
Kepulan asap bergulung, menerobos dari sela bibir berlekuk penuh yang sedikit terbuka. Kumpulan gas putih itu perlahan membaur dengan udara, sedikit memudar, lalu disusul rangkaian abstrak yang baru. Puntung rokok bertebaran di atas meja. Lebih dari separuh bungkus telah habis.
Hening. Tidak terdengar suara lain. Hanya tarikan napas dalam disusul embusan pelan dan panjang. Sesekali sudut bibir itu berkedut, tapi tak merubah posisi tubuhnya yang bersandar di meja kerja. Rambut ikal sepinggang itu tergerai bebas, beberapa jumput terselip di daun telinga. Terlihat sembrono sekaligus seksi.
Sudah hampir satu jam ia mengamati kota metropolitan di seberang sana. Las Vegas, kota yang tak pernah mati. Tangan kirinya yang menopang siku kanan baru saja meraih pemantik, ketika terdengar suara pintu yang terbuka disusul gumaman bernada tidak suka yang cukup keras.
"Nona Jessica, Anda tidak seharusnya berada di sini."
Wanita yang baru saja masuk itu melotot melihat ruangan yang pengap dan suram, lalu menekan tombol bulat yang ada di tembok. Mesin di langit-langit ruangan menyala, dengan cepat mengisap habis gas beracun yang berputar di udara.
Jessica terkekeh pelan, berbalik ke arah wanita yang baru saja menerobos masuk. Ia meletakkan kembali rokok yang hendak dinyalakan ke dalam wadah. Sepasang mata bulat itu menatap tajam ke arah wanita itu, tetapi wanita itu tetap berdiri dengan teguh, menunjukkan sikap menantang dan sedikit membusungkan dada.
"Sudah berani lancang, Gina?"
Jessica merapikan blouse dark blue di tubuhnya, mengibas debu rokok yang menempel di sana. Penampilan wanita itu begitu anggun dan memikat. Helaian rambutnya yang kemerahan berkilau tertimpa cahaya matahari.
Gina menarik napas dalam-dalam, mengabaikan wanita di hadapannya. Ia melangkahkan menuju meja dan meletakkan setumpuk berkas di sana.
"Tuan tidak akan senang melihat Anda di ruangannya seperti ini," kata Gina, "Keluarlah sebelum tuan datang."
Setelah selesai melakukan tugasnya, wanita bertubuh mungil itu berjalan menuju pintu. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya berputar cepat ke arah Jessica. Ia menatap dengan serius, lalu berkata, "Jangan pernah menguji kesabarannya," ujarnya sebelum menghilang di balik pintu.
Sikap Gina yang mengintimidasi itu sama sekali tak mengganggu Jessica. Wanita itu mendengkus dan kembali menyalakan rokoknya. Asap putih kembali bergulung memenuhi ruangan. Kedatangannya ke gedung ini bukan tanpa alasan. Ada yang harus ia bicarakan dengan pemilik Andromeda Corporation ini.
Jessica mendongak ketika mendengar suara pintu terbuka. Seorang pria berjubah hitam melangkah masuk disertai empat orang pengawalnya. Mata pria itu memicing ketika melihat Jessica sedang mengulas senyum dan berjalan menghampirinya. Tanpa basa-basi, Jessica langsung memeluk dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir sang pria.
"Aku tahu kau sibuk, jadi aku langsung ke sini," ujar Jessica dengan suara manja. Ia bergelayut di pundak pria itu tanpa rasa malu.
Pria berjubah itu menghentikan langkahnya, lalu memegang rahang Jessica dan memberi tekanan di sana.
"Umh," gumam Jessica dengan kening mengernyit.
"Beraninya kau datang ke sini," geram pria berjubah itu, "Siapa yang memberimu keberanian itu?"
"Aku punya berita penting," ujar Jessica seraya menahan sakit, "Ini mengenai Alex."
"Alex?"
Pria berjubah itu melepaskan tangannya dengan kasar, kemudian berjalan menuju kursinya.
"Uum ...." Jessica mengusap pipi dan membetulkan pakaiannya, "Aku mendapat informasi mengenai Alex yang sedang mencari tahu mengenai tempat ini. Juga mengenai Billy. Aku rasa mereka berdua sedang menyusun rencana untuk menyerangmu."
Pria berjubah itu mendengkus sinis. "Kau jauh-jauh datang ke mari hanya untuk memberitahuku hal ini?" tanyanya seraya menyugar rambutnya yang keperakan, "Kau tahu pasti aku sudah mengetahuinya lebih dulu dibandingkan dirimu."
Wajah Jessica yang berseri itu seketika menciut. Ia mengigit bibirnya perlahan, beberapa kali membuka mulut seakan hendak mengatakan sesuatu. Namun, ia kembali mengurungkan niatnya itu.
"Aku rasa, Alex mulai mengetahui keberadaanmu," kata Jessica pada akhirnya, "Orang-orang kepercayaan kita lenyap satu per satu. Apa menurutmu, salah satu dari mereka tidak akan membuka mulut?"
Pria berjubah itu melambaikan tangan sambil membalas, "Tidak akan ada yang membuka mulut."
