
“Tidak perlu membuka gerbang,” ucap Lorie pada pengawal yang berjaga.
Ia berdiri sekitar satu meter di balik pagar besi, menatap dengan acuh tak acuh kepada Raymond yang terlihat sedikit kuyu. Lingkaran hitam di bawah matanya itu jelas menunjukkan bahwa dia tidak tidur dengan nyenyak.
Sepertinya pria itu kehilangan cukup banyak bobot tubuhnya. Apakah dia tidak hidup dengan baik akhir-akhir ini?
Meski dipenuhi tanya, Lorie tidak mengucapkan rasa ingin tahu dalam hatinya.
Sementara itu, Raymond yang menyadari tubuh Lorie semakin berisi akhirnya bisa menghela napas lega. Setidaknya wanita itu sehat dan menjalani hidupnya dengan baik.
Setelah hanya terdiam dan saling menatap selama beberapa waktu, Lorie yang lebih dulu membuka suara.
“Ada apa? Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu.”
Raymond terpaku. Sikap Lorie begitu dingin dan menjaga jarak, sangat berbeda dengan wanita ramah dan murah senyum yang ditemuinya di Venice. Mengapa mereka bisa sampai berada di titik ini?
“Kalau tidak ada yang ingin kamu katakan, pergilah,“ ucap Lorie lagi dengan tidak sabar.
Wajah Raymond yang kuyu tampak menyedihkan ketika ia mengulas senyum tipis. “Bagaimana kabarmu?” tanyanya.
“Seperti yang kamu lihat, aku baik.”
“Aku ....”
Raymond menelan ludah dan menatap Lorie lekat-lekat. Ia tidak tahu harus memulai dari mana. Semua pertanyaan yang sudah disiapkannya mendadak menguap dari kepalanya. Ia menatap perut Lorie yang tercetak di balik gaun longgar yang digunakannya, lalu menelan ludah yang terasa getir.
“Lorie, aku sungguh minta maaf. Aku merasa bersalah kepadamu. Waktu itu aku mabuk dan aku sungguh tidak tahu itu adalah kamu ....“
“Aku tahu. Aku sudah memaafkanmu. Sudah kukatakan dalam pesan yang kukirim sebelumnya.”
Setelah mendengar pernyataan itu justru membuat Raymond merasa tidak tenang. Ia berdiri dengan gelisah dan terus menatap perut Lorie hingga membuat wanita itu merasa sedikit tidak nyaman.
“Kalau tidak ada lagi, aku akan—“
“Apa dia ... bayi itu .... apakah dia milik ... ehm, milikku?”
“Bukan,” jawab Lorie yang sudah menduga Raymond akan mengajukan pertanyaan itu.
Baru saja mengatupkan mulutnya, sebuah gerakan kecil terasa di perutnya. Seperti sebuah sundulan yang tidak terlalu keras, tapi bisa terasa dengan jelas olehnya.
Bayinya bergerak!
Itu adalah gerakan pertamanya.
Tiba-tiba mata Lorie memanas. Tanpa sadar ia mengangkat tangan dan mengusap perutnya perlahan. Apakah bayinya baru saja protes karena ia tidak mengakui ayahnya?
“Kamu yakin?” tanya Raymond sedikit ragu. “Aku akan bertanggung jawab, Lorie.”
“Dia bukan milikmu.”
Dug.
Satu sundulan pelan kembali menekan perut Lorie. Sekarang ia yakin, bayinya sedang protes karena ia sedang berdusta. Pupil mata Lorie bergetar secara tidak alami. Ia takut Raymond akan mengetahui kebohongannya sehingga ia menunduk perlahan.
“Aku memikirkanmu setiap malam, mencoba mengingat apa yang telah kulakukan kepadamu. Apa aku menyakitimu? Bukan hanya fisik, tapi hatimu juga. Katakan, bagaimana cara aku menebusnya? Bahkan jika kamu memukuli aku sampai lumpuh, aku rasa itu tetap tidak cukup.”
Menebus? Penebusan apa yang ingin kamu lakukan? Kamu bahkan tidak mencintaiku.
“Tidak ada yang perlu dibayar, Ray. Mari jalani hidup masing-masing seperti sebelumnya,” balas Lorie setelah terdiam cukup lama.
“Aku menyukaimu.”
Lorie tercengang mendengar pengakuan yang tiba-tiba itu. Ia sama sekali tidak menduga pernyataan itu akan keluar dari mulut Raymond. Untuk sesaat wajahnya dipenuhi oleh ekspresi yang kompleks. Namun, saat realita menyadarkannya, hanya seulas senyum masam yang tertinggal di wajahnya.
“Benarkah?” tanya Lorie sambil menatap Raymond lekat.
“Ya.”
“Sejak kapan?”
“Sejak ....” Raymond menelan ludahnya dengan susah payah. Itu adalah pertanyaan yang sulit. Apakah jika ia menjawab bahwa ia menyadari perasaannya sejak kemarin maka Lorie akan menendangnya menuruni bukit?
Lorie mencibir dan berkata, “Tidak perlu bersusah payah mengelabuiku, Ray. Tidak perlu juga merasa bersalah. Aku sudah memiliki pria yang mencintaiku, jadi ... pulanglah.”
“Aku tidak tahu sejak kapan, Lorie. Tapi aku menyukaimu. Sungguh. Percaya padaku,” balas Raymond cepat. Susah payah ia berhasil menarik Lorie keluar dan menemuinya, bagaimana bisa ia melepaskannya begitu saja?
“Apa kamu menyukaiku sejak kita bertemu di Venice atau karena secara tidak sengaja telah meniduriku?”
“Itu ....”
Raymond kesulitan berkata-kata lagi. Ia yakin kalau ia mengatakan bahwa ia terus memikirkan Lorie setelah mereka tidak sengaja tidur bersama maka Lorie mungkin akan benar-benar menendangnya menuruni bukit.
Sayangnya, Lorie tidak bodoh, ia paham isi kepala Raymond meskipun dia tidak menjawab pertanyaan barusan. Ia tahu pria itu memiliki rasa suka setelah malam itu. Sebelumnya, jelas-jelas dia memeluk Alice dengan penuh cinta.
Mereka bahkan sudah akan menikah.
Lorie menghina dirinya sendiri dalam hati. Rasa suka dari pria yang dicintainya didapatkan dengan cara yang tidak mudah. Benar-benar melelahkan.
***