
Ingar-bingar suara musik yang mengentak tak mampu mengalihkan pikiran Raymond dari masalah yang sedang dihadapinya. Lorie masih belum ditemukan, padahal ini sudah memasuki hari kelima. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Setiap pagi, siang, dan malam ia mendatangi kantor polisi untuk menanyakan kabar tentang Lorie, tapi belum ada perkembangan informasi yang siginifikan. Sementara itu, Alice sama sekali tidak mau mengangat telepon atau membalas satu pun pesan darinya. Situasi ini benar-benar membuatnya sakit kepala.
Oleh karena itulah ia mampir ke salah satu bar yang ada di pusat kota setelah kembali dari kantor polisi satu jam yang lalu. Ia berharap alkohol dan keramaian bisa membuatnya terdistraksi, tapi nyatanya sama saja. Segala keributan di depan sana tak mampu membuatnya berhenti memikirkan Lorie. Apa yang sebenarnya terjadi kepada wanita itu. Apakah dia baik-baik saja sekarang?
Pria itu menghela napas pelan sebelum mengangkat gelas dan menenggak habis cairan di dalamnya. Rasa panas menjalar di kerongkongan hingga lambungnya. Uap beraroma alkohol menerobos mulut dan hidungnya ketika ia mengebuskan napas dengan keras. Sesaat kemudian kepalanya terasa semakin berat. Dengan sedikit sempoyongan, ia bangun dan membayar minumannya. Duduk lebih lama di dalam ruangan itu hanya akan membuatnya semakin gila.
“Ambil saja kembaliannya,” ucap Raymond seraya menyerahkan beberapa lembar euro kepada bartender.
Ia lalu melangkah dengan gontai keluar dari bar. Desau angin malam menerpa wajah dan membuat rambutnya berantakan, tapi tak dihiraukannya. Ia berdiri mematung selama beberapa menit di bawah lampu jalan, kemudian pergi duduk di bangku besi yang berada di sisi trotoar. Penampilannya itu terlihat seperti orang asing yang kehilangan arah. Deru kendaraan yang berlalu-lalang seolah tak mengusiknya sama sekali.
Alkohol dalam darahnya mulai bereaksi. Tubuhnya terasa semakin berat dan panas, tapi ia benar-benar enggan untuk beranjak. Kembali ke hotel hanya memperburuk keadaan. Sendirian di dalam kamar akan membuatnya semakin tersiksa karena merasa bersalah kepada Lorie. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana sikapnya beberapa hari lalu, saat ia secara tidak sengaja mengenali wanita itu sebagai Alice dan ... menidurinya.
Apakah dia memberontak? Apakah dia kesakitan? Bagaimana dia menghadapinya?
Pria itu menghela napas panjang dan bergumam, “Aku benar-benar brengsek.”
Ia menyugar rambutnya dan mengusap wajahnya berulang kali. Bagaimana kalau ia tidak pernah bertemu dengan Lorie lagi? Apakah penyesalan dan rasa bersalah ini akan menghantuinya seumur hidup?
“Apa yang harus aku lakukan?”
Tiba-tiba keningnya mengernyit saat sebuah ide muncul di kepalanya. Ide yang sangat brilian dan paling mudah untuk dilakukan.
Sialan, mengapa tidak terpikirkan sejak kemarin?
Dengan gugup ia menyalakan ponselnya dan menelusuri nomor yang tersimpan di kontak. Ia memang tidak memiliki nomor Alex Smith. Menilik dari posisi dan jabatannya, nomor telepon pria itu juga akan sulit untuk didapatkan dalam waktu singkat. Akan tetapi, ia masih menyimpan kontak Kinara Lee.
Mengingat bagaimana perasaan Alex kepada mendiang istrinya, ia cukup yakin pria itu akan menjaga agar nomor Kinara tetap aktif. Oleh karena itu, saat melihat nama Kinara Lee yang tertulis di layar ponselnya, tanpa ragu Raymond menyentuh bulatan hijau untuk melakukan panggilan.
“Angkat ... ayo, angkat ... aku mohon ....”
“Halo?”
Yes!
Raymond mengepalkan satu tangannya dan meninju udara. Ia melompat-lompat seperti seorang bocah yang mendapat hadiah dan hampir lupa untuk membalas sapaan lawan bicaranya.
“Raymond Dawson?”
“Oh ... um, halo, Tuan Smith. Maaf mengganggumu selarut ini,” ucap Raymond setelah bisa mengendalikan dirinya. Ia benar-benar merasa sangat beruntung karena Alex Smith tetap menjaga ponsel milik istrinya dengan sangat baik, bahkan masih membiarkan kontaknya berada dalam ponsel Kinara.
“Ada apa?”
“Um ... ini tentang Lorie. Kami tidak sengaja bertemu beberapa hari lalu. Katanya dia sedang bekerja, ingin melakukan negosiasi dengan perusahaan senjata biokimia. Eng ... itu ... apakah Anda tahu kalau dia hilang sejak lima hari yang lalu?”
Keheningan yang panjang tercipta di udara setelah Raymond selesai menanyakan hal itu. Ia bahkan mengira Alex Smith sudah mematikan ponselnya sehingga ia memanggil dengan sedikit ragu, “Tuan Smith, Anda masih di sana?”
“Ya. Dari mana kamu tahu Lorie hilang?”
“Itu ... kamar hotel kami bersebelahan. Aku tidak melihatnya sejak hari Minggu, teleponku tidak diangkat, pesanku juga tidak dibalas, jadi aku bertanya kepada resepsionis apakah dia sudah check out atau belum. Kata gadis yang bertugas, Lorie belum keluar dari hotel. Lalu, petugas keamanan mengabariku bahwa sopir taksi hotel menyaksikan Lorie diculik oleh orang yang tidak dikenal di depan apotik. Kami sudah pergi untuk melapor ke kantor polisi, tapi belum ada kabar sampai hari ini. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi, jadi ....”
Raymond menjelaskan semuanya dalam satu tarikan napas, kemudian menunggu respon dari Alex.
Namun, lagi-lagi hanya keheningan panjang yang terjeda di udara.
***