Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 101


Dokter Ana mengamuk sepanjang jalan menuju tempat parkir. Ia sangat kesal. Amat sangat kesal sehingga rasanya ia ingin berkelahi dengan setiap orang yang berpapasan dengannya.


Daniel si keparat itu, berani-beraninya melecehkan dirinya di tempat umum. Benar-benar seorang bajingan sejati!


“Bagaimana Lorie bisa tahan berteman dengannya? Jangan-jangan dia selalu berpura-pura polos dan naif di depan Lorie? Aku harus memperingatkan wanita bodoh itu agar lebih berhati-hati, jangan sampai dia dimanfaatkan!”


Ana mengangkat tangan dan menggosok-gosok bibirnya lagi. Rasanya kalau memungkinkan, ia ingin mengelupas lapisan epidermis kulit bibirnya agar bekas ciuman tadi menghilang dari tubuhnya.


Tapi bagaimana dengan lidahnya? Lidahnya dibelit dan diisap seperti itu ... oh, ya ampun, mengingatnya saja sudah membuat seluruh bulu kuduknya kembali berdiri. Haruskah ia mengganti lidahnya dengan lidah mekanik?


Ciuman pertamaku ... bagaimana bisa dirampok oleh seorang bajingan ... hiks ....


Dokter Ana yang merana masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintu sekuat tenaga. Ia merasa sangat tertindas. Sebenarnya ia hanya omong besar saja di hadapan Lorie. Ia tidak pernah memiliki pengalaman apa pun dengan laki-laki. Dan ciuman tadi sungguh adalah pertama kali untuknya.


Sejak berusia 5 tahun, ia hanya tertarik dengan hasil percobaan di laboratorium milik ayah dan ibunya. Karena kedua orang tuanya itu sepakat untuk memanggil guru pengajar ke rumah, lingkup sosialisasinya sangatlah kecil. Ia baru memulai interaksi dengan orang lain saat memasuki bangku kuliah. Itu pun tidak terlalu banyak orang yang mau berteman dengannya.


Oh, tentu saja. Seorang remaja berusia 15 tahun yang mengambil mata kuliah Engineering & Applied Sciences di Harvard bukanlah awal yang bagus untuk menjalin persahabatan dengan manusia lain.


Pada semester kedua kuliahnya, Ana sempat menyukai salah satu kakak seniornya, tapi ia lalu menyadari bahwa cinta dan rasa suka adalah emosi yang kompleks dan sangat mengganggu dalam mencapai target. Itu hanya sebuah zat kimia yang diperintah oleh otak, maka selama otaknya tidak mengizinkan untuk jatuh cinta, pasti ia tidak akan mengalaminya. Ia kemudian menemukan cara untuk menahan diri ketika mulai merasa tertarik kepada seseorang, yaitu dengan mencari dan mengingat kejelekan dan kelemahan dari lawan jenisnya itu.


“Seharusnya ini tidak sulit, pada dasarnya aku tidak menyukainya sama sekali. Ini akan menjadi semakin mudah,” gumam Dokter Ana, lalu menghela napas dalam-dalam.


Wanita itu memejamkan mata dan bersiap untuk menyugesti dirinya sendiri. Pada kasus Daniel ini, ia bisa memulai dengan mengingat bentuk wajahnya yang ... um, sempurna?


Alis wanita itu berkerut dalam dan kelopak matanya gemetar seperti daun yang tertiup angin.


Brengsek!


Bagaimana otaknya bisa mendefinisikan wajah Daniel dengan kata "sempurna"?


Sialnya, semakin ia memaksakan diri untuk memejamkan mata, garis rahang Daniel yang kokoh dan iris hijau zamrud yang berkilau itu terlihat semakin jelas, seperti sepasang mata kucing yang menyala dalam kegelapan. Aroma tubuhnya sangat harum. Bibir tipisnya terasa kenyal dan lembut, membuat Ana menjilat bibirnya sendiri tanpa sadar.


Sekejap kemudian, wanita itu membuka mata dengan napas terengah. Keringat dingin membasahi telapak tangan dan keningnya. Ia benar-benar ketakutan.


“Tidak!”


Kenapa jadi seperti ini?


Untuk pertama kali dalam hidupnya, wanita itu merasa sangat panik. Metode itu tidak pernah gagal sebelumnya. Mengapa kali ini berbeda? Apa yang salah?


Ana mengatur degup jantung dan deru napasnya agar kembali stabil, kemudian memejamkan matanya lagi. Ia harus mengingat wajah ca*bul pria itu, temperamennya yang buruk, juga sikap congkaknya yang menjengkelkan.


Tarik napas ....


Konsentrasi Ana, konsentrasi ....


Dalam sekejap wajah yang menjengkelkan itu muncul lagi. Kali ini terlihat lebih jelas. Ana berusaha sekuat tenaga untuk mengingat segala keburukan pria itu. Lebam di wajahnya terlihat buruk, ditambah bekas tamparannya yang memerah membuat wajah pria itu tampak semakin konyol.


Ia lalu membayangkan menambah satu tonjokan ke hidung Daniel sehingga dia mimisan, menendang selangkangannya sekuat tenaga sehingga dia meringkuk dan menangis seperti bayi.


Dering suara ponsel membuyarkan pergolakan batin wanita itu. Ia melihat nama yang tertera di layar dan menjawab panggilan itu dengan kesal.


“Ada apa?”


“Ada apa? Kenapa nada bicaramu menyeramkan seperti itu?” tanya Billy yang sedikit terkejut karena Ana tidak pernah seketus itu.


“Mood-ku sedang buruk. Cepat katakan, ada apa?”


“Ada rapat untuk membahas kerja sama dengan EON’s Company hari ini. Karena Lorie tidak bisa datang, perwakilan mereka memintamu untuk datang menggantikannya.”


“Apa?!” Insting Dokter Ana langsung terjaga. Alarm berbunyi nyaring di dalam tempurung kepalanya.


“Siapa perwakilan EON’s?” tanyanya dengan waspada.


“Tentu saja Daniel. Bisa siapa lagi? Bukankah sangat kebetulan dia sedang berada di sini?”


Kebetulan kepalamu.


Ana menggertakkan gigi dan bertanya dengan kesal, “Apakah rapat ini sudah dijadwalkan sebelumnya?”


“Tidak. Baru saja Daniel menghubungiku dan meminta untuk membahas beberapa hal—“


“Billy, apa aku bisa meminjam pengawal bayangan untuk membunuh orang?”


“....”


“Lupakan. Apa Jotuns Corps punya senjata biokimia yang bisa menghancurkan sel tubuh sehingga tidak bisa dikenali lagi?”


“Apa kamu baik-baik saja?”


“Tidak baik! Aku tidak akan pergi rapat!”


“Hey—!”


Dokter Ana mematikan telepon sebelum Billy memprotes. Ia lalu menyalakan mobil dan pergi dari halaman rumah sakit dengan kesal.


Amat. Sangat. Kesal.


Dia tidak berhasil mendapatkan Lorie, lalu mengalihkan targetnya kepadaku? Mimpi saja, bajingan!


Sorot mata Dokter Ana dipenuhi dendam dan tekad yang kuat. Sepertinya ia harus segera kembali ke lab dan membuat senjata pemusnah, lalu menghancurkan Daniel dengan tangannya sendiri.


***


Gak berasa udah sampai chapter 100 😁


makasih untuk kalian yang masih setia membaca sampai di sini 😘