Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 103: Tidak akan membiarkanmu melarikan diri


“Tuan.”


Alex menoleh ke sumber suara. Seorang perawat berdiri sekitar dua meter di samping kirinya. Melihat wanita itu menatapnya dengan serius, alarm peringatan dalam kepala Alex langsung menyala.


“Ada apa? Istriku baik-baik saja?”


“Istri Anda baik-baik saja. Dia hanya terus mengatakan ingin pulang, jadi saya memanggil dokter Rebecca. Silakan membicarakannya langsung dengan dokter,” jawab perawat itu seraya tersenyum.


“Di mana dokter Rebecca?”


“Beliau menunggu Anda di ruangan nyonya Kinara.”


“Baik.”


Alex berderap di sepanjang lorong rumah sakit, mendorong pintu dengan sedikit tergesa dan menghampiri dokter yang berdiri di sisi istrinya.


“Dokter, bagaimana kondisinya?”


“Pemulihannya cukup bagus. Kalau memang nyonya bersikeras untuk pulang, tidak apa-apa. Tetapi harus tetap dipantau agar obatnya diminum dengan teratur.”


“Begitu ....” Alex menoleh pada istrinya yang sedang berpura-pura tidur dan menolak menyadari keberadaannya, lalu kembali berkata, “Baiklah. Kapan kami bisa pulang?”


“Kalau Anda siap, sekarang pun bisa.”


“Baik. Terima kasih, Dokter.”


Wanita itu tersenyum pada Alex. Ia membetulkan letak kacamatanya, melirik sekilas ke arah Kinara, lalu memberi isyarat pada Alex agar mengikutinya keluar. Dua orang itu berhenti di depan pintu. Alex memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berdiri berhadapan dengan dokter yang merawat istrinya.


“Ada apa, Dok?” tanya Alex. Ia merasa sedikit cemas melihat gelagat dokter Rebecca yang terlihat cukup serius.


“Tuan, luka fisik istri Anda tidak terlalu serius. Itu akan sembuh dalam dua atau tiga hari ke depan. Namun saran saya, segeralah carikan seorang psikiater untuknya. Kondisi kejiwaannya benar-benar terguncang. Mungkin bukan hanya karena peristiwa yang dialaminya kemarin, tetapi juga karena kesembuhan Anda yang tiba-tiba. Tampaknya ada banyak pemicu yang membuat istri Anda depresi. Namun itu hanya dugaan saya. Oleh karena itu saya sarankan untuk berbicara dengan seseorang yang lebih ahli di bidangnya,” jelas dokter Rebecca panjang lebar.


Alex menyimak semua penuturan itu dan menyetujuinya dalam hati. Sikap Kinara itu dipicu oleh sesuatu yang lain, bukan hanya karena perbuatan bejat Jericho. Ia tahu gadis itu cukup kuat untuk menghadapi peristiwa yang menimpanya kemarin. Pria itu mengangguk. Saran dokter Rebecca sangat masuk akal.


“Saya mengerti. Terima kasih,” ujar Alex seraya mengangguk sekilas.


“Semoga istri Anda segera pulih,” jawab Dokter Rebecca dan berjalan menjauh.


Alex kembali masuk dan mendekati istrinya. Gadis itu menatap ke arahnya sekilas, lalu memiringkan tubuhnya menghadap jendela. Alex menghela napas. Ia maju dan mengusap rambut Kinara dengan sangat hati-hati, tapi tetap saja responnya seakan sentuhan kecil itu menyakitinya hingga seluruh tubuhnya menegang.


“Apa aku membuatmu takut?” tanya Alex dengan suara hampir menyerupai bisikan. Hatinya benar-benar sakit melihat gadis lucu dan periang itu kini seperti mendung di penghunjung senja. Apa yang bisa ia lakukan untuk membawa jiwa istrinya kembali seperti semula?


“Jangan sentuh aku, tolong ....”


