Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 88


Mata Daniel semerah bara. Tangannya terkepal erat. Dengan satu gerakan cepat ia bangkit dan menghampiri pengemudi mobil yang ringsek menabrak tembok. Ia menerjang maju seperti badai yang siap menghancurkan apa saja. Namun, saat melihat pengemudi yang juga terluka dan menangis dengan tubuh bergetar, amarahnya berkurang separuh. Mana mungkin ia memukuli manula yang tampak terpuruk itu.


“Bang*sat!” makinya seraya meninju kap mobil berulang-ulang.


“Panggil polisi, meski tua bangka, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!” teriak Daniel seraya menuding wanita tua yang menangis di hadapannya.


Di belakang, Raymond terus berbisik dan memohon agar Lorie bertahan. Napas Lorie yang semakin melambat dan detak nadi di pergelangan tangannya yang melemah membuat Raymond sudah hampir kehilangan akal.


“Lorie, aku mohon bertahan. Kamu harus bertahan. Aku tidak mengizinkan kamu menyerah. Harus bertahan,” gumam pria itu berulang-ulang dengan suara yang tercekat. Sayangnya, seberapa banyak pun ia memohon, Lorie tidak membuka matanya, apa lagi menjawab perkataannya.


Raymond merasa sangat frustasi. Ia sungguh tidak berani asal memindahkan atau menggerakkan tubuh Lorie, takut akan menyakiti atau membuat lukanya semakin parah. Saat ini ia tidak membawa perlengkapan apa pun. Siapa pula yang mengira peristiwa naas ini akan terjadi?


Ya, Tuhan ... sudah berapa kali dia masuk rumah sakit? Apakah bayinya akan baik-baik saja?


Tenggorokan Raymond seperti diganjal oleh sebuah batu, bahkan untuk menelan ludah saja membuatnya harus mengernyit seolah sedang menahan rasa sakit.


Memang sangat sakit. Hatinya terasa sangat sakit. Seharusnya ia berlari lebih cepat tadi. Seharusnya ia lebih waspada.


Mata Raymond memanas. Memang dirinya yang tidak becus, tidak bisa menjaga Lorie dengan baik.


Setelah bertemu Lorie tadi siang, ia terus membuntutinya diam-diam. Bahkan saat dia pergi ke restoran dengan calon suaminya itu, Raymond tidak mengeluh apa pun dan hanya menunggu dengan patuh di tempat parkir. Lalu, saat melihat mereka keluar dari lobi, ia turun dan berdiri di balik bayang-bayang pilar. Siapa sangka sebuah mobil melaju seperti anjing gila tepat ke arah Lorie. Ia sudah berusaha berlari sekuat yang ia bisa, tapi pada akhirnya ... ia tetap terlambat satu langkah.


Hanya satu langkah.


“Permisi, biarkan kami membawanya ke rumah sakit.”


Raymond di dorong ke samping, membuatnya berdiri dengan linglung. Karena terlalu tenggelam dengan rasa sakit dan penyesalannya, ia sampai tidak mendengar suara sirine ambulans. Saat para medis memeriksa dan melakukan pertolongan pertama kepada Lorie, Daniel dan Raymond berdiri di samping dan mengamati dengan penuh harap. Kecemasan yang melintas dalam wajah mereka tidak dapat ditutupi sama sekali.


“Anda adalah?” tanya salah seorang wanita yang baru saja memasang infus di lengan Lorie.


“Aku—“


“Minggir! Aku calon suaminya!” seru Daniel seraya memberi tatapan mematikan kepada Raymond.


Raymond menelan kembali perkataannya dan segera menyingkir. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Ia bergegas ke mobilnya dan mengekor di belakang ambulans menuju rumah sakit.


Ia kesulitan fokus dan hampir menabrak kendaraan lain beberapa kali. Untungnya ia masih bisa sampai dengan selamat di rumah sakit, lalu berlarian di sepanjang koridor bersama Daniel hingga brankar yang membawa Lorie menuju ke ruang operasi.


“Maaf, Anda tidak bisa masuk,” ucap salah seorang perawat sebelum masuk dan menutup pintu.


Raymond langsung luruh ke lantai, lututnya goyah dan otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih. Setelah meremas kepalanya dan menariki rambutnya beberapa kali, ia segera tersadar dan berinisiatif untuk menghubungi Alex Smith. Mereka harus tahu. Dengan cepat Raymond melakukan panggilan telepon dan menceritakan garis beras peristiwa di restoran tadi.


Sementara di samping, Daniel meninju dinding dengan kesal. Tangannya sudah dipenuhi bercak darah, tapi ia tidak peduli sama sekali. Kalau ada yang harus disalahkan dalam insiden ini, sudah pasti itu adalah dirinya. Ia yang memaksa Lorie untuk pergi makan malam. Ia pula yang tidak bisa menjaganya dengan baik sehingga hal seperti ini dapat terjadi.


Seandainya ia tidak terlalu keras kepala dan tidak memaksa, mungkin saat ini Lorie sedang bergelung dengan nyaman di mansion. Atau jika tadi ia mengajak Lorie pergi bersama-sama ke mobil, tentu tidak akan ada kejadian mengerikan seperti ini. Lalu, apa yang harus ia lakukan untuk menebus dosanya?


Dua orang pria dewasa yang larut dalam pemikiran mereka masing-masing, terdiam dan tidak saling bicara dalam waktu yang cukup lama. Dengan emosi yang kompleks menunggu lampu operasi padam, lalu dokter akan keluar dan memberi kabar baik untuk mereka berdua.


***


hiks, sedih liat votenya ☹️