
“Itu bukan rasa suka, Ray. Kamu hanya merasa bersalah. Aku tidak membutuhkannya,” ucap Lorie setelah mereka sama-sama terdiam cukup lama. “Sebentar lagi Tuan Alex akan pulang, jangan sampai kamu masih di sini saat dia tiba.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Lorie berbalik dan pergi.
“Lorie! Berhenti!” teriak Raymond seraya mengguncang pagar dengan keras. “Lorie! Jangan begini! Kumohon, beri aku kesempatan!”
Lorie berhenti, tapi ia tidak menoleh ke belakang. Ada sedikit rasa getir yang terasa dari nada suaranya saat ia berkata, “Bahkan jika kamu menyukaiku, status kita tidak sama, Raymond Dawson. Aku tidak memiliki orang tua, asal usulku tidak jelas. Takutnya keluargamu tidak bisa menerimaku.”
Ia sudah menyaksikan sendiri perjuangan Kinara melawan Granny. Demi apa pun yang ada di dunia ini, ia tidak ingin berada di posisi yang sama dengan mendiang sahabatnya itu.
Meski sekarang ia adalah seorang wakil CEO, tetap saja latar belakang keluarganya tidak jelas, bagaimana bisa disandingkan dengan Keluarga Dawson? Dalam strata sosial tertinggi, latar belakang keluarga sangatlah penting. Itu juga yang menjadi alasannya diam-diam memendam cintanya selama tujuh tahun. Sampai kapan pun, ia dan Raymond ... itu tidak mungkin.
“Lorie! Berhenti! Aku akan membicarakannya dengan kedua orang tuaku. Asal kamu bersedia, aku akan melakukan apa pun!” Raymond berteriak dengan putus asa.
“Bagaimana aku membuktikannya jika kamu tidak memberiku kesempatan? Lorie!”
Lorie tetap melangkah dan tidak mau mendengarkan teriakan Raymond lagi. Ia tidak mau hatinya goyah. Tidak ingin terjebak dalam neraka yang diciptakan oleh para orang kaya.
Di dalam perutnya, sang bayi kecil terus menendang tanpa henti.
Mata Lorie mengabur karena air mata. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat dan terus berjalan menuju kediaman utama. Karena semuanya sudah jelas, lebih baik ia pergi dari kota ini. Mungkin satu atau dua tahun. Atau tidak usah kembali lagi selamanya.
Lorie menguatkan tekadnya dan pergi ke kamar Amber. Pertama-tama yang harus ia lakukan adalah memberi penjelasan kepada gadis cilik itu.
“Amber, kamu di dalam?” panggil Lorie seraya mengetuk pintu.
“Ya, masuk saja, Aunty.”
Suara sahutan dari dalam membuat Lorie tersenyum. Ia mendorong pintu dan melongok. Rupanya gadis kecil itu sedang serius di depan meja belajarnya.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Lorie seraya duduk di sebelah Amber.
“Bukankah Aunty menyuruhku belajar?” jawab Amber dengan bibir mengerucut. Jelas terlihat ia masih kesal karena diancam oleh Lorie tadi.
Tawa yang renyah dan merdu bergema dalam ruangan itu. Lorie sungguh merasa gemas terhadap gadis cilik yang sangat cerewet itu.
Ia mengulurkan tangan untuk mencubit ujung hidung Amber sambil berkata, “Kalau belajar tidak boleh cemberut, nanti tidak ada ilmu yang masuk ke kepalamu.”
“Hm.”
Amber masih ingin merajuk, tapi saat ia menoleh dan menyadari mata Lorie sedikit merah dan sembab, hatinya langsung melunak. Ia meletakkan pulpennya dan mengusap pipi Lorie dengan hati-hati.
“Aunty menangis?” tanyanya. “Siapa yang membuat Aunty sedih? Apakah paman yang tadi? Aku akan meminta Daddy untuk menghukumnya.”
Lorie tersenyum dan menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa, hanya kemasukan debu.”
“Benarkah?”
“Hm.”
“Aunty mungkin akan kembali ke Dubai dalam beberapa hari ini, apa kamu marah?” tanyanya.
Amber melepaskan pelukannya dan menatap Lorie dengan ekspresi serius.
“Ke Dubai? Kenapa?”
“Pekerjaan Aunty sudah tertunda cukup lama. Kalau terus begini, ayahmu bisa bangkrut,” jawab Lorie sedikit menggoda gadis cilik di hadapannya.
Amber memutar bola matanya dan mendengkus keras.
“Apanya yang bangkrut? Kehilangan satu perusahaan tidak akan membuat Daddy bangkrut,” balasnya dengan sombong.
Lorie tertawa, tapi tangannya tetap terjulur ke depan untuk menjitak kepala Amber pelan.
“Ucapan macam apa itu? Tidak boleh sombong,” tegurnya. “Kamu tidak boleh menjadi Nona Muda Kaya yang sombong dan arogan, ingat? Kalau tidak ibumu akan sedih. Dia adalah orang yang sangat baik dan rendah hati. Kamu harus mencontoh budi pekertinya yang luhur itu.”
Seketika Amber menunduk dengan wajah penuh penyesalan.
“Aku tahu aku salah, Aunty, maafkan aku ....”
“Tidak apa-apa kalau sedang bercanda dengan Aunty, tapi kalau di luar, tidak boleh mengucapkan kalimat seperti itu meskipun hanya main-main, oke?”
“Oke.” Amber mengangguk dengan patuh, lalu kembali menatap Lorie dengan ekspresi memelas.
“Jadi Aunty akan pergi?” tanyanya.
“Hm. Jangan takut, kali ini Aunty akan membalas semua pesanmu dan melakukan video call tiga kali sehari. Bagaimana? Sudah oke?”
Amber menggigit bibirnya dan terpaksa mengangguk dengan sedikit tidak rela. Sosok ibu yang dikenalnya hanyalah wanita di hadapannya itu. Sekarang dia pun ingin pergi meninggalkannya sendiri ...
“Apa Aunty akan pulang saat adik bayi lahir?” bisiknya penuh harap.
“Mungkin saja. Atau kalau tidak, kamu ajak ayahmu menyusul ke Dubai. Bagaimana?”
“Bolehkah kalau seperti itu?” tanya Amber yang tiba-tiba merasa bersemangat.
“Tentu saja boleh, bukankah ayahmu itu sangat kaya?” goda Lorie sambil mengedipkan matanya.
“Aunty!” Amber mendelik karena malu dan kesal, juga bersemangat.
“Aku akan meminta Daddy menyusulmu kalau adik bayi lahir. Aunty harus memberitahu aku. Oke?”
“Oke. Deal.”
Lorie menautkan kelingkingnya di jari kelingking Amber yang terjulur ke arahnya. Senyum lebar menghiasi wajahnya.
Dua masalah sudah selesai, seharusnya ia bisa pergi ke Dubai dengan tenang.
***