
"Pokoknya, Mommy tidak mau tahu Gio, jika dalam 2 bulan ini Tara tidak kunjung hamil, itu artinya kamu harus menikah dengan sera adik kamu itu. Dan Mommy tidak menerima penolakan apapun lagi dari kamu," ucap Lydia berdekap tangan. "Mommy juga mau mengatakan, kalau kamu, Tara jika tidak mau dimadu kamu boleh melanjutkan gugatan cerai itu, sesuai dengan apa yang kedua orang tua kamu inginkan, toh Gio tidak akan rugi juga bila berpisah darimu dan justru kamu yang rugi jika berpisah dengan Gio, laki-laki yang memiliki segudang pesona," lanjut Lydia.
"Mom, sudah jangan seperti ini," bisik Malvin memperingati istrinya. "Jangan terus-terusan menuntut Gio dan Tara untuk memberikan kita cucu, karena Daddy yakin jika Tuhan sudah berkehendak maka Tara pasti akan hamil dalam waktu dekat ini," ucap Malvin masih dengan berbisik di indra pendengaran Lydia. Sebab laki-laki itu tidak mau di dengar oleh Tara dan Gio. "Sekarang kita pulang saja, biarkan putra dan menantu kita beristirahat, karena saat ini mereka butuh dukungan bukan malah Mommy mau ikut-ikutan membuat Gio berpisah dari Tara," lanjut Malvin.
Lydia dengan cepat memalingkan muka. "Gavin, obati tuan muda-mu yang sekarang menjadi bo doh ini!" seru Lydia ketika ia melihat Gavin hanya bisa menunduk setelah tadi berhasil mendobrak pintu kamar pasangan suami istri itu.
Sedangkan Tara dan Gio sama-sama terdiam, sebab mereka larut dalam pikiran masing-masing. Dan mungkin juga mereka sudah terlalu lelah dengan semua ini sehingga rasa amarah serta kesal pada Lydia hanya bisa mereka simpan di dalam benaknya. Bukan kesal dengan orangnya. Namun, pola pikir Lydia yang membuat Gio dan Tara merasa sangat muak. Sehingga membuat mereka memilih untuk bungkam saja, daripada nanti masalahnya semakin rumit.
"Hanya dua bulan, dan jika itu lewat, maka Mommy tidak mau tahu!" ketus Lydia yang kemudian berjalan pergi sambil berkata, "Obati Gio dengan cepat Gavin, sebelum dia kehilangan banyak darah. Karena golongan darah Gio sangat langka, dan jika terjadi sesuatu dengan Gio maka kita akan kesusahan mencari darah untuknya."
"Baik Nyonya besar, saya akan mengobati luka pada telapak tangan Tuan muda!" sahut Gavin menimpali. Dan laki-laki itu dengan segera berlari, karena ia ingin mencari kotak obat P3K.
Malvin yang masih berdiri di sana dengan cepat mendekati menantu serta putranya. "Daddy akan tetap mendukung kalian, semoga ini semua hanya ujian di dalam rumah tangga kalian. Dan Daddy akan berdoa semoga cinta kalian kekal abadi, yang hanya dapat dipisahkan oleh kain putih saja," ucap Malvin bersungguh-sungguh dan ternyata hanya Malvin yang mendukung Tara dan Gio untuk tetap bersama sedangkan yang lainnya sangat berharap kalau Tara dan Gio harus cepat-cepat berpisah. "Ingat Daddy akan ada di pihak kalian. Jadi, kalian berdua tenang saja."
Tara sudah dari tadi meneteskan air mata karena ia merasa kalau hatinya saat ini benar-benar sedang dipermainkan. Bagaimana tidak? Di saat wanita itu sudah membulatkan tekad untuk berpisah dengan Gio, kini pikiran Tara malah berubah. Dimana ia sekarang merasa tidak ingin lagi berpisah dengan sang suami. Melihat ketulusan laki-laki itu dan ditambah dengan kalimat dukungan Malvin.
"Apa aku harus bertahan, atau pergi dari kehidupan Gio, Tuhan …," gumam Tara membatin.
***
Tanggal 29 Maret 2023, rupanya Gio benar-benar membawa Tara ikut dengannya ke luar Negeri, tepat di pagi-pagi buta hari ini. Setelah tadi malam pasangan suami istri itu sudah sempat berbaikan dan beramah-ramahan. Sehingga sekarang mimik wajah Tara sudah tidak masam lagi.
