Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
42


Tepat hari ini tanggal 19 Maret 2023, Tika akan melangsungkan akad nikahnya dengan Dion, akan tetapi ketika gadis itu sudah selesai di rias. Sampai detik ini juga Dion sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya juga.


"Tika, apa kamu sudah menghubungi Nak Dion?" tanya Yana yang saat merasakan sesuatu hal buruk akan terjadi pada pernikahan putri keduanya ini sehingga membuat wanita itu menjadi sedikit cemas.


"Ma, Mama kenapa sih, kok dari tadi nanyain Dion mulu? Mama tentang saja oke, pasti Dion akan datang meskipun aku tidak menghubunginya karena. Dion sudah tahu hari ini adalah hari bahagia kami." Tika dengan sangat percaya diri menjawab sang ibu dengan berkata seperti itu. "Pokoknya Mama tenang saja, dan duduk manis bersama Papa. Karena aku yakin Dion sebentar lagi akan datang," kata Tika yang meyakinkan sang ibu.


"Tika sayang, coba kamu hubungi dia dulu, supaya Mama tahu kalau dia sekarang ada dimana," ucap Yana menyuruh Tika untuk menghubungi Dion. "Ayo Tika kamu hubungi Dion karena acaranya sebentar lagi akan dimulai, tamu undangannya saja sudah lengkap semuanya sudah datang," lanjut Yana.


"Mama ini selalu saja begini, baiklah kalau begitu aku akan menghubungi Dion." Tika lalu dengan cepat menekan tombol untuk memanggil calon sang suami. Nanum, apa yang ia dengar malah membuatnya mengerutkan dahi.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi."


"Tidak aktif Ma," kata Tara sambil membesarkan volume ponselnya.


"Kok bisa tidak aktif, pergi kemana Dion. Bukankah dia juga membawa mobilmu?"


"Ma, mungkin saja Dion lagi ada di jalan, dan memang benar dia membawa mobilku." Saat ini Tika berusaha untuk berpikir positif. Karena ia yakin kalau Dion adalah laki baik-baik dan tidak akan mungkin berani untuk macam-macan di belakangnya. Mengingat dia sudah menyerahkan semuanya kepada laki-laki itu termasuk Tika sudah memberikan Dion tabungannya yang berkisar 5 Miliar. Bukan cuma itu, Tika juga dengan bo dohnya memberikan Dion surat-surat mobilnya pada malam itu. "Mama jangan khawatir Dion pasti datang, karena Dion laki-laki yang tidak akan pernah lari dari tanggung jawab," sambung Tika yang menatap mimik wajah sang ibu dari pantulan cermin rias yang ada di depannya saat ini.


"Apa kamu yakin?" tanya Yana ragu.


Tika mengangguk. "Aku sama sekali tidak pernah meragukan Dion, Ma, karena sejak kami pacaran dia tidak pernah terlihat aneh-aneh," jawab Tika Yakin. "Apalagi dia nggak pernah neko-neko," lanjut Tika.


"Tapi kok, firasat Mama tidak enak," ujar Yana sambil memegang kedua bahu putrinya karena posisinya saat ini sedang berdiri di belakang Tika yang sedang duduk di kursi. "Coba kamu telepon sekali lagi, bila perlu hubungi nomor kedua orang tuanya," pinta Yana.


Meski Tika tidak membalas ucapan sang ibu tapi ia tetap menghubungi nomor kedua orang tua Dion. Tapi sayang, kedua nomor orang tua laki-laki itu sama juga tidak aktif. Sehingga membuat Yana semakin gelisah.


"Tuhan, apalagi ini?" gumam Yana di dalam benaknya.


"Fix, Dion dan kedua orang tuanya saat ini sedang dalam perjalanan menuju kesini Ma. Jadi, Mama jangan terus-terusan berpikiran buruk dulu pada Dion, calon menantu Mama dan juga calon besan Mama itu," kata Tika yang masih saja berpikiran positif. Meski ia mendengar sendiri bawa nomor ponsel Dion dan kedua orang tua laki-laki itu tidak aktif.