Jessica berjalan menghampiri pria yang sedang menatapnya dengan sorot tajam itu. Ia mendesah pelan sebelum menunduk dan berbicara di dekat telinga lawan bicaranya. "Aku punya ide untuk menjebak Alex. Apa kau tidak curiga kalau dia sudah mengalami kemajuan pada kedua kakinya?" tanyanya.
Pria berjubah itu mengangkat satu alisnya. "Katakan."
"Begini ...."
Jesicca menempelkan bibirnya ke dekat telinga pria berjubah itu. Tangan kananya menutupi gerakan bibirnya yang bergerak pelan.
Mata pria berjubah itu kembali memicing ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Jessica. Bibirnya menyunggingkan seringai licik. "Kau yakin pria bodoh itu akan melakukan hal itu untuk membuat Alex menampakkan wujud aslinya?" tanyanya.
Jessica tersenyum penuh rasa percaya diri. "Tentu saja. Pria bodoh itu akan melakukan apa pun untuk membuat saudara sepupunya menderita. Kita hanya memberi sedikit motivasi dan dorongan."
Pria berjubah itu menarik Jessica hingga menempel di dadanya. "Tidak salah aku merekrutmu. Tidak ada yang bisa menandingi otakmu yang licik itu. Lakukan seperti apa yang kau katakan tadi."
"Hum," jawab Jessica singkat.
Pria berjubah itu menjilat bibir dan menatap gundukan kenyal di hadapannya itu.
"Jaga pandanganmu, Tuan," tegur Jessica dengan mata yang mulai berkabut oleh gai*ah.
Pria berjubah itu tawa samar lalu merenggut blouse yang dipakai oleh Jessica. "Wanita murahan yang bertingkah seperti wanita berkelas. Bukankah itu menjijikkan?" ejeknya.
"Kamu menyakiti harga diriku," gumam Jessica seraya berusaha menutupi belahan dadanya. Ia dapat merasakan para pengawal yang berada dalam ruangan itu pun sedang menatapnya. Anehnya, hal itu justru membuatnya semakin terang*ang.
Pria berjubah itu menyeringai licik. Ia bangun dan mendorong Jessica hingga posisinya setengah berbaring di atas meja.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jessica. Seluruh tubunya meremang karena adrenalin yang terus meningkat.
Pria berjubah itu menunduk dan berbisik di telinga Jessica, "Memberimu hukuman karena telah berani datang tanpa izin dariku," jawabnya sambil membuka mulut dan menjil*t tulang selangka Jessica, membuat tubuh wanita itu sedikit bergetar.
Pria berjubah itu tertawa melihat reaksi wanita di bawahnya. Ia menarik lepas b*a Jessica dan menyentuh gundukan yang menarik perhatiannya sejak tadi.
"Aku ... aku ... Oh ...!"
Tubuh Jessica melengkung secara alami. Untaian rambutnya tergerai di bahu dan menutupi separuh dada.
Pria berjubah itu menempelkan bibirnya, mencicipi setiap lekuk tubuh Jessica dengan lidahnya. Ia menyesap dan merasai. Jemarinya mencengkeram rahang Jessica, memaksa wanita itu untuk membuka mulutnya, lalu menjarah dengan penuh dominasi.
"Jal*ng Kecil, berani sekali mencobaiku, hum ...," ujarnya seraya mencubit permukaan kulit yang terasa hangat sekaligus lembut di telapak tangannya itu
Jessica mengerang hebat. Sentuhan pria itu selalu nikmat ....
"Tuan ...," gumamnya di sela pagutan mereka.
"Menikmatinya, Sayang?"
Tangan pria itu bergerak ke bawah, menyingkap rok ketat hitam yang membalut paha mulus tanpa cela. Jessica terbelalak karena menyadari para pengawal masih mengawasi mereka. Namun, bibir pria itu dengan cepat menyumpal mulutnya. Lalu perlahan akan sehatnya menguap entah ke mana, hanya bisa mengikuti gelombang panas yang disebarkan di seluruh tubuhnya, membalas gairah yang meluap hingga tersebar aroma percintaan yang panas dalam ruangan itu.
Gerakan yang keras dan cepat itu membuat kabut di wajah Jessica semakin menebal.
Larut ....
Hanyut.
"Tuan ...." Jessica terengah-engah, menatap pria di atasnya dengan sorot memohon.
"Hum ...?"
Seakan mengerti, pria itu bergerak lebih intens. Gerakan itu mengirimkan gelenyar aneh di sekujur tubuh Jessica, lalu berkumpul di satu titik dan meledak.
"Aa-aku ....!"
Tubuh Jessica bergetar hebat, mendapatkan pelepasan setelah perjalanan panjang yang ni*mat sekaligus menyiksa.
"Menyenangkanmu?"
Pria itu melum*t kasar bibir Jessica, mengigitnya dengan kasar di leher dan pundak.
"Oh!"
Tubuh Jessica kembali menegang. Pria itu melepaskan pakaiannya dan bersiap melakuan serangan kedua.
Kedua insan itu terlalu sibuk mengejar kenikmat*n dunia hingga tak menyadari, sebuah alat perekam telah menyala sejak tadi.
Di dalam sebuah mobil yang berhenti beberapa meter dari Andromeda Corporation, seorang pria mengamati layar monitornya dengan tenang. Seharusnya pria dalam rekaman ini yang dicari oleh tuannya.
***