
Cahaya matahari pagi menerpa kulit Kinara, memberi sensasi yang membuatnya semakin bersemangat. Ia mengangkat kaki perlahan dan menapakkannya di atas rumput yang masih berembun.
"Ahhh ...."
Kinara menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Aroma hutan pinus membuatnya relaks.
"Hati-hati, Baby," ujar Alex sambil menahan pinggul dan bahu Kinara.
"Iya, Sayang," balas Kinara seraya melingkarkan tangan kanannya di lengan Alex.
Ia mendongak dan tersenyum bahagia. Hari ini adalah kali pertama mereka jalan pagi bersama di halaman The Spring Mountains. Ya, Alex memboyongnya kembali ke rumah ini bulan lalu karena kediaman ini sudah kosong sejak tragedi di gudang Andromeda Corporation.
Setelah kematian kedua orang tuanya, secara otomatis Spring Mountains menjadi milik Alex. Kinara tidak keberatan untuk pindah ke sini karena biar bagaimana pun, Alex dilahirkan dan dibesarkan di sini.
Lagipula, di tempat ini pula mereka pertama kali bertemu dan memulai awal kisah yang indah. Ia tidak keberatan untuk melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka di sini juga.
"Sudah kukatakan, ini masih terlalu pagi, Sayang," gumam Alex sambil merapatkan lilitan syal yang melingkar di leher istrinya.
"Aku suka aroma daun dan tanah yang basah karena embun, sangat segar dan menenangkan," balas Kinara dengan senyum lebar masih menghiasi wajahnya.
Kedua kakinya sudah pulih dengan cukup baik. Meski ada sedikit rasa tidak nyaman ketika ia berjalan, kata dokter itu adalah hal yang normal karena ia membawa tiga bayi bersamanya. Hal itu membuat beban yang ditumpu oleh kakinya semakin berat. Semua perasaan tidak nyaman itu akan menghilang dengan sendirinya ketika jagoan-jagoan kecil dalam rahimnya sudah lahir.
Alex tidak ingin mendebat istrinya dan membuat mood wanita itu rusak. Memasuki usia kandungan yang ke delapan, Kinara semakin kesulitan untuk tidur. Terkadang Alex harus ikut bergadang semalaman sambil mengusap-usap punggung Kinara agar istrinya itu merasa lebih nyaman. Itu cukup membuatnya kesal dan frustasi karena tidak ada hal lain yang dapat ia lakukan untuk membantu istrinya.
Ia pun sering merasa tidak tega ketika melihat perut istrinya membesar hingga kulitnya terlihat meregang kencang, persis seperti balon yang ditiup hingga batas maksimal. Jadi, ketika melihat Kinara sedang dalam kondisi hati yang sangat bagus seperti sekarang membuatnya ikut merasa senang dan lega.
"Tunggu sebentar," pintanya sambil menghentikan langkahnya. Ia menghadap Kinara, merapatkan ujung sweater wanita itu dan mengancingkannya.
Sekarang sudah di penghujung musim panas, cuaca jadi lebih dingin dan lembab dibanding biasanya. Ia khawatir Kinara akan terkena flu. Kondisi kesehatan istrinya itu akhir-akhir ini menurun meski dokter sudah memberi obat-obatan dan penanganan yang terbaik. Hal itu sungguh membuatnya sangat cemas. Namun, melihat Kinara yang menghadapi semuanya dengan tetap bersikap tenang mampu mengurangi rasa takutnya yang sedikit berlebihan.
"Sayang!" seru Kinara seraya menarik tangan Alex dan menempelkannya di perut. Matanya bersinar seperti bintang kejora.
Raut wajah Alex seketika berubah menjadi sangat antusias. Ia menyentuh permukaan perut istrinya dengan lembut dan bergumam, "Mereka menendang."
"Lihat, mereka juga menyukai udara pagi," kata Kinara sambil menyeringai lebar.
Mata Alex menyipit ketika gerakan di perut istrinya mulai terasa lebih kuat dan kasar.
"Apakah mereka sedang bertengkar?" tanya Alex, merasa sedikit curiga dengan gerakan-gerakan yang tidak normal itu. Biasanya bayi mereka bergerak dengan teratur, tidak seagresif ini.
Tiba-tiba Kinara menekan perut bagian kanannya dan mulai tersengal.
"Lex ...," desisnya dengan suara parau.
"B-aby ... Baby ... k-akimu. Darah. Ada darah," racau Alex dengan panik ketika cairan merah pekat mengalir di betis istrinya.
Dalam sekedar gaun hijau tosca yang dipakai oleh Kinara berubah warna. Aroma besi berkarat yang khas membuat kedua tangan Alex gemetaran.
