Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 63


Raymond tidak ingat bagaimana caranya ia kembali ke bandara, juga tidak bisa mengingat seluruh proses hingga ia masuk dan duduk di dalam pesawat. Tubuhnya seperti diambil alih oleh alam bawah sadarnya dan beroperasi secara auto pilot.


Rasanya seperti ada ribuan kembang api yang meledak secara bersamaan di dalam tempurung kepalanya sehingga mengacaukan semua sistem syarafnya. Pikirannya hanya dipenuhi oleh Alice dan Lorie. Seluruh rentetan peristiwa dua bulan terakhir muncul ke permukaan, satu demi satu ... menyiksanya sedemikian rupa hingga rasanya ia ingin menghancurkan apa pun yang ada di hadapannya.


Ia begitu mencintai Alice. Atau tadinya ia berpikir seperti itu. Tadinya ia sangat mencintai wanita itu. Alice yang lembut dan manis ....


Mereka bertemu di UGD saat wanita itu keracunan makanan dan sekarat karena detak jantungnya yang melemah. Untungnya Raymond berhasil melakukan tindakan yang tepat untuk menyelamatkan nyawanya. Sejak saat itu, hubungan mereka berdua menjadi lebih intens, lalu resmi menjadi sepasang kekasih dua bulan kemudian.


Karena kesibukan pekerjaan masing-masing membuat mereka sangat jarang bisa bertemu, hal itu pulalah yang membuat Raymond sangat memanjakan kekasihnya itu. Akan tetapi, sekarang ... ia bahkan tidak sanggup mengingat kembali apa yang baru saja dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri beberapa jam lalu.


Pria itu ... Lucas, hampir seumuran ayahnya! Benar-benar menjijikkan.


Raymond menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mendesah keras. Ia tidak sanggup membayangkan jika kemarin ia menyerah dan tidur dengan Alice, apakah wanita itu akan mengakui bahwa bayi yang sedang dikandungnya sekarang adalah miliknya?


Itu merupakan trik yang kejam dan tidak bermoral. Raymond tidak bisa menolerirnya sama sekali.


“Sir, Anda baik-baik saja?”


“Uh?” Raymond membuka mata dengan linglung.


“Oh ... baik. Um, bisa tolong ambilkan kopi?” gumamnya lagi saat melihat seorang pramugari sedang berdiri dan tersenyum di hadapannya.


“Baik. Tunggu sebentar.”


Pramugari itu bergegas pergi untuk mengambil apa yang diminta oleh penumpangnya. Sejujurnya ia sedikit cemas sejak melihat pria itu memasuki pesawat. Wajahnya tampak seperti sedang kesakitan. Syukurlah sepertinya itu hanya rasa khawatirnya yang berlebihan saja. Dengan sigap pramugari itu membawa nampan berisi kopi dan kembali ke tempat duduk Raymond.


“Silakan, Sir. Kalau ada apa-apa, silakan panggil saya,” ucapnya seraya tersenyum manis.


“Terima kasih, Nona.” Raymond menerima kopinya dan mengangguk sekilas.


Setelah wanita itu pergi, Raymond meniup permukaan gelas dan menyesap isinya perlahan. Ia sungguh membutuhkan kafein untuk membantu agar kesadarannya tetap terjaga selama sisa perjalanan. Jelas ia tidak akan bisa tidur lagi. Bagaimana ia bisa memejamkan mata setelah mengalami mimpi buruk yang mungkin akan menghantuinya seumur hidup?


Hati dan nuraninya merasa sangat bersalah kepada Alice selama berminggu-minggu, di samping rasa bersalahnya kepada Lorie tentu saja. Ia tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik karena merasa telah menodai hubungannya dengan Alice yang sebentar lagi akan memasuki jenjang pernikahan. Namun, lihatlah apa yang terjadi sekarang.


Alice mengandung anak pria lain.


Lorie entah berada di mana.


Bagus.


Bagus sekali.


Tanpa sadar seulas seringai yang lebih mirip cibiran sinis muncul di wajah Raymond. Jika ada yang patut untuk diejek dan ditertawakan, itu adalah dirinya. Dirinya yang begitu bodoh hingga dipermainkan seperti ini ... entah sudah berapa lama.


Raymond terkesiap dan menatap kopi yang sudah dingin di dalam gelas. Rupanya ia hanya menyesap cairan itu satu kali dan tidak menyentuh sisanya lagi. Ia menatap gelas itu dengan sedikit heran.


Berapa lama ia melamun?


“Ada yang bisa saya bantu, Sir?”


Pramugari yang menanyakan keadaan Raymond dan membuatkannya kopi kembali menghampiri dan berdiri di hadapan pria itu. Tampaknya ia benar-benar cemas melihat penampilan Raymond yang sedikit fokus.


Tidak, pria itu memang tidak fokus sejak memasuki pesawat. Dia tidak fokus dan tampak linglung selama perjalanan dari Italia ke New York City.


“Aku baik-baik saja,” jawab Raymond seraya berdiri untuk mengambil kopernya. “Terima kasih atas bantuan Anda, Nona.”


Pria itu lalu membaur bersama kerumunan dan turun dari pesawat. Alisnya yang tebal melengkung seperti busur panah, bertaut di keningnya sehingga memberi kesan muram. Beberapa kali ia menabrak orang yang berpapasan dengannya, juga hampir tergelincir ketika menaiki eskalator menuju lantai yang salah.


Suara percakapan yang bercampur dengan pengumuman dari pengeras suara membuatnya semakin pengar dan mual. Ia sempat berhenti di toilet dan muntah sampai hanya cairan masam dan pahit yang keluar dari lambungnya.


Ketika semua hiruk pikuk itu akhirnya usai, Raymond Dawson berdiri dengan linglung di depan gerbang utama kediaman Keluarga Smith. Ia baru sadar ketika seorang pelayan menyapanya dan bertanya siapa yang hendak ia temui.


“Apakah Nona Lorie ada di dalam?” tanyanya dengan suara serak sambil menatap pelayan itu penuh harap. Entah dari mana datangnya pertanyaan itu, ia sendiri tidak mengerti. Itu ... terucap begitu saja.


Sang pelayan yang melihat penampilan kacau pria di hadapannya itu merasa sedikit iba. Tentu saja ia mengenal Lorie karena ia sudah bekerja di Spring Mountains selama hampir separuh hidupnya. Namun, Tuan Alex juga sudah berpesan agar mereka tidak sembarang bicara kepada orang yang mencari Lorie.


“Maaf, Anda adalah?” tanyanya.


“Raymond. Raymond Dawson.”


Pelayan itu segera menghubungi Alex melalui interkom dan memberitahukan apa yang terjadi. Sedetik kemudian, ekspresi wajahnya yang penuh rasa iba berubah datar.


“Maaf, Anda tidak diterima di sini, Tuan Dawson. Silakan pergi,” ucap pelayan itu dengan intonasi yang sama dinginnya dengan ekspresi wajahnya.


Raymond menelan ludahnya dengan susah payah. Keningnya mengerut semakin dalam. Sebuah senyum kecut muncul di sudut bibirnya. Ia lalu berbalik dan pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi.


Kalau memang sudah ditakdirkan seperti ini, ya sudah. Mungkin memang dirinya yang bernasib buruk.


***


serius amat bacanya!


like woyyy likee🤣🤣