Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 21


“Alice!”


Raymond berdiri dan menangkup kedua tangan tunangannya. Ia berlutut dan menatap wanita itu dengan ekspresi memohon.


“Jangan begini, Sayang ... jangan memaksaku untuk memilih, aku tidak bisa ....”


“Kenapa tidak bisa? Apa temanmu itu begitu berarti sehingga kamu tidak bisa memutuskan apakah harus ikut denganku ke Boston atau tetap tinggal di sini untuk menunggunya?”


“Aku akan ikut denganmu, tapi tolong beri aku waktu sampai besok pagi. Oke? Aku janji akan—“


“Kamu tahu aku tidak bisa menunggu sampai besok. Acara di sana akan dimulai pukul sepuluh pagi, aku harus tiba lebih awal untuk gladi bersih.”


“Kalau begitu ... aku akan menyusulmu ketika urusan di sini sudah selesai, bagaimana? Kirimkan lokasimu nanti, aku akan mencari hotel terdekat dan kita bisa bertemu lagi.“


Alice menyipitkan matanya dan bersedekap. Ia tidak pernah melihat Raymond seperti ini sebelumnya. Selama tiga tahun mereka menjalin hubungan, pria itu selalu mengikuti setiap perkataan dan permintaannya tanpa pernah membantah satu kali pun. Akan tetapi, kali ini tunangannya begitu bersikeras karena seorang teman lama yang baru dijumpainya kemarin. Jelas ada hubungan yang tidak biasa di antara mereka. Instingnya sebagai wanita memberi sinyal bahaya, dan jelas ia tidak ingin bersaing dengan siapa pun untuk mendapatkan cinta.


“Lupakan, Raymond. Aku sudah mengatakannya dengan cukup jelas tadi, ikut denganku hari ini atau kamu bisa tinggal untuk menunggu Lorie, tapi jangan pernah menghubungiku lagi.”


“Alice!” Raymond berdiri dan memeluk kekasihnya erat-erat. “Jangan begini, aku mohon ... kamu tahu aku sangat mencintaimu, tapi kali ini saja ... tolong mengerti aku. Kali ini saja ....”


Alice menghela napas dan memejamkan matanya, kemudian mendorong tubuh Raymond untuk melonggarkan pelukannya.


“Baik, aku akan menunda keberangkatan sampai nanti malam. Pukul tujuh. Tapi hanya sebatas itu. Selebihnya, aku akan tetap berangkat dengan atau tanpa dirimu,” ucapnya.


Raymond tersenyum lebar dan menggangguk cepat. “Oke. Terima kasih, Sayang ... terima kasih. Aku sangat mencintaimu.”


Pria itu merasa lega luar biasa. Seharusnya Lorie tidak akan bersembunyi di dalam kamar sepanjang hari, ‘kan? Ia akan menyelesaikan masalahnya dengan Lorie sebelum sore dan berangkat ke Boston bersama Alice.


***


Di ruangan pengap yang berbau apak, dua orang pria bersenjata yang berdiri paling dekat dengan Lorie sedikit panik. Gelembung udara yang biasanya muncul dengan ritme teratur kini berbuih seperti ada pusaran udara yang bergerak naik dari kolam air. Sementara itu, tangan dan kaki Lorie menegang dan bergerak tak beraturan, berayun ke kanan dan kiri.


Digantung dengan kepala terendam dalam air selama berjam-jam bukanlah jenis siksaan yang ringan. Bahkan seorang pria pun belum tentu bisa menahannya selama itu.


“Apa kita harus melepaskannya?” tanyanya lagi.


Rekannya yang hanya mengenakan kaus oblong hitam menjawab, “Belum ada perintah dari bos.”


“Tapi bos mengatakan agar jangan sampai dia mati.”


Kedua orang pria itu ragu dan saling menatap. Akhirnya si kaus oblong memanggil temannya yang lain dan meminta pendapatnya.


“Lepaskan saja, kalau dia mati, maka kita juga akan mati,” ucap pria bertopi basebal itu ketika melihat gelembung air sudah berhenti dan tidak ada pergerakan lagi dari Lorie.


Akhirnya ketika orang itu bekerja sama untuk mengangkat kepala Lorie dan menyingkirkan tong air ke samping. Benar seperti tebakan mereka, wanita yang terikat itu sudah benar-benar pingsan ketika akhirnya ikatan yang membuat tubuhnya jungkir balik dilepaskan.


Bunyi berdebam yang keras terdengar ketika tubuh Lorie terempas ke atas lantai. Ia ditinggalkan begitu saja di atas ubin yang dingin. Setelah beberapa menit terbaring meringkuk seperti udang, Lorie terbatuk pelan dan memuntahkan air yang memenuhi perut dan paru-parunya. Rasa sakit yang sangat terasa menusuk dadanya setiap kali ia menarik napas, membuatnya meringis kesakitan dan tersedak beberapa kali.


Wanita itu mengatur deru napasnya yang memburu dan memejamkan mata. Dalam sekejap lantai yang dingin menggerogoti permukaan tubuhnya yang terekspos.


Kedua tangannya yang terikat di balik punggung terasa kebas dan mati rasa. Entah sudah berapa lama ia berbaring dengan posisi telentang. Sejak sinar matahari perlahan memudar dari lubang ventilasi, ia sudah berhenti menghitung waktu.


Setelah punggung dan pahanya mulai terasa membeku dan sama kerasnya dengan ubin di bawah tubuhnya, ia mengerang pelan dan mencoba untuk berbaring miring. Akan tetapi suara tawa yang kejam dan dingin seketika membuat tubuhnya menegang dan berhenti bergerak. Tak lama kemudian, sebuah tangan yang kekar mencengkeram dagunya dengan sangat kencang, memaksanya untuk mendongak ke arah wajah bengis yang sedang menyeringai lebar dan menatap penuh minat kepadanya.


“Bagaimana, sudah ingin menghubungi Alex Smith?”


“Pergi mati,” gumam Lorie sambil menyeringai sinis.


Luka sobek di wajahnya tampak berkali lipat lebih menyeramkan karena terendam air tanpa diobati, mungkin bahkan sudah infeksi, tapi sikapnya yang menjengkelkan itu membuat Rafael sangat ingin mencekiknya sampai mati.