Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 133: Memasuki Daerah Lawan


Kinara menatap ponselnya tanpa berkedip, membaca pesan dari Alex berulang kali. Perlahan tapi pasti detak jantungnya mulai meningkat. Ia menarik dan mengembuskan napas perlahan untuk meredakan cemas yang membuatnya tiba-tiba merasa mual. Sial. Ia benar-benar mual.


"Apa yang terjadi," gumam Kinara sambil memijit keningnya yang berdenyut hebat. Aneh karena ia belum pernah seperti ini sebelumnya. Akhir-akhir ini ia menjadi lebih mudah cemas dan mual.


Apakah lambungku bermasalah?


Kening Kinara berkerut. Sepertinya masalah yang bertubi-tubi ditambah kurang istirahat memicu asam lambung dan vertigonya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Sarah, rekan semeja Kinara.


"Yeah. Hanya sedikit pusing," jawab Kinara. Ia lalu melanjutkan mencatat tugas yang diberikan oleh dosennya.


"Tapi wajahmu pucat sekali."


"Benarkah?"


Sarah mengangguk dan berkata, "Pulanglah dan beristirahat. Aku akan memberimu salinan tugas nanti. Jangan khawatir."


Gerakan tangan Kinara melambat. Ia mengangkat tangan dan menyentuh keningnya.


Memang sedikit hangat, tapi ... tidak bisa pulang sekarang. Sebentar lagi ....


"Terima kasih, Sarah. Tapi aku masih bisa bertahan. Aku akan pulang kalau sudah benar-benar tidak bisa."


"Well, terserah padamu saja. Katakan kalau membutuhkan sesuatu."


Kinara tersenyum dan menjawab, "Baik."


Ia lalu mencoba untuk fokus pada penjelasan dosen di depan sana. Tidak boleh gagal. Ia harus mendapat nilai sempurna agar Alex bangga padanya. Memikirkan pria itu membuat Kinara tanpa sadar kembali tersenyum. Rasa takutnya mendadak menguap begitu saja. Ia yakin Alex akan menjaganya dengan sangat baik. Tidak peduli apa pun yang terjadi nanti, pria itu pasti mengutamakan keselamatannya.


Kinara meraih ponselnya yang menyala. Ia sengaja mengaktifkan mode hening pada benda itu ketika berada di kampus. Raut wajah Kinara semakin berseri. Ada sebuah pesan lagi dari Alex.


Baby, setelah semua ini selesai, ayo berlibur ke mana pun kamu mau.


Wajah Kinara bersemu. Ia melirik Sarah yang sebelum membalas pesan Alex.


Baik. Aku akan menagihnya nanti.


Ia menyentuh tombol kirim dan menyimpan ponselnya ke dalam tas. Seharusnya sebentar lagi sudah pulang.


Oh, akhirnya ....


Kinara segera merapikan buku-bukunya di atas meja dan memeriksa barang bawaan yang lain. Setelah semuanya beres, ia memakai tas ranselnya dan berjalan keluar.


"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Sarah ketika berjalan bersisian bersama Kinara.


"Ya," jawab Kinara sambil menyentuh keningnya. Aneh. Suhu tubuhnya sudah kembali normal.


Atau tadi hanya perasaanku saja? Ah, sudahlah, mungkin karena di dalam ruangan ber-AC.


"Kalau begitu, sampai jumpa besok."


"Sampai jumpa," balas Kinara seraya menuruni anak tangga dengan cepat. Ia tidak sabar ingin bertemu Lorie dan berdiskusi lagi dengan gadis itu sebelum ....


"Billy?"


Langkah Kinara melambat ketika melihat Billy bersandar di pilar dekat gerbang tempat parkir. Pria itu melambai dari kejauhan dan berjalan menghampiri Kinara.


"Hei, kenapa seperti tidak senang melihatku?" tanya Billy sambil merangkul pundak Kinara.


"Siapa yang tidak senang," jawab Kinara sedikit mencibir, "Aku hanya sedang mencari Lorie, tapi malah kamu yang muncul."


Billy terkekeh pelan dan berkata, "Jadi kehadiranku tidak diharapkan? Padahal Alex mengutusku untuk menjemputmu. Dia sudah memesan tempat untuk makan siang yang romantis bersamamu."


"Benarkah?"


"Jangan beri tahu berandalan itu kalau aku membocorkan rencananya. Kalau tidak, dia akan membunuhku," ujar Billy sambil mengedipkan mata.


"Oh, di mana Lorie? Nanti dia mencariku," kata Kinara ketika Billy berjalan menuju pintu gerbang dan bukannya tempat parkir.


"Alex memintanya ke kantor pusat untuk mengambil berkas. Kebetulan aku sedang lewat dekat sini jadi Alex memintaku menjemputmu."


"Oh, begitu ...."


"Hum. Ayo."


