Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
26


Gio bingung menatap layar komputernya sudah satu setengah jam berlalu semenjak ia menghidupkan benda itu tapi laki-laki itu sama sekali tidak bisa memikirkan sesuatu kata pun yang sesuai dengan apa yang harus ia ketik. Karena saat ini yang ada di pikiran laki-laki itu adalah Tara, yang telah setuju akan memberikannya anak. Karena tadi sebelum ia berangkat ke kantor laki-laki itu sempat melihat Tara menandatangani surat perjanjian itu tanpa ragu sedikitpun.


"Semoga saja, benih itu cepat tumbuh di dalam rahim Tara," gumam Gio pelan, tanpa ia sadari Gavin bisa mendengar ucapannya.


"Bagaimana akan cepat jadi jika Anda belum menanamnya?" Gavin malah melontarkan pertanyaan yang konyol kepada tuannya itu. Sehingga membuat Gio yang tadi sempat melamun jadi kaget.


"Gavin! Sejak kapan kamu di sini?" Gio menatap Gavin dan mata yang hampir saja melompat dari tempatnya.


Gavin yang ditanya tersenyum sambil menunjukkan dua jarinya pada Gio. "Saya baru datang Tuan muda, jadi Anda jangan khawatir meskipun saya mendengar kalimat Anda yang tadi, saya janji akan tutup mulut ini rapat-rapat," jawab Gavin yang takut jika Gio tiba-tiba saja marah. Karena laki-laki itu lupa mengetuk pintu dan tadi ia juga menyahut apa yang dikatakan oleh Gio. "Apa sudah jadi rangkuman yang ak–" Kalimat Gavin terputus karena ia melihat Gio berdiri dan sekarang malah menghampirinya.


"Kamu saja yang kerjakan, sebagai hukuman karena kamu masuk tanpa mengetuk pintu, dan kamu tadi menyahut ucapanku," ucap Gio sambil menaik turunkan alisnya. "Filenya sudah kukirimkan untukmu, kamu tinggal mengerjakannya saja," lanjut Gio yang melihat Gavin melongo.


"Tuan muda, pekerjaan saya belum selesai. Tapi kenapa Anda malah menyu–" Lagi-lagi kalimat Gavin menggantung di udara karena Gio meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri. Mengisyaratkan kalau Gavin tidak boleh protes dengan apa yang ia katakan tadi. "Baiklah, Tuan muda. Saya akan mengerjakannya, setelah pekerjaan saya selesai," kata Gavin yang pada akhirnya mau mengalah.


"Kerjakan dulu ini, masalah pekerjaanmu nanti belakangan," balas Gio sambil mengangkat sedikit sudut bibirnya. "Kerjakan sekarang Gavin, sedangkan aku ingin pergi melihat keadaan Mommy. Nanti kalau semuanya sudah beres kamu langsung saja menghubungiku," pinta Gio yang saat ini merasa senang melihat ekspresi Gavin. "Jangan lupa minum kopi yang banyak, karena aku rasa malam ini kamu akan lembur." Gio menepuk bahu Gavin. "Selamat bekerja, semoga Daddy menaikkan gajimu karena kamu salah satu orang terajin di perusahaan ini," samsung Gio sebelum laki-laki itu pergi dari sana. Membiarkan Gavin yang mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


"Tuan muda, kenapa Anda sangat tega sekali dengan saya?!" Nada suara Gavin sedikit berteriak karena ia melihat punggung Gio sudah semakin menjauh. "Tuan muda, jangan begini!" seru Gavin lagi.


"Kerjakan saja Gavin, agar semuanya cepat selesai!" sahut Gio menimpali Gavin, sebelum laki-laki itu terlihat masuk ke dalam lift.


"Anda sungguh tega sekali Tuan muda," gumam Gavin lirih. Sambil terlihat berjalan ke ruang kerjanya. "Aku malam ini akan benar-benar lembur," batin Gavin yang merasa kalau malam ini ia tidak akan bisa bersenang-senang.


"Permisi Pak Gavin," kata salah satu karyawan yang bekerja di sana juga.


"Hm, ada apa?" tanya Gavin dengan suara yang sangat terdengar lirih.