Suara Kinara tak kalah lirih dan penuh kesedihan. Tangan kecilnya menarik selimut hingga menutupi pundaknya, lalu bergelung seperti bayi.


Alex mematung, menatap tubuh mungil di depannya yang terlihat sangat rapuh. Seakan jika ia mengembuskan napas sedikit lebih kencang maka tubuh itu akan luruh menjadi abu. Kelopak mata pria itu memanas. Mengapa semua berubah menjadi seperti ini hanya dalam waktu 24 jam? Mereka seperti sepasang orang asing yang saling mendorong satu sama lain.


“Aku akan memanggil Lorie untuk membantumu bersiap-siap. Dokter sudah mengizinkanmu untuk pulang.”


Tidak ada jawaban meski Alex menunggu, berharap Kinara akan memberi respon meski hanya berupa gumaman atau dengkusan pelan. Namun, hingga detik jam dinding terdengar jelas di telinganya, istrinya masih bergeming. Keheningan yang menyakitkan. Alex membalikkan tubuh dan berjalan keluar. Ia harus segera mencari pertolongan untuk istrinya.


Kinara menggeser tubuhnya ketika mendengar suara pintu yang ditutup. Air mata yang ditahannya sejak tadi mengalir deras. Ia sangat berharap keadaan bisa kembali seperti sedia kala, ketika ia bisa memeluk dan menciumi suaminya tanpa beban. Namun ia tahu sekarang hal itu adalah suatu kemustahilan. Semuanya tidak sama lagi. Tidak akan mungkin pernah sama lagi.


“Kinara, kamu baik-baik saja?” tanya Lorie dengan cemas. Ia baru saja masuk dan terkejut melihat Kinara sedang menangis tersedu-sedu di atas ranjang.


Kinara menyusut sudut matanya, lalu mendongak dan menatap Lorie yang sudah berdiri di hadapannya. “Sejak kapan kamu datang? Cepat sekali,” gumamnya.


Lorie tersenyum kikuk. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya ia kebetulan berpapasan dengan Alex di depan pintu, jadi ia langsung masuk begitu Alex memintanya untuk membantu Kinara bersiap-siap. Ia sama sekali tidak menyangka akan disambut oleh pemadangan seperti ini.


“Jangan beritahu dia kalau ... kalau aku menangis ...,” bisik Kinara seraya mengalihkan pandangannya ke lantai.


“Tenanglah. Ini akan menjadi rahasia kita berdua.” Lorie mendekat dan menyentuh lengan Kinara. “Bisa bangun? Aku akan memapahmu ke mobil.”


Kinara mengangguk. Ia menerima uluran tangan Lorie dan menjejakkan kaki ke lantai. Perawat sudah membantunya mandi tadi, sebelum dokter datang memeriksanya. Sekarang yang ia inginkan hanyalah pulang. Di sini, Alex selalu berkeliaran dan menanyakan keadaannya, hal itu benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman. Saat ini ia ingin sendiri dan merenung. Kalau Alex terus berkeliling dan berusaha menyentuhnya juga menanyainya, bagaimana ia bisa berpikir dengan jernih?


“Hati-hati,” ujar Lorie, “Perlu kuambilkan kursi roda?”


“Aku tidak cacat,” desis Kinara seraya melotot. Mengapa semua orang bersikap berlebihan? Seakan-akan ia kehilangan sebagian fungsi tubuhnya.


“Maaf,” kata Lorie sambil menyeringai. Ia menahan pundak Kinara dan berjalan di sampingnya dengan sangat hati-hati.


Ketika mereka keluar dari kamar, sepasukan bodyguard telah bersiaga dan mengawal dari belakang. Kinara menoleh pada gerombolan pria bersetelan serba hitam itu dan memutar bola matanya. Rombongan mereka pasti terlihat seperti kelompok mafia yang sedang berkabung. Gadis itu curi-curi pandang ke sekitarnya, mencari siluet tubuh yang sudah sangat dihafal oleh seluruh inderanya. Namun sosok yang ia cari tidak ada di mana pun. Ia mendesah pelan, lalu menghela napas panjang.


