Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
40


Tara menatap sang kakak sinis sambil berkata, "Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan, jangan malah mau melibatkan aku dalam genangan dosa ini!" Setelah mengatakan itu Tara memutar tubuhnya dan wanita itu dengan cepat berjalan, karena saat ini ia harus pergi dari sana sebelum emosinya semakin meledak di saat mendengar kalimat Dion, mantan pacarnya yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya itu. "Aku benar-benar telah salah dalam menilai Kakak," ucap Tara sambil memutar kunci karena ia ingin cepat keluar dari dalam kamar itu. "Aku sebagai adik saat ini sunguh benar-benar malu melihat kelakuan Kakakku sendiri yang begini," sambung Tara yang sudah berhasil membuka pintu.


"Sana keluar saja!" kata Tika ketus. "Jangan sampai mulutmu yang ember itu membocorkan semua ini, karena jika itu sampai terjadi maka aku tidak akan segan-segan menyebar video-mu dan Dion yang sedang berduaan di hotel." Tika malah mengancam sang adik, supaya Tara tidak membuka mulut. "Ingat Tara, jangan sampai kau membuka mulut!" seru Tika ketika ia melihat Tara akan melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.


Tara yang mendengar kalimat sang kakak sama sekali tidak meresponnya karena ia merasa itu semua percuma, karena nanti malah akan mengundang perdebatan. Membuat wanita itu hanya bisa mengangguk dan dengan langkah kaki yang lebar pergi dari sana, membawa rasa sesak di dadanya karena melihat sang kakak yang bagaikan wanita yang tidak mempunyai harga diri. Sebab Tara tahu, rupanya Dion sudah meniduri banyak wanita dan setelah laki-laki itu puas maka Dion akan meninggalkan wanita itu sesuka hati, sehingga membuat Tara menjadi takut kalau nanti Dion juga akan meninggalkan sang kakak seperti laki-laki itu mencampakkan matan-mantannya, habis manis sepah di buang.


"Rasa sayangku pada Kak Tika, melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri. Tapi kenapa Kak Tika malah membuatku merasa kecewa seperti ini," gumam Tara membatin sebab saat ini ia masih tidak menyangka.


*


Yana yang melihat Tara menuruni anak tangga mengerutkan kening, karena ia tidak melihat Tika yang ikut dengan putrinya saat ini. Sehingga membuat Yana menjadi heran di tambah ia melihat raut wajah Tara yang telihat sangat murung.


"Kakak kamu Tika mana?" tanya Yana langsung tanpa menunggu Tara duduk dulu baru ia tanyai.


Tara yang di tanya dengan cepat merubah ekspresi wajahnya. "Ma, kata Kak Tika pilih saja mana yang paling bagus, karena Kak Tika katanya hari tidak mau di ganggu," jawab Tara berbohong. Karena ia tidak mungkin akan mengatakan semuanya. Sebab wanita itu taut kalau sang ibu akan marah dengan sang kakak.


"Benarkah? Tidak seperti biasanya anak itu mengatakan kalau tidak mau di ganggu," ucap Yana yang sangat heran. "Apa jangan-jangan kakak kamu itu tidak enak badan?" tanya Yana berpikiran kalau Tika tidak enak badan saat ini.


Tara dengan cepat menggeleng kuat. "Tidak Ma, Kak Tika sehat-sehat saja, tapi mungin saja karena Kak Tika mau puas-puas rebahan dulu di kamarnya, makanya dia tidak mau di ganggu mengingat dua hari lagi dia akan pergi dari rumah ini." Lagi-lagi Tara menjawab dengan cara berbohong. Agar Yana percaya padanya.


"Kamu benar juga, ya sudah, sini duduk bantu Mama pilih kartu udangannya jika kakak kamu sudah menyerahkan semuanya pada Mama," ucap Yana yang percaya begitu saja. "Hm, Tara saja yang pilih ya, soalnya Mama mau buat kopi untuk Papa dan suami kamu dulu," ujar Yana.


"Bukannya kaki kamu sakit Tara?" tanya Yana tiba-tiba yang baru mengingat kalau Tara tadi sempat mengatakan kalau kaki putrinya itu sedang sakit, gara-gara terpeleset di kamar mandi.


"Udah mendingan kok Ma, Mama jangan mengkhawatirkan itu," jawab Tara yang kini terlihat berjalan ke arah dapur. Setelah wanita itu tadi saudah menuruni anak tangga.


***


Tara meletakkan dua cangkir kopi di atas meja, dan pada saat ia hanya melihat Gio sendiri tiba-tiba saja gadis itu malah berhambur kepelukan sang suami. Sehingga membuat Gio menjadi heran karena Tara bisa-bisanya memeluknya seperti saat ini.


"Tara, apa yang terjadi? Dan kenapa kamu malah menangis?" tanya Gio saat laki-laki itu mendengar suara isak tangis sang istri. "Tara jawab aku jangan diam saja," sambung Gio.


"Aku mau kita pulang," jawab Tara dengan air mata yang semakin deras mengalir di kedua sudut matanya. "Ayo kita pulang saja Gio, aku tidak mau berlama-lama di sini," ucap Tara.


Gio yang mendengar itu mengerutkan dahi, karena tadi sebelum ia datang kesini Tara terlihat begitu sangat bersemangat sekali. Tapi sekarang wanita itu malah mau pulang, membuat Gio tidak bisa menebak-nebak apa yang saat ini sedang terjadi sehingga wanita keras kepala seperti Tara bisa menangis seperti ini.


"Tara bukankah tadi kamu senang ketika kamu datang kesini? Tapi kenapa sekarang kamu malah begini?"


"Aku mau pulang Gio, ayo kita pulang saja. Di sini sepertinya tidak bagus untuk hati dan otakku." Tara semakin erat memeluk sang suami. "Gio, kita pulang," rengek Tara.


"Apa itu terasa sakit?" Gio malah melontarkan pertanyaan konyol yang membuat Tara semakin menyembunyikan wajah di dada bidang laki-laki itu.