
Raymond menatap pantulan seluruh wajah dan lehernya yang memerah seperti bara. Rahangnya mengatup rapat. Kedua tangannya mencengkeram sisi wastafel dengan sangat erat. Sebagai seorang dokter, ia bisa menebak apa yang menyebabkan tubuhnya bereaksi seperti ini.
Makan malamnya sudah lewat tiga jam lalu, itu artinya satu-satunya hal yang bisa membuatnya seperti sekarang ini adalah kopi yang baru saja diberikan oleh Alice.
Dalam hati ia sungguh berharap dugaannya itu salah. Akan tetapi, saat melangkah keluar dan melihat Alice sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan pose yang sedikit ambigu, Raymond tahu itu benar perbuatan kekasihnya. Ia mengalihkan tatapannya dan menggeram seperti seekor singa yang terluka.
“Apa yang kamu lakukan, Alice?” tanyanya.
Sepasang mata pria itu menyala seperti api saat ia kembali bertanya, “Apa yang kamu campur dalam kopi itu?”
Alih-alih takut melihat amarah itu, Alice justru tersenyum dengan sangat lembut. Ia mengulurkan jemarinya yang lentik dan menarik lepas ikatan piyamanya. Dalam sekejap seluruh tubuhnya terekspos di hadapan Raymond. Ia merasa sangat senang melihat reaksi pria di hadapannya. Tidak sia-sia ....
Tanpa bisa ditahan, inti tubuh Raymond memberi reaksi di luar kendali, dan itu membuatnya hampir tidak bisa menahan diri. Biar bagaimanapun, ia adalah pria normal, tidak mungkin tidak mengeras saat melihat tubuh molek separuh telanja*g yang berdiri dalam jarak sedekat ini.
Seluruh tubuh Raymond gemetar hebat. Seolah setangki bensin baru saja disiramkan ke dalam kobaran api, seluruh tubuhnya menggeliat dengan tidak nyaman. Seperti sedang bertarung antara hidup dan mati, pria itu menggertakan gigi dan menahan sekuat tenaga agar tidak menerjang ke tubuh kekasihnya dan menindihnya dengan keras.
Namun, saat seluruh kesadarannya sudah hampir runtuh, seulas senyum cerah seorang gadis bermata jernih mengaburkan siluet Alice di depannya.
Lorie.
Lorie.
Lorie.
Nama itu bergema seperti mantra yang menjaga agar kesadarannya tetap terjaga. Telinga Raymond berdenging keras sehingga rasanya gendang telinganya akan pecah saat itu juga. Ia meringkuk sambil menekan kedua telinganya erat-erat, menekan rasa sakit yang menusuk hingga urat syaraf dalam tempurung kepalanya hampir putus.
“Ray?” Alice ikut berjongkok dan menyentuh pundak Raymond dengan sangat lembut. “Aku ....”
“Pergi!” seru Raymond seraya menepis tangan wanita itu. “Aku tidak menyangka kamu akan melakukan hal ini, Alice. Kamu ... menjijikkan ....”
Sontak seluruh tubuh Alice menegang. Matanya yang bercahaya perlahan meredup, menatap tajam ke arah Raymond yang masih menunduk dengan ekspresi yang campur aduk.
Menjijikkan?
Dia bilang menjijikkan?
Bukankah hanya tidur bersama saja?
Kita juga akan segera menikah!
Apanya yang menjijikkan?!
Alice mendongak dan menghalau embun di pelupuk matanya yang terasa panas. Raymond benar-benar sudah berubah. Pria itu benar-benar sudah berubah. Dia bukan lagi Raymond yang dulu, Raymond yang selalu memanjakannya dengan sepenuh hati.
Suara Alice terdengar seperti desau angin di musim gugur, membawa sehelai daun kering yang kesepian dan terombang-ambing di udara tanpa tujuan.
Raymond, yang merasa pertahanan dirinya akan runtuh kapan saja, segera merayap bangun dan kembali masuk ke kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan itu.
Blam!
Suara pintu yang terempas dengan sangat keras membuat Alice terkejut dan terjungkal ke belakang. Ia duduk di atas lantai dan menatap nanar pada pintu yang tertutup rapat. Bahkan di bawah pengaruh obat dan dirinya yang setengah telanja*g, Raymond masih bisa menolaknya. Dia menolaknya dengan sangat keras. Seluruh harga diri wanita itu hancur berkeping-keping. Bahkan saat ia sudah merendahkan diri sampai di titik ini, Raymond masih menolaknya.
“Apa ini semua karena Lorie?” tanya wanita itu dengan sangat sedih. Ia benar-benar sudah separuh menangis.
Di dalam, Raymond yang bersandar di balik pintu masih bisa mendengar pertanyaan itu. Ia termenung dan linglung.
Apakah karena Lorie?
Kalau iya, mengapa Lorie?
Kalau tidak, mengapa ia tidak bisa menyentuh Alice lagi?
Mengapa ...?
Keringat membasahi tubuh Raymond. Ia mengerang pelan dan berjuang untuk pergi ke *bathtub*. Setelah berbaring di dalamnya, ia menyalakan keran dan membiarkan air dingin merendam seluruh tubuhnya hingga leher. Ia memejamkan mata dan bernapas dengan terengah, setengah mati mengumpulkan pasokan oksigen agar bisa mengembalikan kesadaran otaknya yang sedang kacau.
Di luar, Alice merangkak bangun dengan berurai air mata. Hatinya terasa masam dan pahit. Penghinaan ini, ia tidak bisa menerimanya. Ada begitu banyak pria yang bersedia membersihkan alas kakinya, demi apa ia harus merendahkan diri seperti ini dan tetap ditolak? Ia merasa sangat teraniaya.
Lorie ...
Kedua tangan Alice terkepal erat hingga kuku-kukunya menancap dalam daging. Kesedihan di matanya perlahan digantikan kebencian. Kebencian yang sangat dalam, seperti jurang neraka yang mengisap habis apa pun yang mendekat.
Wanita itu menyusut hidungnya dan mengusap sisa air mata. Dengan cepat ia berganti pakaian, membereskan semua barang-barangnya dan memesan taksi online.
Sudah diputuskan, malam itu juga ia akan kembali ke Italia. Masalah ia akan tetap menikah dengan Raymond Dawson atau tidak, tergantung bagaimana pria itu memperlakukannya setelah sadar nanti. Lagi pula, kedua orang tua mereka sudah sepakat ... tidak akan mudah kalau ingin memutuskan hubungan begitu saja.
Jadi, mungkin sekarang yang bisa ia lakukan adalah kembali ke Italia. Ia ingin tahu bagaimana sikap Raymond setelah tahu ia pergi. Kalau cukup memuaskan, mungkin ia tidak akan mempermasalahkan apa yang terjadi malam ini dan tetap bersedia menjadi Nyonya Dawson.
Alice tampak cukup puas dengan pemikirannya itu. Wajahnya mendongak dengan angkuh saat ia menyeret koper keluar rumah, lalu masuk ke dalam taksi yang akan membawanya ke bandara.
***