Bagus. Tidak perlu melihatnya.


Seorang bodyguard membukakan pintu mobil ketika Lorie dan Kinara tiba di basement. Kali ini Lorie duduk di samping Kinara. Ia membiarkan orang lain yang memegang kemudi. Alex telah berpesan untuk menjaga istrinya baik-baik sebelum pergi tadi.


Lorie melirik ke arah Kinara sekilas. Melihat bagaimana sikap gadis itu, ia tahu mengapa tuan Alex tadi berjalan menjauh dari kamar istrinya dengan wajah kusut.


“Nara, tuan tidak bersalah–“


“Aku tahu,” sela Kinara, “Aku tidak ingin membicarakannya. Tolong antar aku pulang.”


“Baik.”


“Sudah selesai,” ujar Lorie seraya menyeringai lebar, “Cepatlah sembuh. Aku rindu keras kepalamu yang sering menyusahkanku itu.”


Kinara tersenyum tipis. “Terima kasih. ”


“Aku akan berjaga di luar. Beristirahatlah.”


Kinara mengangguk. Ia menatap punggung Lorie hingga menghilang di balik pintu, lalu berbaring dan memejamkan mata. Senyuman tadi menghilang entah ke mana, berganti dengan wajah datar tanpa ekspresi. Meski begitu, bulir bening kembali mengalir dari sudut-sudut matanya, menetes satu per satu menuruni pipi dan dagu.


***


Sudah hampir tengah malam ketika Alex pulang. Tercium bau alkohol yang cukup menyengat dari seluruh tubuhnya. Wajahnya terlihat memerah, dua kancing baju paling atas terbuka, jasnya tersampir di pundak. Meski penampilannya tampak sangat kacau dan asal-asalan, ia masih bisa berjalan dengan tenang memasuki rumah.


Setelah pergi dari rumah sakit tadi, ia langsung menuju Jotuns Corps, mengurus semua surat-surat untuk prosedur serah terima kembali jabatannya di sana. Akhirnya hasil kerja kerasnya itu kembali ke tangannya, meski dalam keadaan yang sudah hampir collapse. Tidak masalah. Ia yakin bisa membangkitkan kembali perusahaan itu.


Lalu, ia pergi ke makam Anne. Berdiri di depan nisan kelabu itu selama hampir setengah jam. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu terjadi ketika pasukannya berhasil melacak jejak human trafficking di Eropa. Ratusan perempuan ditemukan dalam kapal kargo yang seharusnya mengangkut barang menuju Amerika. Anne dan Lorie adalah beberapa dari mereka yang berhasil selamat. Alex membawa perempuan-perempuan itu ke markas, menggembleng mereka secara militer dan merekrut mereka untuk melakukan misi rahasia. Sangat disayangkan Anne lebih memilih untuk berakhir dengan cara seperti itu. Ya. Lorie telah menceritakan semuanya, dan itu membuatnya tidak tahu harus merasa sedih atau kecewa.


Hal terakhir yang ia lakukan tadi adalah pergi menemui Jericho di penjara. Sebenarnya ia sangat ingin meremukkan tangan pria brengs*k itu. Namun ketika melihat salah satu kaki Jericho yang telah diamputasi, keinginan membunuh Alex sirna begitu saja. Apalagi ketika melihat luka di pelipisnya yang sepertinya mengalami infeksi sehingga mata kanannya meradang, juga rahangnya yang dislokasi. Jericho benar-benar terlihat seperti monster Frankeinstein yang menyedihkan. Meski begitu, ia tidak mau berbelas kasihan. Ia sudah memastikan bahwa sepupunya itu benar-benar akan membusuk di penjara dengan sistem keamanan maksimun. Selamanya.


