
Setelah masalah kehamilannya terekspos, Lorie lebih santai menjalani trimester awal. Morning sick yang dialaminya terasa lebih mudah dilewatinya karena ada sahabat-sahabatnya yang selalu mendampingi dan mendukung. Ia cukup optimis janinnya akan bertahan, tidak ada keluhan yang cukup berarti setelah mendapat perawatan khusus dari Dokter Ana. Billy dan Elizabeth menanyakan keadaanya sepanjang waktu, sedangkan Alex mencarikan dokter kandungan terbaik untuk mengawasi kehamilannya. Itu sudah lebih dari apa pun yang diharapkannya.
Ia sudah bertekad, jika hasil observasi minggu depan menyatakan bahwa janinnya bisa dipertahankan, maka ia akan merawat dan membesarkannya dengan sepenuh hati. Ia yang bertahun-tahun hidup sendirian akhirnya memiliki keluarga, darah dagingnya ... ia bersumpah akan merawat anak itu dengan penuh kasih sayang. Ia akan mengajari anak itu nilai-nilai kehidupan dan memberikan pendidikan yang terbaik. Mungkin jika ia beruntung, ia bisa melihat anaknya jatuh cinta kepada seseorang, lalu menikah dan memiliki keluarganya sendiri.
“Bayi, Mama akan menjagamu dengan baik ... kamu memiliki keluarga yang luar biasa di sini, jadi jangan takut. Tumbuhlah dengan sehat,” gumamnya seraya mengusap perutnya perlahan.
Tanpa sadar ia tersenyum tipis dan menggeleng pelan ketika mendapati dirinya tidak terpengaruh dengan pemikiran absurd Dokter Ana tentang cinta. Ya, setelah melalui semua hal ini, ia masih percaya bahwa cinta adalah sesuatu yang manis dan indah. Ia ingin agar anaknya mencicipi keindahan itu kelak. Jangan menjadi seperti dirinya yang naif dan tidak bisa mendapatkan cintanya.
Dering ponsel di atas meja membuyarkan lamunan Lorie. Ia beranjak dari sisi jendela dan memeriksa nomor yang melakukan panggilan.
Raymond.
Lorie mengembuskan napasnya dengan keras. Pria itu masih terus berusaha menghubunginya meskipun ia tidak merespon setiap panggilannya atau membalas pesan yang masuk.
Raymond terus memohon agar Lorie mau menemuinya dalam setiap pesan yang dikirimnya. Tentu saja Lorie sama sekali tidak ingin menanggapinya. Sama seperti alasan yang ia kemukakan di hadapan para sahabatnya, ia tidak mau merusak hubungan Raymond dengan Alice, apalagi apa yang terjadi di antara dirinya dan pria itu hanya kecelakaan semata.
Ding.
Satu pesan masuk lagi dari Raymond. Lorie menatap ponselnya lekat, bimbang untuk memutuskan apakah akan langsung menghapus pesan itu atau membacanya lebih dulu.
Wanita itu menghela napas dan mendongak, menatap langit-langit dengan intens, berharap akan menemukan jawabannya di sana. Setiap kali ia memutuskan untuk membaca pesan Raymond, perlahan hatinya semakin goyah saat pria itu meminta untuk bertemu. Dilihat dari kegigihannya itu, Lorie cukup yakin bahwa Raymond sudah mengetahui apa yang terjadi di antara mereka. Sayangnya, ia juga sudah membuat keputusan.
Lorie mengetik pesan balasan tanpa benar-benar membaca pesan dari Raymond barusan, hanya melihatnya sekilas dari ujung mata.
Tidak perlu merasa bersalah, Tuan Dawson. Itu hanya kecelakaan. Aku sudah memaafkanmu. Mari lupakan dan jalani kehidupan kita masing-masing.
Setelah mengirim pesan itu, Lorie memblokir nomor telepon Raymond dari kontaknya. Ia menaruh kembali gadget itu di atas meja, lalu berjalan keluar dan menuju dapur untuk membuat secangkir cokelat panas, satu-satunya asupan yang bisa mengurangi ras mualnya saat ini.
“Nona, ada yang bisa saya bantu?” tanya salah seorang pelayan.
“Tidak ada. Aku hanya ingin membuat cokelat panas.”
“Oke.”
Lorie mengambil cangkir dan mengisinya dengan satu sendok gula dan bubuk cokelat. Ia menyeduhnya dengan air panas dan mengaduknya perlahan. Seketika aroma manis cokelat menguar di udara. Lorie mendekatkan wajahnya dan menghidu uap panas di bibir cangkir. Air liurnya hampir menetes. Ia membawa cangkir itu ke ruang santai dan duduk di depan meja yang berisi kudapan.
Setelah mengetahui bahwa ia sedang mengandung, Alex benar-benar memanjakannya. Pria itu menyuruh para pelayan untuk menyediakan semua keperluannya dan membuat camilan manis setiap pagi, siang, dan sore khusus untuknya. Rasa manis membantu mengurangi rasa mualnya.
Lorie mengambil blueberry cheesecake dan meletakkannya di samping cangkir cokelatnya. Ia meniup dan menyesap minuman itu perlahan, lalu menggigit potongan cheescake yang langsung lumer saat menyentuh lidahnya.
“Lorie.”
“Um?” Lorie menelan cake dan menoleh ke sumber suara.
“Tuan,” sapanya seraya berdiri saat melihat Alex.
“Raymond mencarimu di depan gerbang utama.”
“Apa?” Lorie tertegun, tidak menyangka bahwa Raymond akan senekat itu.
“Bagaimana kondisi tubuhmu?”
“Sudah lumayan. Tidak ada gejala trauma fisik yang masih tersisa.”
“Begitu ....” Alex tampak berpikir sejenak sebelum mengimbuhkan, “Bagaimana kalau pergi ke Dubai untuk sementara waktu? Kamu bisa mengawasi proyek baru di sana, tapi jangan turun ke lapangan. Cukup awasi laporannya saja. Kalau kamu terus di sini, suatu saat nanti dia pasti akan berhasil menemukanmu.”
Lorie menatap cokelat panas di cangkir yang masih mengepulkan uap, seolah jawaban dari semua pergumulan batinnya ada di sana. Beberapa saat kemudian, ia kembali mendongak dan menatap Alex.
“Baik. Aku akan pergi,” ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Semoga dengan kepergiannya, Raymond bisa berhenti mencarinya.