Billy tak lama kemudian.
Lihat, 'kan?
***