Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 112


Akan tetapi, saat tembok penghalang telah benar-benar terangkat seluruhnya, keyakinan Raymond perlahan mulai goyah. Mulanya ia tercengang saat melihat ada puluhan pria di dalam ruangan yang tadinya dipisahkan oleh tembok itu. Mereka tampak seperti sedang mengerubungi sesuatu. Sementara beberapa orang lainnya berbaris dengan rapi, seolah sedang mengantri dan menunggu giliran.


Seharusnya itu adalah pemandangan yang biasa saja jika seluruh pria di dalam ruangan itu memakai pakaian lengkap. Sedangkan para pria ini ... sebagian besar yang berada di lapisan paling luar masih memakai kaus atau celana, tapi kerumunan di bagian dalam ... sepertinya hampir lebih dari separuhnya telan*jang.


Raymond yang masih shock semakin terguncang saat suara desah*n dan teriakan bercampur dengan tawa penuh kepuasan dan umpatan kotor, semuanya bergema dan memantul secara acak ke dalam gendang telinganya, membuatnya merinding dan mual pada saat yang bersamaan. Ia mematung dan menatap Lorie dengan ekspresi yang campur aduk. Mengapa Lorie membawanya ke mari dan menunjukkan semua ini kepadanya?


“Kamu tidak penasaran lagi?” tanya Lorie saat melihat wajah Raymond yang memucat.


Kelopak mata Raymond berkedut dan ia tidak berani melihat ke kerumunan itu lagi.


“Apa maksud semua ini?” tanyanya dengan suara serak. Meski berdiri sejauh beberapa meter dari gerombolan pria itu, aroma hormon dan jejak percintaan yang khas menguar di udara dan membuatnya semakin ingin muntah. Ia sudah tidak tahan untuk terus berada di dalam ruangan itu meski hanya sedikit lebih lama lagi.


Lorie menatap wajah Raymond lekat-lekat. Ada kilas keterkejutan, rasa jijik, dan sedikit keluhan dari ekspresi wajah pria itu. Akan tetapi, ia sudah bertekad. Jika dengan berada di sini membuat Raymond menjauhinya di kemudian hari, maka pria itu memang tidak ditakdirkan untuk bersamanya. Akan tetapi, jika dia bisa menerimanya ... maka mungkin hubungan mereka akan berhasil ke depannya.


Lorie memanggil seorang pengawal dan memintanya untuk membubarkan kerumunan pria di depan sana.


Saat pria-pria itu menyingkir, apa yang terhampar di depan matanya membuat Raymond benar-benar tidak tahu harus memberi reaksi seperti apa. Seorang wanita yang terbaring di atas ranjang terlihat sudah tidak bergerak lagi, tapi tiga orang pria yang mengelilinginya masih sangat bersemangat. Sang pengawal meminta ketiga pria itu untuk menyingkir, lalu mendudukkan wanita yang sudah kehilangan sebagian besar kesadarannya itu.


Helai rambut cokelat muda yang berserak di atas bahu dan suara si wanita yang memohon dengan mata separuh terpejam membuat Raymond terhenyak. Ia sungguh tidak berani membayangkannya, tapi Lorie dengan kejam mematahkan keraguan dan rasa enggannya itu.


“Dia Alice. Wanita itu ... dia mantan tunanganmu,” ucap Lorie tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Raymond.


“Aku menyuruh orang mengumpulkan seluruh gelandangan dan preman di sepanjang lorong dan gang sempit di kota Broocklyn dan membawanya ke sini untuk menidurinya."


Wanita itu berhenti sebentar untuk mengamati riak di wajah Raymond sebelum melaniutkan, "Oh, jangan khawatir, setelah dia hamil ... aku akan menyuruh anak buahku untuk merawatnya dengan baik sampai janinnya berusia empat bulan. Setelah itu, aku akan mengambil kembali apa yang sudah dia rampas dariku,” imbuhnya lagi dengan intonasi suara yang sangat tenang.


Anak. Dia menginginkan anak ja*lang itu ... mata diganti mata, nyawa diganti nyawa. Itu baru sepadan.


Ekspresi dan intonasi suara Lorie terlalu tenang sehingga Raymond hampir tidak mengenalinya lagi. Hati nurani pria itu memberontak. Sebagai seorang dokter, ia sudah disumpah untuk menghargai setiap nyawa yang ada, meski itu adalah nyawa seorang penjahat sekali pun, tapi ... apakah kali ini ia datang sebagai seorang dokter atau sebagai seorang ayah yang bahkan tidak sempat bertemu dengan bayinya?


Raymond menatap wanita di atas ranjang dan Lorie bergantian. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Tangannya mengepal beberapa kali dan bahunya gemetaran. Seluruh emosinya runtuh dan ia tidak tahu apa yang sedang dirasakan oleh hatinya saat ini.


Sedihkah? Marahkah? Belas kasihan? Semuanya melebur menjadi satu dan ia tidak bisa memutuskan mana yang lebih dominan.


Pada akhirnya, ia menatap Lorie dengan penuh kesungguhan, lalu menggeleng dan menjawab, “Tidak kasihan. Dia membunuh anak kita. Dia layak mendapatkan ganjarannya.”


Kata “anak kita” membuat Lorie tertegun sejenak. Tangannya secara alami bergerak naik untuk mengusap perutnya yang rata. Anaknya yang sudah tidak ada ....


Ia berdeham untuk menjernihkan suaranya, lalu memberi tatapan yang mengandung sedikit cibiran ke arah Raymond.


“Lalu, apakah orang tuamu juga akan menerimanya? Tanganku berlumuran darah ... lebih dari separuh hidupku kuhabiskan untuk membunuh dan menyiksa orang. Bisakah orang tuamu menerima hal itu?” tanyanya.


“Mereka tidak perlu tahu.”


“Lalu bagaimana kalau pada akhirnya mereka tetap tahu?”


Melihat tatapan Raymod yang sedikit terdistorsi, Lorie tertawa lagi dan kembali melontarkan pertanyaan,


“Takut? Masih berpikir untuk menyukaiku?”


Raymond memang merasa Lorie cukup menakutkan. Ini bukan perdagangan organ tubuh manusia atau kasus pros*titusi, tapi sama menakutkannya dengan kedua hal tersebut.


Meski demikian, Raymond tetap bersikap keras kepala dan membalas, “Ya, takut ... tapi masih tetap suka padamu ...."


***