Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
56


"Pa, aku tidak akan mau berpisah dengan Gio," tolak Tara meskipun wanita itu sudah mendengar deretan kalimat-kalimat yang dikatakan oleh sang ayah tadi. "Meski mommy Lydia mengatakan kalau aku ini mandul, aku tidak peduli Pa, yang terpenting aku dan Gio sama-sama saling mencintai. Bagi kami memiliki anak atau tidak, itu bukan masalah lagi untuk kami berdua," sambung Tara dengan bibir yang bergetar.


"Tidak masalah bagi kamu Tara, tapi lihatlah keluarga Gio selalu saja menuntutmu untuk bisa memiliki anak. Dan itu yang membuat Papa tidak suka," balas Arzan.


"Stop ikut campur dalam rumah tangga aku dan Gio, Pa. Karena orang tua sangat dilarang dalam hal ikut campur," ucap Tara tiba-tiba. Yang mengingatkan sang ayah. "Papa boleh tidak suka, Papa juga boleh membenci, tapi ada satu hal yang Papa harus tahu. Yaitu orang tua dilarang keras untuk ikut campur, ingat baik-baik itu Pa."


"Lantas kenapa ibu mertua kamu itu malah ikut campur dalam hal ini, Tara, coba jelaskan kepada Papa? Dan jangan katakan kalau dia boleh ikut campur dalam segi apapun itu."


Sedangkan Yana tidak bisa membela Tara untuk kali ini, karena apa yang di katakan oleh Arzan tadi membuat wanita itu sadar. Bahwa tidak akan ada yang sebaik dan setulus ibu kandung kita sendiri di dunia ini. Apalagi kasih sayang seorang ibu tidak bisa digantikan oleh mertua maupun siapapun itu.


Ditambah Yana tadi mendengar sendiri apa yang dilontarkan oleh Lydia, tentang meminta Gio untuk menceraikan putrinya hanya karena Tara tidak kunjung hamil sampai sekarang ini. Sedangkan dia dan Arzan sebagai orang tua Tara sama sekali tidak pernah menuntut putrinya untuk cepat-cepat hamil, supaya bisa memberikannya keturunan. Sebab, Yana dulu menanti kehadiran seorang buah hati juga selama enam setengah tahun. Baru wanita itu diberikan kepercayaan.


"Ma, tolong yakinkan Papa." Sekarang Tara terlihat beralih menatap sang ibu. "Mama ...," panggil Tara lirih.


"Maaf sayang, kali ini Mama memihak pada Papa kamu, karena Mama yang melahirkan kamu, merasa sangat sakit hati juga dengan ibu mertua kamu itu. Sehingga Mama menyatakan kalau Mama setuju kalau kamu berpisah dengan Gio. Daripada kamu yang akan terus-terusan di jadikan sebagai landasan. Dan satu lagi bahwa kamu harus ingat sayang, kamu ini bukan pohon yang tidak bisa pergi di saat hati dan perasaanmu dibantai habis-habisan oleh kenyataan pahit seperti ini."


"Menikahlah dengan keluarga yang tidak akan pernah ikut campur dalam urusan rumah tanggamu, dan menikahlah dengan laki-laki yang bisa menerima setiap kekurangan dan kelebihanmu itu." Arzan mengatakan itu supaya hati Tara menjadi sedikit terbuka dan tersentuh. Sebab di dunia ini semua orang tua ingin melihat anak-anaknya bahagia, meskipun dengan cara yang agak sedikit berbeda. Namun, percayalah tujuan semua orang tua itu sama saja. Diamana mereka tidak akan pernah rela perasaan anaknya di permainkan, apalagi di saat anak mereka terus-teruskan di tuntut untuk bisa cepat-cepat hamil. "Semoga kamu mengerti dan paham apa yang Papa katakan ini Tara," sambung Arzan.


Tara berdiri sambil mendobrak meja. "Hentikan Pa, jangan katakan omong kosong ini lagi!" pekik Tara yang tidak bisa mengontrol dirinya untuk saat ini. Karena audah terlalu banyak suara-suara yang masuk ke telinga wanita itu. Membuat Tara merasa kalau hidupnya yaang sekarang ini bisa di atur-atur. "Aku muak! Aku benar benar sudah muak ...!" teriak Tara yang kemudian telihat pergi begitu saja. Sambil mengusap lelehan air matanya. Karena saat ini wanita itu tidak tahu kalau ia harus marah pada siapa. Sehingga membuatnya menumpahkan kekesalanya pada kedua orang tuannya tadi. Dengan cara berteriak-teriak tidak jelas seperti orang yang depresi.


"Susul dia Ma, jangan sampai dia nekat," ujar Arzan pada sang istri.


Yana yang mendengar itu hanya bisa mengangguk saja. Lalu wanita itu terlihat langsung saja menyusul putrinya itu, yang sekarang terlihat berlari ke arah pintu utama.


Sedangkan Tika yang menyaksikan itu semua dari lantai dua merasa senang, karena tujuannya ingin selalu melihat sang adik menderita bukan malah mau melihat Tara bahagia. Membuat Tika selalu saja melakukan berbagai cara hanya untuk melihat air mata pada mata indah Tara menetes seperti saat ini. Meskipun dengan cara yang salah, Tika tidak akan memperdulikan akan hal itu.


"Bagus, ini yang aku mau, akhirnya Tara dan Gio akan benar-benar berpisah," gumam Tika membatin sambil terus tertawa puas di dalam benaknya. Karena tujuannya membuat rumah tangga sang adik berantakan akan segera berhasil. "Selangkah lagi Tara dan Gio akan berakhir! Dan selama ini, tidak sia-sia aku membuat Tara jelek di mata ibu mertuanya," lanjut Tara membatin.