Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 15


Ketika akhirnya Lorie keluar dari kamar mandi, semburat keemasan sudah terlihat di kaki cakrawala. Ia membuka jendela lebar-lebar dan membiarkan udara pagi menerobos masuk, memberi kesegaran kepada paru-paru dan otaknya yang seperti sedang mendidih.


*Pergi membeli obat*.



Ingatan yang ditanamkannya sejak semalam tiba-tiba muncul ke permukaan, membuatnya terkesiap dan segera berganti pakaian. Seharusnya di sekitar hotel ada apotik yang beroperasi 24 jam. Atau mungkin ia bisa langsung pergi ke rumah sakit terdekat jika tidak ada apotik yang buka sepagi ini. Apa pun itu, yang jelas ia harus segera menemukan pil kontrasepsi.



Setelah mengeringkan rambutnya dengan *hairdryer* dan mengikatnya asal-asalan, Lorie meraih tas tangannya di atas meja, memasukkan ponsel dan sepucuk bareta ke dalamnya, kemudian bergegas keluar dari kamar dan turun ke lobi utama sambil memesan taksi yang disediakan oleh pihak hotel. Ia merasa tidak enak jika harus mengganggu George atau Leonard sepagi ini, juga tidak berani mengambil risiko dengan berjalan kaki, takutnya anak buah Rafael masih berkeliling di sekitar hotel dan mengincarnya.



“Antar aku ke apotik terdekat,” pinta Lorie kepada sopir yang tiba di depan lobi beberapa menit kemudian.



“Baik, Nona,” jawab sang pengemudi seraya membelokkan kendaraannya menuju jalan utama.



Beruntung lokasi apotik yang dituju tidak terlalu jauh. Perjalanan dengan mobil hanya memakan waktu sekitar 10 menit. Ia meminta sopir untuk menunggu, kemudian ia melangkah masuk ke bangunan bernuansa putih itu.


Hanya ada dua orang pemuda yang berjaga di balik etalase. Lorie segera menghampiri mereka dan meminta agar diberi obat pencegah kehamilan yang diminum beberapa jam setelah ... melakukan hal itu.


Ia sedikit bersyukur dalam hati karena memutuskan untuk keluar pagi-pagi sekali sehingga tidak perlu bertemu dengan pembeli lain, kalau tidak ... entah harus ditaruh di mana wajahnya.



“Ini, Nona. Petunjuk pemakaiannya ada di bungkusnya.”



“Terima kasih.”



Lorie menerima obat itu, menyodorkan beberapa lembar euro untuk membayarnya, kemudian buru-buru keluar. Tatapannya terfokus pada lempengan obat di tangannya sehingga tidak menyadari kehadiran dua orang pria yang melaju ke arahnya dengan cepat.



Bruk!



“Oh!”



Lorie memekik karena terkejut. Obatnya terjatuh di atas anak tangga. Ia menunduk dan memungut obat itu. Kemudian, saat ia kembali mendongak, sorot keterkejutan di matanya bercampur dengan sedikit rasa panik.



“Kamu!” serunya sambil merogoh tas untuk mengambil bareta yang tersimpan di sana.




*Tidak! Obatnya! Setidaknya biarkan aku meminum obatnya*!



Lorie memekik putus asa ketika lempengan obat yang kembali terjatuh di atas aspal itu perlahan semakin jauh dari jangkauannya. Sekilas ia bisa melihat sopir taksi yang menunggunya di dalam mobil berlari keluar dan berseru sambil menunjuk ke arah mobil van yang menculiknya, tapi semua itu percuma karena beberapa detik kemudian, mobil van berbelok di tikungan dan masuk ke *under pass*.



*Tidak ... tidak boleh begini*!



Wanita itu lebih panik memikirkan obat yang belum sempat ia minum ketimbang bahaya yang mungkin sedang mengancam nyawanya. Didorong oleh rasa frustasi, ia membuka mulut dan menggigit tangan pria yang membekap mulutnya.



“Brengsek!” Pria itu meraung dan mencekik leher Lorie sekuat tenaga.



Lorie tersedak dan terbatuk. Urat-urat menonjol di pelipisnya, tapi ia tidak mengeluarkan jerit kesakitan sama sekali. Sorot matanya yang membara seolah hendak membakar musuhnya hingga lebur menjadi abu.



“Hentikan, Miquel. Kalau dia mati, kita tidak bisa mendapatkan barang itu.”



Suara yang datang dari kursi depan membuat tubuh Lorie menegang. Meski kepalanya terasa hampir pecah, ia masih bisa mengenali suara itu dengan jelas.


Rafael!


Bedebah itu bahkan sampai turun tangan sendiri untuk menculiknya, benar-benar brengsek!


“Lepaskan semua pakaiannya dan periksa apakah ada alat pelacak atau tidak,” sambung suara itu lagi.


Dalam sekejap pria yang bernama Miquel itu mengempaskan tubuh Lorie ke belakang dan mulai melucuti pakaiannya demi satu. Ia merobek dengan kasar hingga pinggiran kain terasa menggores permukaan kulit Lorie dengan cukup keras.


Lorie melotot dan ingin menendang pria itu, tapi seluruh anggota tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama. Tiba-tiba Lorie teringat kejadian semalam. Ini sama persis. Ia tidak bisa melakukan gerakan apa pun, tapi masih bisa melihat, mendengar, dan berbicara. Melihat efek yang terasa lebih keras dan cepat, sepertinya para bajingan itu menambah dosis obat yang disuntikkan ke tubuhnya.


Sementara itu, Miquel yang sudah selesai melaksanakan tugasnya segera meminta sopir untuk menepi sebentar. Ia keluar dan membuang semua pakaian di tangannya ke tong sampah.


Kini hanya tersisa pakaian dalam yang melekat di tubuh Lorie, membuatnya semakin ingin berontak dan mematahkan tulang-tulang Rafael satu per satu dan menikmati jerit kesakitannya. Ia bersumpah, ketika waktu itu tiba, ia tidak akan mengampuni atau melepaskan pria itu sama sekali.


“Apa yang kalian lakukan?” teriak Lorie dengan penuh amarah.


Terdengar suara kekehan pelan yang terdengar dari depan disertai perintah, “Bungkam dia, Miquel. Berisik sekali.”


Bugh!


Satu pukulan cepat yang diarahkan ke tengkuk Lorie membuat pandangan wanita itu menggelap dalam sekejap.


***