"Lorie! Billy!" teriak Alex sekuat tenaga. Ia menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari bantuan.
Seharusnya Lorie atau Billy berada tidak terlalu jauh dari sana. Istrinya selalu merasa tidak nyaman jika diikuti oleh pengawal secara terang-terangan, oleh karena itu Alex meminta Billy dan Lorie menjaga jarak beberapa meter di belakang mereka.
"Sayang, sakit ... sakit ...," rintih Kinara sambil mencengkeram tangan Alex kuat-kuat.
"Sialan. Billy! Lorie!" teriak Alex lagi hingga urat-urat menonjol di leher dan pelipisnya.
"Panggil dokter Ana dan dokter Daniella sekarang!" serunya lagi ketika melihat dua orang yang ia panggil sedang berlari ke arahnya.
Dengan sigap Billy merogoh ponsel di dalam saku celana dan melakukan panggilan. Sedangkan Lorie berlari sekencang mungkin ke arah Kinara dan Alex. Ia langsung membuka jaketnya dan membentangkan benda itu di atas rumput, kemudian segera membantu Alex menahan tubuh Kinara yang sudah limbung.
Dengan sangat hati-hati dua orang itu membaringkan Kinara di atas jaket Lorie. Alex meletakkan kepala istrinya di pangkuannya, lalu mengusap wajah yang pucat pasi itu.
"Kinara. Jangan begini, kumohon," pinta Alex dengan pilu.
Baru saja mereka berbincang dan tertawa bersama. Mengapa semuanya berubah hanya dalam hitungan menit.
"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya Lorie dengan suara bergetar.
Melihat darah yang begitu banyak membuatnya ikut panik karena tidak tahu harus melakukan apa. Ia hanya pernah menangani luka tembak atau luka sayat, sama sekali tidak punya pengalaman untuk menghentikan pendarahan pada wanita hamil seperti ini.
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja dia berdarah," jawab Alex. Ia tidak berani memindahkan Kinara tanpa peralatan atau tindakan medis.
"Billy, di mana mereka?" tanya Alex ketika melihat Billy sudah berada di sampingnya.
"Dokter Daniella sedang ke sini. Aku sudah memberi tahunya agar membawa tandu," jawab Billy cepat.
Ia menyugar rambutnya dengan kasar lalu mendongak. Kondisi Kinara membuatnya ngilu. Darah yang begitu banyak ... aromanya benar-benar membuat mual.
Tidak. Bukan aroma darah yang membuatnya merasa mual, tapi karena rasa cemas dan khawatir pada nasib Kinara dan tiga orang bayi di dalam rahimnya. Ia juga tidak tahu harus mengatakan apa untuk menguatkan sahabatnya. Jika Elizabeth yang mengalami hal itu, ia pasti sudah kehilangan akal.
Suara sirine yang meraung dari kejauhan membuat Alex akhirnya bisa kembali bernapas dengan normal. Sejak tadi udara seakan tertahan di pangkal tenggorokannya. Tangan Kinara dalam genggamannya terasa dingin, lebih dingin dari udara di sekitarnya yang kini semakin membeku.
Alex bangun dengan linglung ketika beberapa petugas dengan seragam medis segera mengelilingi istrinya.
Tabung oksigen.
Infus.
Kantung darah.
Semua orang bergerak sangat cepat. Suara teriakan dokter Daniella yang memberi instruksi bergema di antara pohon pinus. Alex menatap darah istrinya yang menempel di kedua tangannya dengan nanar. Matanya terasa berkunang-kunang ketika mencoba untuk bangun. Untunglah Billy dengan sigap menahannya ketika hampir tumbang.
"Hey, hati-hati. Tenanglah. Dia akan baik-baik saja," ujar Billy seraya menepuk pundak Alex.
"Tidak. Dia tidak baik-baik saja. Dia tidak baik-baik saja, Billy ... anak-anakku ...."
Tersaruk-saruk Alex mengikuti tandu istrinya sampai ambulans. Sirine yang meraung-raung sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari tubuh Kinara yang terbaring dengan lemah. Perlahan, ia mengulurkan tangan untuk menyentuh jemari istrinya. Jari-jari mungil itu sedingin es.
Pelupuk mata Alex memanas. Ini kedua kalinya Kinara dibawa ke rumah sakit dengan kondisi yang menyedihkan. Namun, entah mengapa kali ini ia seakan merasakan sesuatu yang berbeda.
Ia menggenggam jemari istrinya erat-erat dan berbisik, "Kamu tidak akan meninggalkanku 'kan, Baby?"
***