"Maaf, karena aku sudah membuang ponselmu," kata Gio sambil memberikan Tara ponsel baru dengan logo di belakang ponsel itu adalah satu buah apel yang telah digigit setengah. "Ini sebagai gantinya, dan aku mohon untuk jangan menghubungi papa dan mama dulu, karena aku tidak mau kalau sampai mereka masih saja berniat untuk memisahkan kita," ucap Gio sambil mengelus punggung tangan Tara. Karena posisi mereka saat ini sedang ada di ruang makan. Sebab Gio mengajak Tara untuk sarapan sebelum mereka akan berangkat ke bandara. "Jujur saja Tara, aku benar-benar tidak ingin berpisah darimu. Oleh sebab itu, aku melakukan semua ini, karena jika, Mommy, mama dan papa ikut campur terus maka aku yakin lambat laun kita akan berpisah. Namun, kamu tenang saja untuk mengatasi semua ini cukup dengan kita pergi dadi Indonesia dan kita akan tinggal di Negara A, apa kamu mau?"
Tara mengerti apa yang dimaksud oleh Gio saat ini. Namun, Tara merasa sepertinya tidak bisa jauh-jauh dari kedua orang tuanya. Membuat wanita itu hanya bisa diam saja tanpa merespon ucapan sang suami. Sehab Tara saat ini sedang ada di dalam dilema antara memilih setuju untuk tinggal di Negara A atau tetap tinggal di Indonesia. Membuat seorang Tara langsung saja berpikir keras sehingga ponsel yang tadi sang suami berikan, Tara malah mengabaikannya.
Tara yang di tanya mengangguk. "Iya, aku mendengarmu," jawab Tara singkat.
"Jadi, apa kamu mau tinggal di Negara A? Di Sana tidak akan ada yang mengusik rumah tangga kita, disana juga tidak akan ada orang-orang yang menanyakan kapan kita punya anak. Bagaimana, apa kamu setuju?"
"Apa ini semua tidak terlalu berlebihan?" Tara malah bertanya balik pada sang suami.
"No, Sayang! Ini tidak terlalu berlebihan," jawab Gio. "Kita hanya ingin hidup bahagia dan tenang, jauh dari suara-suara yang bisa membuat kamu sakit hati dan membuat mental kamu down. Karena tugasku sebagai suami harus tetap memastikan kalau istriku ini harus bahagia dan jika istriku tidak merasa bahagia maka aku tidak pantas di sebut sebut sebagai seorang suami," sambung Gio.
"Aku hanya tidak ingin jauh-jauh dari Mama dan Papa," gumam Tara pelan. Karena apa yang dikatakan oleh Tara memang benar di mana wanita itu tidak bisa jauh dari kedua orang tuanya.
Mengingat saat ini kakaknya Tika malah berubah menjadi wanita yang sangat jahat. Oleh sebab itu, Tara menjadi takut jika berjauhan dengan Yana dan Arzan sebab Tika bisa saja melakukan hal gila dan di luar nalar. Karena sebagian besar tingkat penduduk di bumi ini isinya manusia-manusia yang munafik saja, dan ingin mendapatkan sesuatu hal dengan cara yang sangat licik. Termasuk Tika, wanita itu pasti akan rela melakukan apa saja demi mendapat kasih sayang seperti yang ia inginkan. Termasuk Tika bisa saja berbuat hal nekat dan pastinya membuat orang lain menjadi rugi.
"Kita akan bisa memantaunya dari Negara A, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu semua," balas Gio yang terus berusaha meyakinkan sang istri. "Kita tunggu pekerjaanku semuanya selesai di Negara Spanyol, dan setelah itu baru kita pindah ke Negara A. Sedangkan untuk surat pindahnya kita serahkan saja semuanya pada Gavin, karena itu adalah pekerjaan tangan kananku yang memiliki otak yang sangat cerdas itu."
"Biarkan aku memikirkan semuanya dulu Gio, karena rasanya untuk saat ini otakku tidak bisa diajak untuk berpikir keras," timpal Tara. Yang saat ini benar-benar merasa kala wanita itu belum bisa berpikir dengan baik.
"Oke, aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir dulu Tara," ucap Gio membalas kalimat sang istri. "Sekarang ayo sarapan, biar kita bisa cepat-cepat sampai ke bandara, mengingat Gavin sudah menunggu kita disana."
Tara menatap sang suami, dan pada saat itu juga Tara merasa kalau memang benar Gio adalah laki-laki yang tidak neko-neko.
"Jangan menatapku seperti itu Tara, karena lebih baik kamu sekarang sarapan saja," celetuk Gio yang tahu saat ini sang istri sedang menatap dirinya. Padahal posisi kelapa Gio saat ini sedang menunduk, namun laki-laki itu bisa tahu kalau Tara sedang menatapnya.
Note: Inilah kehidupan pasangan suami istri, sering bertangkar namun ujung-ujungnya pagi menjelang malah keramas.