
Lorie harus berjalan menyusuri lorong sepanjang hampir tujuh meter untuk sampai di tikungan yang tersambung dengan koridor utama. Saat sudah hampir sampai di ujung, seorang pria datang dari arah berlawanan dengan terburu-buru dan menabraknya dengan cukup keras.
“Oh, ya ampun, maafkan saya, Nona,” ucap pria itu seraya membantu mengambilkan tas Lorie yang terjatuh.
Lorie mengernyit menatap pria di hadapannya. Itu adalah pria yang dibisiki oleh Rafael saat ia masuk ke ruangan tadi, pria yang buru-buru pergi tanpa mengucapkan apa pun. Meski demikian, Lorie tetap mengucapkan terima kasih sebelum melanjutkan langkahnya.
Saat mencapai tangga dan hendak berjalan turun, Lorie baru menyadari jika ada bintik merah kecil di punggung tangannya. Ia cukup yakin bintik merah itu tidak ada sebelumnya.
Lorie mengusap punggung tangannya dan menyadari bahwa itu terlihat seperti bekas tusukan jarum yang sangat kecil. Seketika alarm di kepalanya berbunyi nyaring. Ia merogoh ke dalam jas dan mendapati alat pelacaknya sudah tidak berada di tempatnya. Sepertinya pria yang menabraknya tadi, dia ....
“Oh, maaf!” seru Lorie saat hampir menyenggol seorang pelayan yang sedang membawa nampan berisi minuman.
Ia menggeleng dan mengerjap. Pelan tapi pasti, kepalanya terasa semakin berat. Langit sudah gelap saat ia keluar dari Royal Club. Ia tertegun sejenak di halaman club dan mengerjap lagi dengan linglung. Rasanya seperti ada selaput tipis yang mulai menyelimuti matanya sehingga pandangannya sedikit mengabur. Ia merogoh ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Alex untuk menjelaskan situasinya secara singkat.
Lorie terus mengumpat dalam hati. Para bajingan itu ... berani-beraninya ....
Sambil mencubit tangannya sendiri untuk menjaga kesadaran, Lorie berjalan ke arah Hotel Amber. Paling tidak, ia harus mencapai pelatarannya, dengan begitu ia lebih mudah meminta back up dari kantor pusat.
Ia berjalan menyusuri pinggir jalan dengan sedikit tergesa, berharap kesadarannya masih tersisa sebelum mencapai hotel.
*Sedikit lagi* ....
Lorie menarik napas panjang. Jarak Hotel Amber semakin dekat.
Akan tetapi, saat melewati toko cenderamata yang masih sejajar dengan Royal Club, seorang pria tunawisma muncul entah dari mana dan berdiri tepat di depan Lorie. Itu adalah titik buta di mana cahaya dari penerangan lampu jalan terhalang oleh pohon akasia.
“Jangan bersuara. Pergi ke sana,” gumam pria itu seraya menggelengkan kepalanya ke arah gang yang sempit dan gelap.
Karena jarak yang sangat dekat, Lorie bisa merasakan sesuatu menekan dadanya dengan cukup kuat, dan ia tahu itu bukanlah sesuatu yang bagus. Oleh karena itu, ia hanya bisa menuruti perkataan pria itu dan pergi ke dalam gang.
Pria itu menekan Lorie ke tembok dan kembali mengancam dengan suara yang dalam, “Jangan bersuara, jangan bergerak ... kalau kamu tidak mau belati ini mengoyak lehermu.”
Di bawah penerangan yang temaram, Lorie masih bisa melihat kilau keperakan yang berada di bawah dagunya, juga rasa dingin yang menyentuh pangkal lehernya. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, ia mengedipkan mata sebagai tanda bahwa ia akan menurut.
“Bagus,” gumam laki-laki itu.
Lorie hampir kehabisan napas, tapi ia tidak berani sembarangan bergerak, belati itu masih menempel di lehernya. Untunglah tak lama kemudian pria yang mengancamnya tadi segera melepaskan tangannya, meski tangannya yang memegang belati masih terarah kepada Lorie.
Lorie segera menghirup udara sebanyak mungkin dan menumpu ke dinding dengan tangan kirinya. Saat ia mendongak dan memperbaiki postur tubuhnya, tampak sudah ada tiga orang pria lain yang mengelilinginya. Matanya menyipit, berusaha menajamkan penglihatannya yang berbayang di sisi kanan. Meski samar, ia masih mengenali pria itu ... pria yang sengaja menabraknya di lorong Royal Club!
“Kamu!” Lorie mendesis dan mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Matanya berkilat seperti kucing yang siap mengeluarkan cakar untuk bertarung.
Pria yang ditatap sedemikian rupa oleh Lorie hanya terkekeh pelan dan melangkah semakin dekat.
“Sayang sekali ... Tuan Rafael—
“Ugh!” Pria yang tadi membekap Lorie menjerit tertahan dan meringkuk di atas aspal yang bau sampah.
Tubuh pria itu gemetar hebat. Tangannya terulur ke bagian dada, menatap cairan merah dan anyir yang mengalir dari sana dengan ekspresi tak percaya. Ia sama sekali tidak mengantisipasi gerakan Lorie yang begitu tiba-tiba, merampas belatinya dan menusukkannya ke dadanya sendiri.
“Bit*h!” umpat pria lainnya saat Lorie mengayunkan belati ke lehernya. Dengan cepat ia berkelit, tapi Lorie menendang tempurung lututnya dengan sangat keras sehingga suara gemeretak tulang yang patah bercampur dengan teriakan yang teredam. Dengan gerakan secapat kilat, Lorie memutar leher pria itu hingga berubah posisi 180 derajat.
Napas Lorie menderu seperti badai. Ia berdiri dan menampar wajahnya sendiri agar penglihatannya menjadi lebih terang dan fokus.
Tersisa dua orang.