Kemudian, entah bagaimana ia bisa berakhir di Blue Eyes. Menghabiskan setiap tetes whiskey dan wine dari gudang penyimpanannya. Menenggak berbotol-botol minuman hasil fermentasi itu hingga lambungnya terasa panas dan perih. Hingga akhirnya Billy menyeretnya pergi dari sana.


Alex mendorong pintu kamarnya dengan sangat perlahan. Ia tidak menekan saklar lampu karena mengira istrinya sudah terlelap. Namun, ketika pandangan matanya menumbuk pada ranjang yang kosong, hatinya tiba-tiba menjadi dingin. Ia menekan bulatan di dekat pintu, membuat ruangan itu seketika menjadi terang benderang. Rahangnya mengetat ketika melihat Kinara tidak ada di atas ranjang. Ia berjalan menghampiri lemari baju dan menggeser daun pintunya. Kosong. Semua pakaian gadis itu tidak ada lagi di sana.


Pria itu berjalan dengan linglung keluar kamar. Lampu-lampu dalam ruangan telah padam. Cahaya remang-remang berasal dari lampu di teras. Dengan ragu-ragu, Alex melangkahkan kaki menuju kamar yang pernah ditempati Kinara dulu. Ia mematung di depan pintu, tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya, setelah berdiri cukup lama di sana, Alex menempelkan telapak tangannya ke daun pintu.


Bagaimana bisa seseorang merasa rindu seperti ini?


Jantungnya sudah hampir meledak. Alex menghela napas, lalu membiarkan keningnya pun menempel di permukaan pintu, bersisian dengan tangannya. Ia sangat ingin masuk dan memeluk gadisnya, menarik semua rasa sakitnya, memberitahu gadis itu bahwa semua baik-baik saja. Akan tetapi ....


Klik.


Alex mundur satu langkah ketika melihat cahaya lampu lolos dari bawah pintu. Entah bagaimana ia bisa merasakan istrinya baru saja terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk. Bisa dirasakannya deru napas gadis itu yang tidak beraturan, juga seluruh tubuhnya yang gemetaran. Semua bayangan itu memberikan rasa sakit yang berlipat ganda dibandingkan sakit ketika ia harus menjalani operasi.


Pria itu menajamkan pendengarannya, berusaha mendengarkan gerak-gerik yang mencurigakan dari dalam sana. Ia tidak ingin istrinya melakukan hal-hal yang bodoh.


Blam!


Suara pintu tertutup dengan cukup keras dari dalam kamar membuat Alex siaga. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan dan mengamati dengan waspada.


Satu menit.


Dua menit.


Lima ....


Alex mulai cemas.


Tok. Tok. Tok.


"Nara?" panggilnya.


Enam menit.


"Kinara Lee!"


Tok. Tok. Tok.


Tidak ada jawaban.


Alex mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang dan menabrak pintu dengan bahunya.


Satu kali.


Bruk!


Dua kali.


Bruk!


Pria itu mengatur napas, berdiri sekitar dua langkah dari daun pintu. Ia mengangkat kakinya tinggi-tinggi, kemudian ....


Brak!


Pintu terbuka lebar. Tanpa membuang waktu, Alex menghambur ke arah kamar mandi. Uap panas mengaburkan pandangan, tetepi Alex masih bisa melihat siluet tubuh istrinya yang berdiri di bawah shower dengan jelas.


Tangan Kinara memegang sebuah handuk, menggosokkan kain itu ke bibir dan lehernya dengan kuat. Gadis itu bahkan tidak menyadari kehadiran suaminya. Ia terus menggosok hingga Alex pikir permukaan kulitnya akan segera mengelupas.


"Kinara! Hentikan!" teriak Alex seraya berlari ke arah istrinya. Ia memeluk tubuh mungil itu erat-erat. Tidak melepaskan meski istrinya meronta sekuat tenaga.


Aku tidak akan membiarkanmu melarikan diri lagi ....


***