
Makan malam itu berakhir pukul sembilan. Daniel tampak puas karena melihat wajah Lorie yang berseri-seri. Sepertinya wanita itu benar-benar terkesan dengan semua yang sudah ia siapkan. Seulas senyum lebar menghiasi wajahnya. Sejak memulai makan malam tadi, ia menyadari masih ada banyak waktu ... pelan-pelan saja mendapatkan hati wanita yang unik ini. Mungkin langkah awalnya memang sedikit terburu-buru.
Atau, kalau sampai pada akhinya pun tidak bisa, ya sudah, berteman saja. Meski hanya berteman, begitu pun cukup baik.
Setelah merasa puas dengan pemikirannya sendiri, Daniel menggandeng tangan Lorie keluar dari lift. Mobilnya diparkir di depan, jadi mereka berjalan melintasi aula utama sambil mengobrol santai.
Lorie yang merasa lega karena sudah menjelaskan hubungannya dengan Daniel pun tak henti mengulas senyum lembut di wajahnya. Daniel itu konyol, blak-blakan, dan hangat. Benar-benar karakter yang sangat sesuai dengannya. Sayangnya, hatinya hanya bisa ditempati oleh satu orang. Bahkan setelah bertahun-tahun, posisi orang itu semakin berakar kuat di dalam hatinya.
“Kamu tunggu di sini sebentar, aku ambil mobil dulu,” ucap Daniel.
“Baik.”
Lorie mengangguk dengan patuh. Ia tahu Daniel tidak pernah membawa sopir. Ia juga tahu bahwa Daniel tidak suka kemewahan, tapi demi mengesankan dirinya, pria itu rela membawanya ke tempat mahal dan romantis seperti ini, sungguh menyentuh hati.
Lorie menatap punggung Daniel yang menjauh. Pria itu terlihat begitu dominan dan mengintimidasi, siapa yang menyangka sifatnya akan begitu tidak tahu malu.
“Lorie! Menyingkir!”
Lorie menoleh secara refleks ke arah suara yang berteriak kencang itu. Suara itu terdengar sedikit familiar. Akan tetapi, kilasan cahaya yang menyilaukan dari sisi kanan membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas. Samar-samar seperti ada seseorang yang menerjang ke arahnya, melompat dengan sekuat tenaga dan ingin meraihnya.
Raymond?
Lorie terkesiap. Belum sempat merespon, tubuhnya sudah tersentak ke samping. Decit suara ban yang tajam seolah hendak memecahkan gendang telinganya. Dalam satu kedipan mata, sesuatu menabrak tubuhnya dengan keras diiringi teriakan terkejut orang-orang.
Brak!
Tubuh Lorie yang melayang akhirnya terhenti ketika menghantam tembok. Seluruh tubuhnya gemetar. Pupil matanya menyusut saat rasa hangat yang pekat mengalir dari sela pahanya.
Napas Lorie tercekat. Rasa sakit yang sangat merambat dari tulang ekor hingga tulang leher. Tatapannya seketika menjadi panik dan tak terkontrol. Ia ingin mengangkat tangan dan menyentuh perutnya, tapi ia merasa tulangnya seperti sedang dipatahkan satu per satu. Rasa nyeri yang mengaduk perutnya ditambah aroma besi berkarat yang khas membuatnya sungguh tidak sanggup lagi.
Sakit.
Rasanya sangat sakit hingga ia ingin mati saja.
"Lorie! Apa yang terjadi?! Brengsek!"
Daniel yang mendengar semua keributan itu berbalik dan hampir kehilangan kendali ketika melihat Lorie tergeletak di atas genangan darah. Ia berlari sekuat tenaga kembali kepada wanita itu.
Bibir Lorie yang gemetar tidak sanggup mengeluarkan suara sedikit pun saat sosok yang dikenalnya mendekat.
Ray ... bayinya ... maaf ...
Napas Lorie termengah-mengah. Tanpa sadar dua bulir bening yang terasa seperti magma mengalir di pipinya, panas dan membuat matanya berasap. Bayinya yang malang, apakah dia bisa bertahan?
Raymond berlutut di depan Lorie dan tidak tahu harus melakukan apa. Ia terlalu takut saat melihat darah yang keluar tanpa henti. Rasa bersalah karena tidak sempat menarik tangan Lorie tepat waktu membuat otaknya hampir gila. Seluruh tubuhnya berguncang hebat saat melihat kondisi Lorie yang mengenaskan. Tangannya tidak bisa memegang ponsel dengan benar sehingga benda itu tergelincir beberapa kali.
“Ambulans! Cepat telepon ambulans! Sialan!” teriaknya pada kerumunan orang-orang yang berkerumun dan menonton.
Untunglah ada salah seorang pria yang sudah bertindak tangkas dan menghubungi pihak rumah sakit. Ia segera menyahut, “Aku sudah menelepon rumah sakit terdekat. Ambulans sedang dalam perjalanan.”
Raymond bahkan tidak ingat untuk mengucapkan terima kasih. Ia hanya terus berlutut seperti itu dan menatap Lorie dengan ekspresi yang dipenuhi rasa sakit. Seandainya semua rasa sakit itu bisa dipindahkan, ia akan menanggungnya dengan sukarela.
“Minggir! Brengsek!” Daniel mengumpat sambil membelah kerumunan. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika melihat tubuh Lorie yang terkulai seperti daun lisut.
“Lorie,” panggilnya dengan suara serak. Ia berjongkok dan ingin menyentuh bahu wanita itu, tapi Raymond menepis tangannya dengan tegas.
“Jangan sentuh! Kita tidak tahu bagian mana yang cedera! Tunggu para medis datang!”
Seruan itu membuat Daniel tidak berani melakukan gerakan apa pun lagi. Ia hanya melirik Raymond dengan tajam. Melihat pria itu yang kehilangan fokus. Ia juga tidak berani membantah karena apa yang diucapkannya itu benar.
Bagaimana pria ini bisa ada di sini?
Tentu saja pertanyaan itu tidak ia ucapkan. Ia meremas dan mengurai jemarinya beberapa kali. Lalu menggeram pelan dan bangkit berdiri. Saat ini ia sungguh membutuhkan pelampiasan untuk emosinya yang campur aduk.
Ia tidak ingin dan tidak sanggup membayangkan kalau sampai terjadi sesuatu kepada Lorie.
Tidak.
Tidak boleh.
***