Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 89


Lampu ruang operasi masih menyala ketika Alex dan Billy berjalan dengan cepat ke arah Raymond. Kerutan yang sangat dalam di kening Alex. Sedangkan wajah Billy dipenuhi api kemarahan yang tampaknya siap membakar siapa saja. Empat orang pengawal bertubuh tegap mengiringi langkah Alex dan Billy, membuat penampilan mereka terlihat semakin mengintimidasi.


Raymond bangkit dan menyapa kedua orang itu, “Tuan—“


Bugh!


Tubuh Raymond terjajar ke belakang saat tinju Billy bersarang di perutnya. Ia terhenyak, tidak mengerti mengapa tiba-tiba dipukuli seperti itu. Saat ia ingin bertanya, kembali pukulan bertubi-tubi dilayangkan oleh Billy. Pria itu terlihat seperti sedang melampiaskan dendam kesumat.


“Tuan Billy, apa Anda salah paham terhadap saya?” tanya Raymond sambil melindungi wajahnya. Bukannya ia tidak bisa membalas, tapi keadaan ini terlalu kacau. Ia tidak mau menambah kekacauan dengan berkelahi di lorong rumah sakit. Lorie bahkan belum selesai dioperasi, jadi ia hanya bisa menahan semuanya.


“Salah paham?!” Billy meraung murka dan menyeret kerah baju Raymond. “Masih bertanya apa aku salah paham?”


Kepalan tangan Billy kembali terangkat, tapi suara yang dalam dari balik tubuhnya menghentikannya untuk kembali memukuli Raymond.


“Hentikan, Billy. Kamu ingin membunuhnya?” tegur Alex.


“Dia memang pantas mati!” teriak Billy kencang, urat-urat pelipisnya menonjol dan berkedut kencang, menunjukkan seberapa besar emosinya saat ini.


Raymond yang sudah babak belur karena dipukuli bersandar di tembok sambil memegangi ulu hatinya. Sangat sakit. Sialan.


“Ada apa? Kenapa Anda melampiaskan emosi seperti itu? Kesalahan apa yang telah saya lakukan?” tanyanya sambil mengusap darah di sudut bibirnya. Napasnya terengah. Rasanya sangat sakit saat ia bernapas dan berbicara.


“Masih berani bertanya apa kesalahanmu?!” Raut wajah Billy sudah seperti iblis yang ingin menelan orang.


“Kalau terjadi sesuatu kepada Lorie, percaya tidak aku akan menguburmu hidup-hidup!” teriaknya dengan murka.


Daniel hanya menyaksikan semua keributan itu dari samping dan tidak ingin memberi komentar apa pun. Itu tidak ada urusannya dengan dia.


Tiba-tiba fokus empat orang pria itu berubah saat mendengar pintu ruang operasi terbuka.


Seorang perawat keluar dari sana dan berkata, “Tuan, kami kehabisan stok darah AB. Semua persediaan sudah digunakan, tapi pasien mengalami pendarahan besar. Jika ada di antara tuan-tuan yang bergolongan darah sama, silakan ikut dengan saya untuk menjalani pemeriksaan.”


“Saya!” Raymond melompat maju. “Golongan darah saya AB.”


Melihat tubuh Raymond yang dipenuhi luka dan wajahnya yang babak belur, sang perawat terlihat sedikit ragu.


“Kondisi Anda, Tuan ... itu—“


“Tidak usah pedulikan. Cepat, ke mana harus pergi untuk memeriksa?” sela Raymond. Seketika semua rasa sakit di tubuhnya menghilang.


“Ikuti saya.”


“Baik.”


Raymond berjalan cepat mengikuti sang perawat. Mereka memasuki sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruang operasi. Ia diminta untuk duduk, ditanyai riwayat kesehatan, diukur tensi darah dan prosedur pengecekan darah. Untunglah semuanya sesuai. Ia lalu diminta untuk berbaring di atas ranjang rumah sakit, lalu proses transfusi segera dilakukan.


“Ambil lagi,” ucap Raymond setelah satu kantong darah sebanyak 400 ml sudah diambi dari tubuhnya.


“Aku bilang ambil lagi! Omong kosong apa?!”


“Kami tidak bisa melanggar prosedur.”


“Prosedur?” Raymond mencibir. “Kalau sampai wanita itu meninggal, aku pastikan tidak akan ada prosedur apa pun yang bisa dijalankan di rumah sakit ini!”


Raymond mengeluarkan kartu namanya dan melemparkannya kepada wanita itu. Seketika wajah sang perawat memucat. Tangannya sedikit gemetar ketika mengembalikan kartu nama Raymond.


“B-baik, Tuan Dawson. Tunggu sebentar.”


Perawat itu keluar dan menelepon atasannya untuk melaporkan apa yang terjadi. Saat ia menyebutkan nama Raymond Dawson, pimpinannya langsung menyuruhnya untuk melakukan apa yang diminta oleh pria itu.


“Baik, saya mengerti.” Perawat itu bergegas masuk dan kembali menancapkan jarum di lengan Raymond.


“Ini keinginan Anda sendiri, Tuan. Jangan salahkan pihak rumah sakit jika sesuatu terjadi kepada Anda.”


Raymond hanya mendengkus pelan dan memejamkan mata. Sejujurnya ia sedikit malu karena telah menggunakan kekuasaaan untuk mengancam orang lain, tapi mau bagaimana lagi? Demi Lorie, ia akan melakukan apa pun.


Apa pun.


“Anda baik-baik saja, Tuan Dawson?” tanya sang perawat yang melihat Raymond berbaring dan tidak bergerak.


“Tuan?” panggilnya lagi setelah tidak mendapat respon.


Apakah dia pingsan?


Sang perawat mengulurkan tangan dengan hati-hati dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya.


Sial. Memang pingsan.


Karena panik, perawat itu langsung memanggil rekannya untuk menghentikan proses pengambilan darah. Wajah mereka berdua memucat. Apakah mereka baru saja mencelakai orang penting? Gawat. Sangat gawat.


Dengan cepat mereka memasang infus dan melonggarkan ikatan dasinya, melepaskan sepatu dan kaus kakinya, lalu membantunya untuk berbaring dengan nyaman.


“Kenapa sampai bisa begini?” tegur rekan kerjanya.


“Jangan salahkan aku, dia yang memaksa.”


Kedua orang itu berdiri dengan cemas dan menatap Raymond. Sementara itu, di ruang operasi, pendarahan Lorie berhasil dihentikan. Satu kantong darah tambahan disiapkan di sampingnya, berjaga-jaga jika ada komplikasi.


Dokter yang bertugas melakukan operasi menghela napas dan menyeka keringat di keningnya. Ini adalah satu-satunya kasus operasi yang membuatnya tertekan. Kalau sampai pasien tidak tertolong, mungkin nyawanya sendiri juga tidak bisa diselamatkan.


***