
Alex menyuruh Billy untuk pergi mengurus administrasi, sementara ia menghubungi Dokter Ana dan memintanya untuk datang ke kamar pasien. Ia ingin menanyakan perkembangan kesehatan Lorie. Siksaan fisik yang dialami oleh wanita itu sudah cukup berat, ditambah masalah dengan Raymond Dawson, Alex tidak mau orang kepercayaannya itu semakin depresi. Meski ia tidak tahu apa yang terjadi di antara kedua orang itu, setidaknya ia bisa mencegah terjadinya konflik yang lebih berat lagi.
Lorie yang sedang mengobrol bersama triplets menoleh ke pintu ketika Dokter Ana melangkah masuk. Wanita itu mengedipkan mata sambil berkata, “Langsung ingin melarikan diri?”
Lorie mendengkus dan memasang wajah cemberut.
“Itu saran darimu,” balasnya.
Dokter Ana terkekeh dan menghampiri Alex Smith. Ia membuka file yang dibawanya dan mulai melaporkan kondisi fisik Lorie secara detail. Kedua orang itu tampak serius sehingga tidak menyadari wajah Lorie yang tiba-tiba memucat.
“Aunty, kamu tidak terlihat sehat, ” ucap Amber sambil memegang tangan Lorie.
“Tidak apa-apa,” jawab Lorie seraya melepaskan tangan Amber dan menutup mulutnya. Rasa mual kembali mendera, kali ini tampaknya ia benar-benar akan muntah. Dengan sangat pelan ia berjalan menuju kamar mandi. Kepalanya berdenyut hebat setiap kali ia menahan kontraksi dari dalam lambung yang ingin mengeluarkan isinya.
“Tentu saja tidak sehat, Aunty memang sedang sakit,” timpal Aaron sambil mencibir ke arah adik perempuannya. “Daddy ‘kan mengajak kita ke sini memang untuk menjenguk Aunty Lorie, untuk apa kamu mengatakan hal seperti itu lagi.”
“Sudah, jangan bertengkar.” Aslan menengahi kedua adiknya. “Kalian hanya akan membuat Aunty Lorie semakin sakit."
Percakapan ketiga bocah itu menarik perhatian Alex dan Dokter Ana. Saat kedua orang itu menoleh, Lorie sudah hampir mencapai kamar mandi. Dokter Ana segera menyusul dan membantunya masuk ke bilik itu.
“Kenapa tidak bilang kalau butuh bantuan?” tegurnya.
“Aku masih ... bisa ... sendiri ...,” jawab Lorie, napasnya sedikit terengah.
Begitu sampai di depan kloset, ia langsung menunduk dan menumpahkan semua isi perutnya. Rasanya sungguh menyakitkan. Pelipisnya berdenyut-denyut seperti akan meledak, matanya menggelap, sedangkan lambungnya terus bergolak meski tak ada lagi yang tersisa untuk dikeluarkan.
“Sudah merasa lebih baik atau semakin buruk?” tanya Dokter Ana.
Lorie menghela napas panjang. Tadinya karena Dokter Ana mengatakan bahwa efek samping dari gegar otak adalah pusing, mual, bahkan muntah, maka ia tidak terlalu memikirkannya. Akan tetapi, setelah diingatnya dengan baik, frekuensi muntahnya semakin sering. Dan sepertinya itu bukan gejala yang baik.
“Bagaimana dengan status gegar otakku?” Lorie balik bertanya.
“Sudah tidak separah kemarin. Secara medis, kondisimu membaik secara signifikan,” jawab Dokter Ana. “Seharusnya situasi seperti ini sudah tidak terjadi.”
“Lalu mengapa aku semakin sering mual dan muntah?” tanya Lorie lagi.
Dokter Ana menatap Lorie beberapa saat. Sebagai seorang jenius, hanya memerlukan waktu sepersekian detik baginya untuk menganalisa dan menarik benang merah dari semua peristiwa yang terjadi kepada Lorie, juga interaksi yang aneh antara sahabatnya itu dan Raymond Dawson. Namun, bagaimanapun juga ia tidak ingin menghakimi. Sebagai seorang dokter, kesehatan pasien adalah hal yang paling utama.
“Apa aku perlu mengantarmu ke bagian ginekologi?” tanya wanita itu dengan sangat hati-hati.
Sekejap kemudian, ia bisa merasakan tubuh Lorie yang bersisian dengannya menegang. Mereka saling menatap melalui pantulan cermin. Dari ekspresi wajahnya, ia bisa menebak bahwa Lorie sendiri tidak yakin dengan apa yang sedang terjadi kepadanya.
“Aku ... setelah dipukuli dan disiksa seperti itu, apakah menurutmu mungkin ... maksudku ... ya, Tuhan ... berapa banyak obat yang sudah masuk ke dalam tubuhku?” Suara Lorie terdengar gemetar. Ia menunduk dan menggigit bibirnya erat-erat. Kedua tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih.
Penampilannya itu membuat Dokter Ana ikut merasa tidak berdaya. Ia menepuk pelan punggung Lorie sambil berkata, “Tidak ada yang tidak mungkin, Lorie. Ayo, aku temani ... semuanya bisa ditangani kalau sudah ada diagnosa resmi. Jangan cemas, aku akan melakukan yang terbaik untukmu.”
“Tolong jangan katakan ini kepada Tuan Alex atau Billy, aku belum siap,” gumam Lorie dengan suara sengau. Saat ia mendongak, matanya terlihat sembab dan memerah.
Dokter Ana merengkuh bahunya dan memeluknya dengan erat.
“Jangan khawatir, Saudariku. Jangan khawatir ... aku akan menjagamu ....”
Ucapan itu membuat air mata Lorie menderas. Ia membalas pelukan Dokter Ana dan terisak hingga dadanya terasa sesak. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan jika seandainya ... kalau benar ia mengandung anak Raymond, apa yang harus ia lakukan?
***