Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
25


"Halo, Gavin, aku minta kamu dengan cepat bawa surat perjanjian itu masuk sekarang juga." Rupaya Gio langsung saja mengbungi Gavin, karena ia tidak mau kalau Tara nanti malah berubah pikiran. Oleh sebab itu, Gio harus bertindak cepat dengan cara akan menyuruh Tara menandatangani surat perjanjian yang telah ia buat. Karena baginya ini salah satu kesempatan yang tidak boleh di sia-siakan. Mengingat suasana hati Tara sangat cepat berubah-ubah. "Gavin, apa kamu mendengarkan aku?" tanya Gio, karena laki-laki itu tidak mendengar suara Gavin dari seberang telepon. "Gavin," panggilnya sekali lagi.


"I-iya Tuan, saya akan mengambil surat perjanjian itu dulu." Gavin akhirnya membuka suara setelah lama terdiam.


"Jadi, kamu tidak membawa surat perjanjian itu, begitu maksud kamu, Gavin?"


"Hehehe, iya Tuan. Tapi Anda tenang saja. Saya akan pulang dan mengambilnya, sekalian saya mau mengantar kepala pelayan. Karena Nona Sera mencarinya," jawab Gavin panjang lebar. "Mohon Anda bersabar dulu Tuan muda, dan suruh saja Nona Tara untuk tidak berubah pikiran, karena saya janji akan datang tepat pada waktunya," sambung Gavin.


"Ya sudah, kamu jangan diam saja di sana. Sekarang berangkatlah!" perintah Gio yang kemudian memutuskan panggilan itu.


"Apa katanya?" tanya Tara.


"Kamu tenang saja, Gavin akan segera membawa surat perjanjian itu jadi, kamu tidak usah khawatir," jawab Gio. Sambil terus saja menatap Tara. "Aku harap ini serius, bukan malah akal-akalanmu saja dalam membohongiku, Tara. Karena aku tahu gadis sepertimu sepertinya suka sekali berdusata," ucap Gio, sehingga membuat gadis bermata lebar itu terdengar mendesis.


"Aku bukan pembohong, ataupun pendusta seperti yang kamu katakan, Gio! Jadi, jangan katakan itu, aku tidak suka!" ketus Tara dan gadis itu langsung saja memalingkan wajah ke arah tembok. "Bisa-bisanya, kau selalu saja berpikiran buruk padaku. Padahal niatku ini tulus ingin melahirkan anak untukmu! Tapi apa? Kamu malah berpikiran buruk padaku, sungguh kau memang laki-laki yang tidak memiliki perasaan," gerutu Tara dengan suasana hati yang dongkol. "Jika kau begini, maka aku tidak akan mau melahirkan anak untukmu!"


Gio langsung saja duduk di atas bed ketika ia mendengar kalimat sang istri. "Jangan begitu tadi kamu 'kan, sudah berjanji padaku. Masa kamu mau mengingkarinya secepat ini?"


"Ini semua gara-gara mulut kamu yang mengeluarkan kata-kata yang bikin moodku memburuk!"


"Iya sudah, aku minta maaf," kata Gio yang mengalah dengan cepat. "Jangan merajuk lagi ya," pinta laki-laki itu.


***


Sore menjelang malam, tapi Gavin sama sekali belum kelihatan batang hidungnya membuat Gio jadi berpikir kalau Gavin telah mengabaikan perintahnya. "Kemana dia, kenapa sampai sekarang belum juga datang?" Gio terlihat duduk lalu berdiri dan duduk lagi. Karena laki-laki itu benar-benar Gelisah. "Mana nomor ponselnya tidak aktif lagi, dan tidak seperti biasanya dia begini." Gio lalu melihat jam di pergelangan tangannya. "Kira-kira, pegi ke mana dia?" Saat Gio terus saja berbicara pada dirinya sendiri, tiba-tiba saja Gavin terlihat datang lagi bersama Alexa. Membuat kening Gio mengkerut sebab laki-laki itu saat ini sedang di landa kebingungan.


"Maaf Tuan, saya datang terlambat. Karena ... karena Nona Sera kembali lagi mengamuk dan hampir saja melukai dirinya sendiri, gara-gara Nyonya besar memberitahunya tentang Anda yang sudah menikah dengan Nona Tara," kata Gavin langsung tutup Poin, karena ia tidak mau kalau sampai Gio salah paham pada dirinya. "Namun, Nona Sera berhasil memecahkan vas bunga, dan melukai Nyonya besar," lanjut Gavin.


Gio yang mendengar itu melotot sempurna. "Apa yang anak itu lakukan? Bisa-bisanya kepribadian gandanya bangkit lagi. Setelah sekian lama tidak terjadi hal seperti ini lagi." Gio benar-benar merasa harus mengirim Sera untuk melakukan pengobatan di luar Negeri. "Terus, bagaimana keadaan Mommy saat ini?" Gio jelas saat ini terlihat panik karena sang ibu, terluka atas perbuatan Sera. Adik angkat yang sangat ia sayangi itu.


"Nyonya besar hanya mengalami sedikit luka di bagian pergelangannya saja Tuan muda," jawab Alexa yang ikut memberikan Gio kesaksian supaya tuannya itu tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan Lydia.


"Urus keberangkatan Sera untuk melaukan pengobatan lagi seperti dulu, Gavin, suapaya hal serupa seperti ini tidak terjadi lagi," kata Gio.


Gavin memberikan surat perjanjian itu dulu kepada Gio, Sebelum ia membalas kalimat tuannya itu. "Ini surat perjanjian itu dulu Tuan. Dan untuk masalah Nona Sera, Tuan besar sudah langsung mengirim Nona Sera ke luar Negeri."


"Rupanya, Daddy bisa bergerak dengan cepat juga, tanpa meminta pendpatku," sahut Gio sambil mengambil surat itu. "Oh ya, aku lupa menayakan sesutau kepadamu, Gavin." Gio lalu mengajak Gavin untuk duduk di kursi tunggu. Depan kamar rawat inap Tara. "Ponselmu ada, tapi kenapa kamu tidak menggunakan itu saja untuk menghubungiku? Suapaya aku tidak berpkiran buruk padamu."


"Maaf Tuan muda, ketika saya sedang mencoba menghalangi Nona Sera untuk tidak melompat dari lantai tiga. Tiba-tiba saja ponsel saya terlampar sehingga ponsel saya menjadi korban," jawab Gavin dengan jujur dan sekarang ia terlihat memperlihatkan ponselnya yang hancur kepada Gio, supaya tuanya itu percaya dan tidak mengiranya mengada-ada saja. "Anda bisa melihat sendiri bagaimana keadaan ponsel saya sekarang, Tuan muda."


"Beli yang baru dan buang itu, sungguh ponselmu selalu saja berakhir seperti ini." Gio menggeleng-gelengkan kepalanya.