"Tika, Mama cuma takut ...." Yana menjeda kalimatnya.


"Tidak akan ada yang terjadi, sekarang Mama keluar saja gih." Tika malah terus-terusan menyuruh sang ibu untuk keluar dari kamarnya itu.


***


"Tara jangan begini, ini pernikahan kakak kamu. Masa kamu nggak mau datang," kata Gio saat melihat Tara masih betah memejamkan mata. "Bangun dan mandi, karena sebentar lagi acaranya pasti akan di mulai, dan sangat disayangkan sekali kalau kamu tidak hadir di saat acara sakral kakak kamu itu," sambung Gio yang berharap Tara akan mau bangun dari tidurnya.


"Kamu masih pagi sudah sangat berisik sekali Gio, sana kalau kamu mau pergi, pergi saja sendiri nanti aku akan kesana kalau Kak Tika dan Dion sudah sah menjadi pasangan suami istri," timpal Tara yang malah terlihat semakin menaikkan selimutnya sampai ke da danya. "Sana kau pergi saja ajak Gavin dan Alexa, hitung-hitung biar mereka makan gratis pergi ke kondangan Kak Tika."


"Tara bisa serius tidak, dari tadi papa Arzan terus saja meneleponku, dan terus saja menanyakan kalau aku dan kamu sudah sampai di mana," ucap Gio. Yang ingin sekali menggendong tubuh sang istri masuk ke dalam kamar mandi. "Ayolah Tara, aku ini sudah rapi dan kamu masih saja betah rebahan seperti ini. Sungguh kamu wanita yang sangat langka."


"Hm, badanku terasa remuk Gio gara-gara kelakuan kamu tadi malam," ujar Tara menggeliat di bawah selimut. Karena sebenarnya saat ini gadis itu tidak menggunakan sehelai benang apapun di bawah selimut itu. "Kau benar-benar sangat br utal, laki-laki yang sangat me sum!" gerutu Tara. Sebab tadi malam rupanya Gio mengulangi kegiatan panasnya dengan wanita itu.


"Biar cepat jadi, dan jangan banyak protes, aku tidak suka," balas Gio. "Apa jangan-jangan kamu mau nambah lagi, untuk energi, supaya kamu mau pergi ke acara pernikahan Avantika?"


"Enak saja, mulutmu lancang sekal!" ketus Tara. "Keluar sana, supaya aku bisa pergi ke kamar mandi!" seru Tara.


"Setiap lekuk dan tahi lalat di tubuhmu aku sudah tahu Tara. Jadi, apalagi yang harus kamu sembunyikan dariku?"


"Kau benar-benar, Gio!"


***


Setiba di rumah kedua orang tuanya, Tara benar-benar dibuat tercengang, bagaimana tidak? Rupanya semua tamu sudah dibubarkan oleh sang ayah.


"Ada apa ini? Kenapa semua tamu undangan bubar? Apa kita terlambat Gio?" tanya Tara pada sang suami.


Gio yang baru turun dari mobilnya juga ikut heran. "Tidak kita tidak telat, karena acaranya baru saja akan mulai," jawab Gio sambil melirik jam di pergelangan tangannya. "Ayo, kita masuk saja supaya tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi," ajak Gio memegang telapak tangan sang istri.


"Aku merasa ini semua ada yang tidak beras," kata Tara tiba-tiba sehingga membuat Gio yang baru saja akan berjalan mengurungkan niatnya. "Iya, aku merasa ini pokoknya tidak beras. Karena aku melihat raut wajah tamu undangan semuanya sendu," lanjut Tara.


Gio menghela nafas. "Masuk, jangan malah menebak-nebak begini. Karena kamu bukan peramal melainkan cewek termalas," bisik Gio di indra pendengaran sang istri.