
"Hei, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Liam sekali lagi.
Ranum yang hanya diam saja pada akhirnya mengangguk sambil menjawab, "Bisa kasih tahu tentang foto ini, apakah asli atau hasil editan. Sebentar aku kirim dulu." Rupaya Tara baru mengingat kalau Liam selain dokter laki-laki itu juga sangat jago di bidang IT sehingga Liam bisa tahu tentang foto asli atau hasil editan. "Sebentar aku cari dulu," ucap Tara sambil mencari foto Gio dan Sera. Hingga beberapa detik akhirnya Tara berhasil mengirimnya ke Liam. "Nah itu coba deh kamu lihat."
Liam hanya melihat foto itu, detik itu juga ia langsung bisa menyimpulkan kalau foto itu 100% persen asli. Bukan hasil rekayasa atau bisa disebut bukan editan. "Tara, fofo ini asli bukan editan," ujar Liam tanpa ada kata kebohongan di dalamnya.
"Benarkah?" Tara bertanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena da da wanita itu semakin terasa sesak. Dan Tara langsung saja menunduk tidak berani menatap dokter itu lagi.
"Tara, selama kita kenal. Apakah kamu pernah aku bohongi? Dan apa diriku ini pernah berdusta?" tanya Liam yang tahu kalau saat ini Tara pasti sedang merasa kecewa dengan Gio. Karena Liam tahu kalau isi foto itu tadi adalah foto Gio. Sebab diam-diam dokter itu selalu saja mencari tahu tantang suami Tara itu. Sehingga Liam bisa tahu semuanya tentang Gio.
"Sudah dulu Liam, karena aku mau tidur." Dan tanpa menunggu balasan dari Liam, wanita itu langsung saja memutuskan sambungan teleponnya.
Hingga beberapa detik, Tara berteriak histeris serta mambuang bantalnya ke arah tembok dan kebetulan sang ibu yang ingin memanggil Tara bisa mendengar suara putrinya itu sedang berteriak histeris. Yana yang berpikir Tara sedang kesurupan dengan cepat masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan pada saat itu juga Yana melihat kalau Tara sedang menjambak rambutnya sambil memvkvl perutnya sendiri.
"Astaga Tara, apa yang kamu lakukan 'Nak?" tanya Yana yang kemudian terlihat memegang kedua tangan Tara supaya putrinya itu tidak menyakiti dirinya sendiri. "Hentikan semua ini Tara, dan jika ada masalah cerita sama Mama, siapa tahu Mama bisa membantumu," ucap Yana yang berusaha terus untuk menahan tangan Tara. "Cerita sama Mama, dan jangan malah menyakiti diri kamu sendiri dengan cara begini Tara. Karena yang rugi itu kamu Sayang, bukan orang lain."
"Gi-Gio Ma, Gi-Gio ...," kata Tara terbata-bata.
"Iya, kenapa dengan Gio? Apa dia menyakiti perasaanmu?" Yana yang bawaannya tenang sama sekali tidak terlihat marah pada sang putri. "Kenapa dengan Gio, Tara, sini kasih tahu Mama?" tanya Yana dengan nada lemah lembut. Dan kini Yana terlihat melepaskan tangan Tara karena ia rasa sang putri tidak akan menyakiti diri lagi. "Sini Sayang, cerita sama Mama." Yana kemudian membawa Tara masuk ke dalam pelukannya. "Kalau Tara belum siap cerita sama Mama, it's oke! Mama sama sekali tidak keberatan." Wanita itu lalu terlihat mengelus punggung Tara.
"Papa kamu tidak salah sudah mengajukan surat gugatan cerai itu Tara," ucap Yana tiba-tiba. "Sekarang kamu tinggal bulatkan tekad dan keinginanmu untuk berpisah dengan Gio," lanjut Yana.
Tara terdengar semakin terisak. Sebab bayangan wajah Gio dan janji-janji manis sang suami, kini terngiang-ngiang di indra pendengaran wanita itu. Sehingga membuat Tara menggeleng dan mengangguk secara bersamaan dan malah membuat sang ibu merasa heran.
"Keputusanmu sangat Mama dan Papa nantikan Tara, karena besok pagi adalah sidang pertama kamu di pengadilan." Meski Yana tahu keputusan ini sangat berat. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan. Selain mendukung Tara untuk bercerai dari Gio. Sebab wanita itu berpikir kalau Tara putri keduanya itu harus bahagia, jangan seperti sekarang ini yang hanya membuang-buang waktu untuk menangisi hal yang sama sekali tidak penting. "Jika besok pagi kamu mau datang, maka kamu harus memberitahu Papa kamu, biar Papa bisa mengurus semuanya."
"Ma, apa yang harus aku lakukan? Aku mencintai Gio, tapi di sini lain aku juga membencinya," ucap Tara dengan suara yang serak dan dengan tubuhnya yang terguncang hebat.
"Pilihan ada ditangan kamu Tara, karena kalau Papa dan Mama hanya ingin yang terbaik untukmu." Benar apa yang dikatakan oleh Yana, kalau ia dan Arzan hanya ingin yang terbaik untuk Tara. Karena hanya orang tua yang tidak sayang dengan anak mereka saja yang akan tega melihat anaknya diperlakukan seperti Tara saat ini.
Tara tidak bisa membalas kalimat sang ibu, karena Tara masih memikirkan apa cara kedua orang tuanya ini salah atau sudah benar. Sebab perceraian memang tidak dilarang dalam agama Islam, namun Allah membenci sebuah perceraian. Sehingga membuat Tara berpikir keras lagi. Apakah ia harus setuju atau malah sebaliknya mempertahankan rumah tangganya dengan Gio, di saat ujian dan cobaan trus saja menerjang rumah tangganya saat ini.
"Ma, biarkan aku memikirkan semua ini dulu. Karena aku masih ragu," kata Tara menimpali sang ibu.
"Iya sayang, pikirkan dulu. Tapi Mama berharap besok pagi kamu sudah ada jawaban," timpal Yana.