
Alex memerhatikan Kinara yang telah sibuk mempersiapkan diri sejak dua jam lalu, padahal jamuan makan malam masih satu setengah jam lagi. Ia tidak merasa keberatan sama sekali meski istrinya telah membongkar hampir separuh isi lemari dan mencoba semua gaun yang ada.
“Mau keluar sebentar untuk mencari baju? Masih ada waktu kalau kamu mau,” tawarnya ketika melihat istrinya mematut diri di depan cermin dengan raut wajah tidak puas.
Kinara menggeleng cepat. “Tidak. Tidak perlu. Aku akan memakai yang ada saja,” jawabnya.
“Kamu terlihat sangat cantik dengan gaun apa pun, Baby, jangan terlalu memikirkannya. Kita hanya akan makan malam, bukan menghadiri pernikahan pangeran dari Dubai,” ujar Alex tatkala melihat Kinara mengambil sebuah gaun lagi dari dalam lemari.
“Itu menurutmu. Aku cukup yakin granny tidak sependapat denganmu,” jawab Kinara dengan senyum masam di wajahnya, “Aku tidak ingin mempermalukanmu dengan penampilanku yang biasa saja."
“Kamu luar biasa, Sayang ... aku akan–“
“Shhht ... aku tidak ingin kamu melakukan apa pun. Biar aku mengatasinya sendiri. Oke?”
Alex menghampiri istrinya dan memeluk pinggangnya. “Baiklah, Tuan Putri. Lakukan apa pun yang kamu mau. Aku akan menunggumu di luar.”
“Terima kasih, Sayang,” ujar Kinara. Ia segera melepaskan dress maroon-nya dan menukarnya dengan gaun hitam yang baru saja diambilnya.
Alex berjalan keluar dan duduk di ruang tamu. Ia memainkan ponsel di tangannya. Dokter Ana baru saja melaporkan perkembangan chip yang tertanam di kepala Billy. Mereka belum mendapatkan akses untuk memutuskan informasi apa saja yang bisa dan tidak bisa disalin dari memori Billy. Namun, wanita itu cukup yakin tingkat keberhasilan percobaan ini bisa mencapai 80 persen. Kalau dihitung dari kecepatan virus menginfeksi chip, itu berarti mereka masih harus menunggu setidaknya dua sampai tiga minggu lagi.
Bisakah Billy bertahan selama itu?
Ada banyak hal dan kemungkinan yang bisa terjadi hanya dalam satu malam, apalagi dalam jangka wkatu dua atau tiga minggu. Jika sesuatu yang buruk menimpa Billy, ia pasti akan merasa bersalah seumur hidup.
“Apa yang membuat ekspresi wajahmu menjadi sejelek itu?”
Alex mendongak dan mendapati bahwa sosok yang baru saja ia pikirkan sudah duduk di hadapannya sambil berpangku kaki. Dalam hati kecilnya, Alex sangat kagum pada Billy yang tetap bisa bersikap normal di hadapannya, seakan tidak ada sesuatu yang buruk yang sedang terjadi. Ia tahu, tidak semua orang bisa bertahan seperti sahabatnya ini.
“Kenapa kamu ke sini?” tanya Alex dengan ketus. Meski kagum dan berterima kasih pada Billy, ia masih sedikit kesal karena pria itu membawa kabur dumpling miliknya tanpa izin.
“Masakan istrimu sangat enak,” goda Billy, “Aku ingin mencicipinya lagi.”
“Enyahlah!” geram Alex seraya mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Melihat tingkah sahabatnya yang menjengkelkan ini, sepertinya dia sedang dalam suasana hati yang baik.
Billy tergelak puas karena berhasil memancing emosi Alex. Di antara semua kegilaan yang menimpanya, ia benar-benar membutuhkan hiburan.
“Di mana Kinara?” tanya Billy setelah berhasil meredam tawanya.
“Untuk apa mencari istriku?” sergah Alex sambil menatap Billy dengan sorot matanya yang tajam dan mengancam.
“Ada yang ingin kubicarakan dengannya. Kenapa? Tidak boleh?”
“Kamu—“
Alex baru saja ingin memarahi Billy lagi, tetapi kemunculan istrinya dari balik pintu membuatnya bungkam. Wanita miliknya itu terlihat sangat menawan. Gaun hitam yang dipakainya tidak terlalu terbuka, tetapi tetap terlihat cantik dan elegan. Riasan tipis di wajahnya mempertegas kecantikan alaminya yang memancar sempurna. Astaga ... Alex menghela napasnya dalam-dalam. Istrinya benar-benar cantik sampai-sampai rasanya ia ingin menggendong wanita itu kembali ke dalam kamar. Ia tidak rela kecantikan istrinya dilihat oleh orang lain.
“Jangan menatapnya seperti itu!” ujar Alex ketika melihat Billy pun tampak terpesona akan penampilan Kinara.
“Kalian berdua ini, kenapa selalu bertengkar setiap kali bertemu? Membuat sakit kepala, tahu?” gerutu Kinara sambil menatap suaminya dan Billy bergantian.
“Penampilanmu malam ini sungguh luar biasa,” puji Billy tanpa mengindahkan tatapan membunuh yang dilayangkan Alex padanya, “Tidak salah Alex memilihmu sebagai istrinya. Dia memang pandai—“
“Tutup mulutmu. Hanya aku yang boleh memuji istriku. Mengerti?”
