
“Jam berapa dokter datang untuk memeriksa kamu?” tanya Daniel untuk memecah keheningan.
“Seharusnya sebentar lagi datang.”
Daniel masih ingin menanyakan hal lainnya saat tiba-tiba pintu terbuka dengan suara yang cukup keras, lalu Dokter Ana masuk dengan langkah kaki panjang-panjang. Wanita itu tiba di samping Daniel, berdecak sebal dan memberi tatapan yang menusuk.
“Sepertinya CEO dari EON’s Company sangat santai, setiap saat bisa ke sana kemari dengan leluasa. Bahkan orang yang perlu istirahat pun diganggunya sepagi ini,” sindirnya.
“Ana,” tegur Lorie. “Dia hanya membawakan sarapan untukku.”
“Sarapan omong kosong. Memangnya di sini kehabisan stok makanan? Pagi-pagi membuatku kesal saja. Cepat keluar, aku harus memeriksanya sekarang.”
Daniel hanya menatap Ana dengan mata memicing. Kalau bukan karena ada Lorie di sana ia pasti sudah membalas ucapan yang kurang ajar itu. Pada akhirnya, pria itu hanya menggertakkan gigi dan berjalan keluar tanpa mengucapkan apa pun.
“Ada apa denganmu? Sedang datang bulan? Kenapa emosi seperti itu?” cecar Lorie setelah melihat punggung Daniel menghilang di balik pintu.
Dokter Ana memutar bola matanya dengan kesal dan membalas, “Jaga jarakmu dengan Raymond Dawson dan Daniel entah siapa itu.”
“Hill.”
“Aku tidak peduli.”
Dokter Ana meletakkan tasnya di atas meja dan mengeluarkan kotak obat yang dibawanya dari rumah.
Ia menoleh ke arah Lorie dan kembali menggerutu, “Kalau bukan karena mereka berdua, apakah kamu akan mengalami kejadian seperti ini? Sudah berapa kali kamu masuk rumah sakit? Ingin cepat mati? Kalau ingin cepat mati, biar aku membantumu.”
“Itu bukan sepenuhnya salah mereka berdua. Mana bisa aku menyalahkan dan menjauhi mereka hanya karena kamu bersikap tidak masuk akal. Aku sudah mengatakan kepada Daniel, kami hanya bisa berteman, tidak lebih,” balas Lorie.
“Aku tidak masuk akal?” Dokter Ana melotot dan menyedot cairan obat dari botol kecil berwarna kuning tua, lalu berjalan menghampiri Lorie.
“Aku sangat masuk akal dan realistis. Kamu begitu bodoh, mana bisa melindungi dirimu sendiri dari para predator itu?” gerutunya seraya mengusap lengan Lorie dengan kapas streril. “Tarik napas.”
Lorie menarik napas sesuai instruksi sahabatnya. Sekejap kemudian, rasa ngilu menembus daging dan tulangnya. Ia meringis menahan rasa sakit.
“Obat apa itu?” tanyanya. “Sakit sekali ....”
“Baru kamu tanyakan sekarang? Kalau aku disuap oleh musuhmu, mungkin sekarang kamu sudah berkelonjotan dengan mulut berbusa. Kepala prajurit bayangan apanya, ceroboh sekali,” gerutu Dokter Ana.
Lorie hanya mendengkus dan tidak mau memedulikan Dokter Ana lagi. Sepertinya wanita itu sedang dalam mood yang buruk. Entah arwah penasaran dari mana yang sudah merasukinya sebelum datang ke rumah sakit. Lorie terlalu malas untuk meladeninya.
Sayangnya, Dokter Ana terlihat tidak ingin melepaskan Lorie begitu saja. Setelah membereskan peralatannya, ia kembali menghampiri Lorie dan bersedekap, berdiri di sisi ranjang dan memberi tatapan penuh penindasan.
“Apa lagi? Masih belum puas memarahiku?”
“Tadi kamu bilang hanya berteman dengan Daniel, lalu bagaimana dengan pria bermarga Dawson itu. Apa hubungan kalian?”
Puih!
Dokter Ana sangat ingin meludah.
“Apa bagusnya pria itu? Sepertinya hanya kamu yang tergila-gila kepadanya selama tujuh tahun tanpa berani mengatakannya.”
“Aku tidak—“
“Tidak apa? Berani tunjukkan galeri ponselmu? Atau histori pencarianmu di internet?”
“Aku ....”
“Ha! Lihat, masih berani mengelak?”
“Kenapa kamu galak sekali hari ini? Kamu menakutiku,” gerutu Lorie dengan bibir mengerucut. Mana mungkin ia membiarkan Ana memeriksa. Semua isi ponselnya hanya tentang Raymond.
“Itu karena aku kesal! Kamu ini ... kalau memang suka dengannya, kenapa tidak kamu katakan saja? Kenapa bermain kucing-kucingan?”
“Aku ... aku takut dia tidak menyukaiku ... aku takut dia hanya merasa bersalah, atau terpaksa menyukaiku ....”
“Kalau terpaksa memangnya kenapa? Bukankah yang penting kalian bisa bersama? Kalau kamu tidak mencoba, bagaimana bisa tahu akan berhasil atau tidak?! Berhenti menjadi pengecut, Lorie.”
Lorie menatap Dokter Ana lekat-lekat dan bertanya, “Kenapa kamu berubah pikiran?”
“Hah? Berubah pikiran apanya?”
“Bukankah sebelumnya kamu ingin aku menjauhi Raymond?”
“Sepertinya kamu sudah salah paham. Aku tidak mendukung, juga tidak menolak. Aku hanya ingin kamu melakukan sesuai kata hatimu. Kalau memang kamu ingin melepaskannya, maka beri batasan yang jelas dari sekarang. Kalau kamu ingin mencoba, maka katakan padanya kalau kamu menyukainya sejak lama. Minimal beri kesempatan bagi kalian berdua untuk mencoba.”
Sudut bibir Lorie melengkung mendengar penjelasan itu.
“Sok sekali kamu menasihatiku. Memangnya kamu sendiri pernah menjalin hubungan dengan laki-laki? Kamu bahkan tidak pernah jatuh cinta! Bukankah katamu itu hanya pengaruh hormon?” tanyanya seraya mengangkat alis.
"Cobalah untuk membuat keputusan saat kamu sedang jatuh cinta. Aku ingin lihat bagaimana Dokter Ana yang hebat dan bijaksana ini akan mengatasinya," imbuhnya lagi seraya memberi tatapan penuh cemoohan kepada sahabatnya.
Dokter Ana tercengang. Ia melotot dengan mulut terbuka. Tangannya bergerak-gerak di udara, berusaha menyangkal ucapan Lorie barusan. Namun, pada akhirnya ia hanya menarik napas panjang dan mengepalkan jemarinya kuat-kuat.
“Aku tidak mau peduli denganmu lagi!” Ia menggeram marah dan berderap keluar dari ruangan itu, meninggalkan tawa Lorie yang bergema kencang hingga lorong menuju kamar mandi.
Terdengar sangat menjengkelkan!
***