Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 43


Setelah membasuh tangannya yang berlumuran darah, Lorie mendongak untuk memeriksa wajahnya di cermin. Ia mengeluh ketika melihat beberapa titik merah tua menyebar di kening, ujung hidung, dan pipinya. Ia lalu menunduk dan mendapati noda yang sama ada di bagian depan baju dan permukaan sepatunya. Darah Rafael benar-benar mengotori semuanya.


“Mau kuambilkan pakaian ganti?” tanya Dokter Ana yang mengintip dari balik pintu.



“*Um*. Ini menjijikkan,” jawab Lorie seraya membuka kancing bajunya.



“Lima menit,” kata Dokter Ana sebelum kembali menghilang.



Lorie menghela napas dan pergi ke bilik untuk mandi. Ia tidak mungkin pergi ke Spring Mountains dengan kondisi seperti itu. Ia tidak ingin triplets melihatnya yang berlumuran darah dan mulai mengajukan pertanyaan dari a-z, terutama Amber, gadis kecil itu sangat teliti dan kritis ketika bertanya. Lagi pula ia tidak ingin memberi contoh yang buruk kepada mereka.



Karena kondisi tubuhnya yang belum stabil, Lorie lebih memilih untuk berendam di dalam *bathtub*. Membalas Rafael telah menguras hampir seluruh tenaganya. Ia mengisi bak dengan air hangat sampai penuh, lalu masuk dan berbaring dengan tenang, membiarkan air dan sabun menghapus noda dan aroma darah yang masih tersisa di tubuhnya.



“Bayi, kelak jangan seperti mama, ya,” ucapnya seraya mengusap perutnya dengan sangat lembut.


“Kamu harus tumbuh kuat, tapi jangan menjadi seperti mama ...,” imbuhnya lagi.


Jangan menjadi seperti mama ... kamu harus punya kehidupan yang lebih baik ....


“Lorie?”


“Eng.”


“Aku letakkan pakaianmu di atas bufet.”


“Oke, terima kasih.”


“Kamu baik-baik saja?”


“Lumayan ... tidak buruk.”


“Oke. Aku akan menunggumu di luar.”


“Oke.”


Sepuluh menit kemudian, Lorie keluar dengan pakaian baru yang bersih dan wangi. Tak ada lagi bau amis darah Rafael dan delapan orang anak buahnya. Semuanya terlihat wajar, seolah ia tidak baru saja mencincang tubuh seseorang dan memasukkannya ke dalam box styrofoam, lalu memberi perintah kepada anak buahnya agar menyebarkan potongan daging itu untuk dimakan anjing liar di jalanan.


“Sudah siap untuk pulang?” tanya Dokter Ana.


“Hum.”


“Mood-mu sudah lebih baik?”


“Oh, jangan terlalu sungkan ... hey, kamu bisa memakai kursi—“


“Lupakan, aku ingin berjalan ... terlalu lama berbaring dan duduk di kursi roda membuatku merasa seperti orang cacat.” Lorie menyela ucapan Dokter Ana dan terus berjalan menuju pintu.


Dokter Ana memutar bola matanya dan membalas, “Lihat kalau kamu pingsan sebelum mencapai mobil, aku tidak akan menggendongmu.”


Lorie hanya terkekeh pelan dan terus berjalan. Meski dengan langkah yang sangat lambat dan pelan, ia berhasil mencapai lift tanpa bantuan Dokter Ana.


“Bagaimana Tuan Alex mengirim mereka ke sini? Di dalam peti kayu ... apakah dia mengirimnya lewat kargo barang?” tanya Lorie yang masih penasaran bagaimana cara Alex Smith membawa Rafael dan anak buahnya ke Broocklyn.


“Yah, itu memang dikirim lewat kargo barang,” jawab Dokter Ana seraya mengedikkan bahunya.


“Oh ... pantas saja dia menginginkan kematian.”


“Dan kamu memberikannya dengan cara yang menyakitkan.”


“Well ... aku sudah memperingatkannya sebelumnya.”


Percakapan itu terjeda ketika pintu lift terbuka. Dokter Ana lebih dulu melangkah keluar, disusul Lorie yang tidak terlihat baik-baik saja. Wajahnya tampak sedikit lebih pucat. Setelah berjalan beberapa langkah menuju mobil yang terparkir di basemen, tubuhnya mulai gemetar. Ia bersandar di tembok dan mengatur napasnya yang terengah.


“Apa kamu sudah akan pingsan?” tanya Dokter Ana seraya bersedakap dan memandang Lorie. “Sedikit lagi kita sampai , setidaknya pingsanlah saat kita sudah berada di dalam mobil.”


“Dasar sialan,” maki Lorie sembari menyeringai menahan tawa sekaligus nyeri. Sekarang ia sedikit menyesal karena sudah keras kepala dan tidak mau memakai kursi roda.


“Kalau kamu benar ingin mempertahankan bayi itu, lain kali cobalah untuk lebih mendengarkan aku,” ucap Dokter Ana seraya memapah Lorie.


“Oke, aku salah, Dokter ... maafkan aku ....”


“Apa bagian bawah perutmu terasa nyeri?”


“Sedikit ....”


“Sesampainya di Spring Mountains nanti, beristirahatlah setidaknya satu minggu. Jangan lakukan apa pun, termasuk balas dendam, entah kepada siapa pun itu. Oke?”


“Oke.”


Dokter Ana membuka pintu mobil dan membantu Lorie memasang sabuk pengaman. Ia lalu mengendarai mobil itu menuju kediaman Keluarga Smith.


Di sampingnya, Lorie bersandar di kursi dan memejamkan mata. Keringat dingin membasahi kening dan punggungnnya.


“Apa aku sudah boleh pingsan?” gumamnya dengan suara sangat pelan.


Dokter Ana menoleh sekilas dan menjawab, “Ya. Lakukan apa pun yang kamu mau.”


Sudut-sudut bibir Lorie berkedut. Ia ingin tertawa tetapi kepalanya berdenyut hebat setiap kali syarafnya tertarik karena gerakan yang sangat kecil sekalipun. Pada akhirnya ia hanya memejamkan dan mencoba untuk tidur, berharap tenaganya sudah pulih saat tiba di Spring Mountains.


***