Kinara memutar bola matanya dengan sebal. “Hentikan. Kalian berdua. Aku seperti mengasuh dua orang anak remaja di sini,” sungutnya.
Billy terkekeh tanpa merasa berdosa sama sekali. Ia menyugar rambutnya dan bangun dari kursi sambil berkata, “Aku datang untuk menyemangatimu. Jangan kalah atau merasa terintimidasi oleh kehadiran orang ketiga nantinya.”
“Menurutmu? Nenek tua itu begitu tergila-gila padanya. Entah apa yang dilihatnya dari wanita busuk itu,” gerutu Billy tanpa menutupi raut tidak suka di wajahnya.
Ucapan Billy seketika mengubah suasana dalam ruangan itu. Alex memasang sikap waspada, sementara Billy bersiap untuk menyerang.
“Billy,” tegur Alex dengan suara sedingin es, “Jaga bicaramu.”
“Apa yang salah dengan ucapanku? Nenekmu memang tidak bisa membedakan antara berlian dan sampah.”
“Cukup,” sergah Alex, “Kamu hanya kesal karena Jessica tidak memilihmu. Jangan libatkan nenekku dalam hal ini.”
Billy mendengkus dan tertawa sinis.
“Satu-satunya yang membuatku kesal adalah pernah menyukainya,” jawab Billy seraya membalas tatapan Alex tanpa merasa takut, “Jaga istrimu baik-baik. Jangan biarkan dia menjadi bulan-bulanan di depan orang banyak nanti. Jangan sampai kamu merasakan penyesalan seperti yang aku rasakan.”
Billy langsung berjalan keluar dari ruang tamu tanpa menoleh ke belakang lagi. Alex dan Kinara terpaku di tempat mereka, menatap punggung pria itu yang menghilang di balik pintu.
“Billy pernah menyukai Jessica?” tanya Kinara, merasa sedikit tidak percaya dengan pendengarannya barusan.
“Ya. Sebelum bertemu dengan tunangannya, ia sempat tergila-gila pada Jessica.”
“Meskipun tahu bahwa kamu pun menyukai wanita itu?”
Alex mengangguk.
“Lalu, kenapa sekarang sikapnya berubah? Bukankah tunangannya menghilang? Kenapa dia tidak berusaha mendapatkan Jessica kembali? Kenapa dia justru seakan memusuhi wanita itu? Bukankah ini sedikit aneh?” cecar Kinara.
“Sudah kubilang, dia hanya kesal. Mungkin Jessica menolaknya lagi.”
“Menurutmu begitu? Tapi aku tidak melihat Billy adalah tipe orang yang seperti itu.”
“Berisik sekali.” Alex bangun dari kursi dan berjalan mendahului istrinya. “Ayo, berangkat.”
Mendadak lidah Kinara terasa pahit. Apakah Jessica masih memiliki pengaruh terhadap suaminya?
“Kenapa marah padaku,” gerutunya sembari mengekori suaminya.
Kinara berjalan melewati Lorie yang kali ini memakai setelan pelayan dan menyapanya sekilas. Ia membuka pintu mobil sendiri dan duduk dengan wajah menghadap keluar. Rasanya kesal bukan main.
Aku ‘kan hanya ingin tahu, mengapa harus bersikap menyebalkan seperti itu? Benar-benar menjengkelkan! gerutu Kinara dalam hati.
Alex menatap Kinara dengan sedikit perasaan bersalah. Ia kesal karena Billy lebih memerhatikan istrinya ketimbang dirinya sendiri. Meskipun tujuannya baik, tetap saja membuatnya cemburu atas perhatian sahabatnya itu.
Ia sama sekali tidak tahu kalau granny akan mengundang Jessica. Juga tidak terpikir olehnya untuk menenangkan hati istrinya ketika di dalam kamar tadi. Ia sungguh tidak peka meski Kinara memilih pakaian dengan gugup, dan hal itu membuatnya kesal karena tidak menyadari apa yang dirasakan oleh istrinya. Ditambah lagi Billy yang menyinggung masalah Jessica dan granny. Ia merasa sangat kesal pada dirinya sendiri, kemudian melampiaskannya pada Billy dan Kinara.
Benar-benar sempurna, Alex! Bagus sekali!
Pria itu menarik napas dan meraih tangan istrinya. “Maaf, aku tidak bermaksud untuk--"
Kinara menarik lepas tangannya. “Tidak apa-apa,” jawabnya tanpa menoleh ke arah suaminya.
Memikirkan kemungkinan Alex masih terikat dengan Jessica dalam alam bawah sadarnya, membuat Kinara menjadi gelisah dan dipenuhi pikiran negatif. Ia sudah menceritakan kebenaran tentang Jessica, Billy pun sudah menunjukkan sinyal bahwa ada sesuatu yang salah dengan wanita itu. Namun, Alex sepertinya masih tetap tidak percaya. Kalau bukan karena masih ada rasa, lalu apa?
Keheningan yang canggung membekukan udara dalam mobil. Rasa hangat dan nyaman seketika berubah menjadi dingin dan hambar. Dua orang yang duduk bersisian itu larut dalam pikiran masing-masing.
***