
"Toilet, ada dimana?" tanya Gio yang tiba-tiba saja berbisik di telinga Tara.
Tara menunjuk lantai dua. "Sana, di kamarku saja, kalau kamu mau mandi," jawab Tara tanpa melirik sang suami. "Kamu waktu itu sudah tahu kan, dimana letak kamarku. Sekarang sana naiklah," ujar Tara sambil mengunyah kue yang ada di depannya. Dan di tangan gadis itu terlihat satu gelas coklat hangat. "Kenapa masih diam saja, sana mandi. Kalau kau mau mandi," celetus Tara yang tidak tahu saat ini kalau sang suami mau kencing.
"Aku mau ken--"
"Selamat malam Jeng," ucap seseorang yang baru saja datang sehingga kalimat Gio menggantung di udara. "Senang bertemu dengan Jeng Yana, tidak kusangka kalau ternyata Jeng Yana adalah calon besan kami." Marlina, wanita paruh baya itu terlihat sangat ramah sekali ketika ia menyapa Yana yang saat ini sedang berjalan membawa mapan dan pada saat itu juga Yana langsung meletakkan mapan itu ke atas maja. "Jeng Yana semakin cantik saja," puji Marlina, wanita paruh baya yang disewa oleh Dion untuk menjadi ibu laki-laki itu.
Sedangkan Yana yang telah menaruh mapan itu dan segera menghampiri Marlina. "Eh, Jeng, mari masuk dan langsung duduk saja," ucap Yana berramah-tamah dengan Marlina. "Mana Tara dan Dion?" tanya Yana ketika ia hanya melihat Marlina saja. Padahal tadi putri dan calon menantunya itu mengatakan kalau mereka sedang pergi menjemput orang tua Dion.
"Mereka ada di belakang, bersama Mas Agam, Jeng," jawab Marlina yang melangkahkan kakinya mendekat ke arah Yana. "Eh, ada Nak Tara, lama tidak jumpa akhirnya kita ketemu," kata Marlina yang kini beralih menyapa Tara yang menatapnya dengan kebingungan.
Tara yang disapa malah membatin, "Siapa dia, kenapa sok kenal sekali. Padahal aku tidak pernah melihat batang hidungnya."
"Mamanya Dion, masa kamu lupa sama tante," ucap Marlina yang tahu pasti saat ini sedang kebingungan.
"Maklum Jeng, Tara mungkin sudah lupa," sahut Yana yang juga bisa melihat raut wajah herannya Tara.
Meskipun begitu Tara tetap terlihat cuek bebek, sebab ia benar-benar tidak pernah melihat Marlina, apalagi tidak pernah melakukan video call seperti yang dikatakan oleh wanita paruh baya itu.
Sehingga beberapa detik akhirnya Tika dan Dion, masuk juga diikuti oleh ayah Dion, yaitu Agam. Namun, siapa sangka Agam juga ternyata di sewa oleh Dion, untuk menjadi ayah palsu. Dan Dion adalah laki-laki yang sebenarnya sangat jahat dan licik itu.
Tidak lama saat Tara melihat Dion, detik itu juga tiba-tiba saja Tara menjadi mual dan terjadilah adegan muntah-muntah di meja makan itu. Membuat Gio, sang suami merasa panik.
"Antar aku ke kamar," pinta Tara sambil membungkam mulutnya sendiri menggunakan telapak tangan. "Gio, antarkan aku ke dalam kamarku, sekarang juga!"
Yana yang melihat itu semua menjadi ikut-ikutan panik. "Tara kamu kenapa sayang?" tanya Yana yang terlihat mendekati sang putri.
"Ma, aku mual," jawab Tara lirih. Membuat semua yang ada di ruang tamu itu berpikiran bahwa Tara sedang hamidun. "A-aku, mau ma-masuk ke ka-kamar dulu," sambung Tara terbata-bata. Gadis itu lalu terlihat memegang tangan sang suami.
"Gio bawa istri kamu ke kamarnya dulu, nanti kalau sudah mendingan baru ajak Tara turun," ujar Yana.
Gio dengan cepat mengangguk sambil mengiyakan Yana. "Aku akan mambawa Tara ke kamar dulu, ma."