"Tuan muda menyuruh saya membawakan Anda ini." Karyawan wanita itu memberikan Gavin satu renteng kopi yang bergambar luwak. "Semoga Anda menyukainya, kata Tuan muda."


Gavin mengambil satu renteng kopi itu. "Malam ini aku memang benar-benar akan begadang karena lembur," gumam Gavin membatin.


"Sampaikan salam terima kasihku pada Tuan muda," ucap Gavin sambil masuk ke dalam ruangannya.


"Akan saya sampaikan, kalau begitu saya pamit pulang dulu Pak Gavin, selamat begadang."


***


"Mommy tidak apa-apa 'kan?" tanya Gio ketika laki-laki itu melihat Lydia sedang duduk berdua dengan Malvin, sang ayah yang saat ini menggeser sedikit posisi duduknya. Hanya karena melihat putranya yang tiba-tiba saja datang.


"Gio, Mommy tidak apa-apa sayang," jawab Lydia sambil tersenyum dan menepuk sebelahnya. Menyuruh sang putra untuk duduk di sebelahnya. "Ngomong-ngomong, apa kamu nggak kerja?" Sekarang Lydia yang bertanya pada Gio.


"Aku kerja Mom, tapi setelah mendapat kabar dari Gavin. Aku menjadi tidak fokus dalam bekerja, sehingga aku memutuskan untuk pulang saja karena aku mengkhawatirkan keadaan Mommy." Gio lalu terlihat duduk di sebelah sang ibu setelah ia menjawab pertanyaan Lydia.


Lydia tetap tersenyum saat mendengar putranya yang mengkhawatirkan dirinya. "Padahal Mommy sudah memberitahu Gavin, supaya jangan memberitahumu. Karena Mommy tahu kamu anaknya mudah kepikiran, dan ujung-ujungnya malah berimbas pada pekerjaan," kata Lydia.


"Aku harus tahu masalah apa saja yang menimpa Mommy, mau itu masalah yang tidak serius ataupun serius, apalagi ini menyangkut tentang Sera dan Mommy," timpal Gio.


Lydia mengelus lengan putranya. "Sera sudah Daddy kirim ke luar Negeri untuk melakukan pengobatan. Supaya adik kamu itu cepat sembuh."


"Iya Mom, Sera harus sembuh."


"Kamu bawa Tara pergi ke mana?" Malvin yang diam saja dari tadi malah menanyakan keberadaan Tara. Karena sudah dua hari ini ia tidak melihat Gio membawa Tara pulang ke rumah itu. Sejak ia melihat Gio menggendong Tara dan menutupi gadis itu mengenakan jas. "Daddy tanya, dimana Tara? Jangan malah diam saja."


Gio malah menatap sang ibu karena saat ini laki-laki itu tidak punya jawaban untuk menjawab pertanyaan sang ayah.


"Dad, biarkan Gio dan Tara menginap di hotel dulu. Karena mereka mungkin malu tinggal di sini. Secara mereka pengantin baru." Lydia membantu Gio untuk menjawab. Karena wanita itu tahu pasti saat ini Gio tidak tahu harus menjawab apa. "Nanti kalau Tara sudah terbiasa. Pasti anak itu tidak akan malu," lanjutnya lagi, dan ia berharap sang suami percaya dengan ucapannya.


"Apa benar begitu Gio?" tanya Malvin yang sedikit ragu dengan kalimat sang istri.


"Iya, Dad, Tara sekarang sudah menerimaku sebagai suaminya. Dan doa 'kan saja aku dan Tara cepat memberikan Daddy dan Mommy cucu," jawab Gio dengan raut wajah yang sedikit bahagia. "Aku akan bekerja semakin giat, supaya calon anak-anakku tidak perlu kekurangan dalam segi apapun," lanjut Gio.


"Daddy punya jamu, kalau kamu mau nanti Daddy ambilkan untukmu, itu adalah jamu turun temurun dari kakekmu," bisik Malvin di telinga sang putra. "Jamu itu bisa membuat kamu tahan lama, dan tahan banting," selorohnya yang tiba-tiba saja malah menjadi bercanda. "Nanti malam, kalau kamu serius, Daddy akan meraciknya untukmu."


Gio menggeleng kuat. "Tidak perlu Dad, tanpa itu aku sudah kuat," ujar Gio.