Kinara mengikuti Billy, meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Apa pun yang akan terjadi nanti, ia tidak akan menyalahkan siapa pun. Ia setuju digunakan sebagai umpan atas kesadarannya sendiri, jadi kalau nanti keadaan benar-benar kacau dan tak terkendali, ia sungguh akan menerima semuanya dengan hati lapang.


Billy terlihat sedikit terkejut atas perbuatan Kinara. Ia menoleh dan mendapati Kinara sedang tersenyum ke arahnya. Tatapan mata wanita itu terlihat lembut dan tulus. Jenis sifat yang tidak dibuat-buat atau hanya sekedar mencari perhatian.


Pantas saja Alex sangat mencintainya, batin Billy. Ia ikut tersenyum dan membalas genggaman Kinara. Entah mengapa hal sepele itu memberi kekuatan ekstra padanya.


Langkah Kinara terhenti di samping mobil Billy. Ia menoleh dan menatap pria itu dengan sungguh-sungguh.


"Antarkan aku dengan baik atau Alex akan membunuhmu," ujarnya dengan mata menyipit.


Billy terkekeh pelan dan membukakan pintu mobil. "Baik, Nyonya. Masuklah," perintahnya.


Kinara duduk dan memasang seat belt. Ia bisa melihat bahu Billy mulai menegang. Pria itu mengetuk-ngetuk kemudi dan tidak mengajaknya berbicara di sepanjang perjalanan, padahal biasanya dia tidak pernah kehabisan bahan percakapan.


Drrrt. Drrrt. Drrrt.


Billy mengeluarkan ponselnya yang bergetar dari dalam saku jaket. Wajahnya mendadak berubah setelah membaca pesan yang masuk. Ia tidak membalas atau melakukan panggilan, hanya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan terus menyetir.


"Ada apa?" tanya Kinara ketika melihat rahang Billy mengeras. Ia tahu, ada yang tidak beres.


"Tidak. Pihak restoran membatalkan reservasi sepihak. Alex baru saja mengirimkan alamat baru," jawab Billy sambil membanting stir dan berbelok ke arah selatan.


Semoga Alex mempunyai rancana cadangan.


***


"Tuan, mobil tuan Billy tidak menuju titik awal yang ditentukan sebelumnya," lapor seorang pemuda berambut ikal yang duduk di depan layar komputer.


"Ke mana mereka pergi?"


"Ke arah kita, tepat seperti dugaan Anda."


Alex menyeringai puas. Tidak sia-sia ia mempelajari anak perusahaan Andromeda Corporation beserta semua yang terlibat di dalamnya. Area selatan adalah satu-satunya wilayah paling aktif dalam grafik yang dibuatnya. Ia berdiri di dekat jendela dan menyibak gorden lusuh yang menghalangi cahaya matahari dengan cukup baik. Jika perhitungannya tidak meleset, mobil Billy dan Kinara akan tiba sekitar 15 menit lagi.


"Tuan Billy tidak tahu tentang hal ini?" tanya Lorie.


Alex menggeleng. Ia sengaja tidak memberi tahu Billy tentang rencananya ini untuk berjaga-jaga, siapa tahu isi kepalanya masih bisa dipindai. Kalau itu sampai terjadi, maka semuanya akan sia-sia.


"Anda yakin akan melakukanya sendiri, Tuan?" tanya Lorie ketika melihat Alex mulai memasang rompi anti peluru dan melapisinya dengan seragam teknisi mesin pendingin ruangan. Meski rambut palsu dan kacamata membuat wajah tuannya berubah drastis, Lorie tetap merasa cemas.


"Masih ada waktu, ada banyak anak buah kita yang sudah berpengalaman dalam misi seperti--"


"Istriku akan dibawa ke sana, tentu saja aku akan melakukannya sendiri," sela Alex sambil memakai topi kuning yang senada dengan seragamnya.


"Kerahkan semua pasukan ketika aku memberi aba-aba," sambungnya lagi seraya mengambil tas berisi perlengkapannya.


"Baik, Tuan," jawab Lorie. Ia menyingkir dekat pintu dan memberi jalan untuk Alex


"Jaga Tuan baik-baik," ujarnya lagi pada seorang pria yang memakai seragam sama seperti Alex.


"Jangan khawatir. Aku akan membawa dia keluar dari sana hidup-hidup," jawab pria itu dan menyusul Alex keluar


Alex berjalan dengan tenang, melangkahkan kakinya dengan mantap sambil menatap lahan seluas lebih dari tiga hektar yang merupakan tempat penyimpanan utama milik Andromeda Corporation. Ia cukup yakin, gudang itu juga menjadi semacam camp militer seperti miliknya. Ini adalah salah satu alasan juga ia menebak Kinara akan dibawa ke sini. Siapa pun lawannya itu pasti mencari tempat yang memudahkannya mengakses senjata atau memberi perintah pada pasukannya.


Sekarang, ia hanya harus bisa masuk ke dalam sana. Setelah itu, semuanya sudah berada dalam kendalinya.


***