
Alex menatap genangan darah di tempat kedua orang tuanya tadi tergeletak. Mungkin Jason dan Bryan sudah merawat mereka, atau membawa mereka ke rumah sakit. Ia sungguh tidak peduli dan tidak ingin mengetahui keadaan kedua orang tuanya itu. Entah berapa banyak orang tidak berdosa yang menjadi korban atas perbuatan mereka di masa lalu. Jericho, Billy, Elizabeth, Jessica, , Kinara, dirinya sendiri ... ah, berdosakah kalau ia membenci kedua orang tuanya?
Ia berjalan keluar dengan tangan terkepal erat. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana, anyir darah dan bau mesiu yang bercampur, semuanya membuat Alex tiba-tiba merasa mual. Semua kekacauan ini disebabkan oleh kesalahan yang tidak diperbaiki, kebencian yang mendarah daging ....
Seandainya ayahnya tidak menutup-nutupi semuanya, mungkin kerusakan yang terjadi bisa diminimalisir. Lalu ibunya ... ia sama sekali wanita yang keibuan itu bisa melakukan hal keji yang ... astaga, benar-benar tidak dapat dipercaya. Kalau dirinya berada di posisi Nathan, mungkin ia akan melakukan hal yang sama.
"Tuan, Anda baik-baik saja?"
"Ya, Nick. Aku baik-baik saja," jawab Alex tanpa menoleh. Tatapannya lurus ke depan, menerawang ke satu titik jauh yang tak terjangkau oleh pikirannya.
"Apa yang harus kita lakukan dengan kepolisian dan media, Tuan?"
Alex terdiam sejenak. Kericuhan sebesar ini tidak mungkin ditutupi lagi.
"Katakan apa adanya. Proses siapa pun yang pantas untuk diadili," ujarnya setelah berpikir cukup lama.
"Baik, Tuan."
"Nick, pastikan Nathan dan Kimmy keluar dari negara ini. Carikan tempat tinggal yang layak. Kirimkan orang untuk mengawasi mereka. Kau tahu apa yang harus kau lakukan."
"Anda tenang saja, aku akan mengurus semuanya," jawab Nick sambil menjajari Alex, "Sekarang, Anda pulanglah dulu. Nyonya pasti sangat cemas. Lorie harus membiusnya tadi agar tidak melompat dari helikopter."
"Apa?!"
"Tadi nyonya bersikeras untuk kembali ke gudang yang meledak, jadi Lorie terpaksa membiusnya."
"Benar-benar ceroboh, kenapa keras kepala sekali?" gerutu Alex sambil berjalan menuju helikopter dengan cepat.
Ekspresi wajahnya benar-benar rumit ketika duduk dan memasang sabuk pengaman. Melihat hampir semua anak buah Nathan berhasil dikalahkan tidak membuatnya merasa puas sama sekali. Ia menghela napas dan memejamkan matanya ketika helikopter mengudara. Tidak ingin memikirkan apa pun. Saat ini yang sangat diinginkannya adalah pulang dan bertemu Kinara.
Kinara, akhirnya kita bisa hidup dengan tenang ....
Tanpa sadar seulas senyum tipis menghiasi wajah Alex. Setidaknya ada hal positif yang ia dapat dari semua kejadian ini. Kalau saja waktu itu ia tidak mengalami kecelakaan, mungkin sekarang yang menjadi istrinya adalah Amanda Shu, wanita manja yang sama sekali tidak punya pendirian itu. Ia tidak akan pernah tahu kalau Kinara-lah yang menyelamatkannya di Minnesota. Ia tidak mungkin merasakan cinta yang menggebu-gebu seperti sekarang ini.
Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, memang sudah diatur sedemikian rupa, bukan? Bahkan dalam kegelapan yang paling pekat sekalipun, selalu ada setitik cahaya yang menuntun dan memberi harapan baru. Dalam kesedihan dan keterpurukan sedalam apa pun, selalu ada pertolongan yang datang tepat waktu. Ketika segala sesuatu yang ada terenggut paksa, selalu ada pengganti yang lebih baik.
***
Lorie menghela napas dan kembali menyodorkan sekotak tisu kepada Kinara. Wanita keras kepala itu mendiamkannya sejak tadi karena menyuntikkan obat bius di atas helikopter beberapa waktu lalu. Sekarang, meskipun terus muntah sejak tadi, Kinara sama sekali tidak mau menerima bantuannya.
"Aku membencimu!" desis Kinara, tapi tetap menerima tisu yang diberikan oleh Lorie.
Kerongkongannya terasa pahit. Seluruh isi perutnya sudah terkuras habis. Sekarang ia hanya bisa terduduk dengan lemas di tepi ranjang. Memikirkan Alex berada di gudang yang meledak itu membuatnya benar-benar stress. Rasa takutnya tidak juga berkurang meski Lorie sudah memberitahunya bahwa Alex berhasil meloloskan diri dari ledakan. Suaminya itu masih harus menghadapi Nathan, 'kan?
"Tenanglah, tuan sedang dalam perjalanan pulang. Dia baik-baik saja. Kalian akan segera bertemu."
"Dia sedang dalam perjalanan pulang?" tanya Kinara sambil berdiri meskipun tubuhnya sempoyongan, "Kapan dia sampai?"
"Hey. Sabarlah sedikit. Hati-hati, nanti kamu jatuh."
Kinara mengabaikan ocehan Lorie dan berjalan ke keluar dari kamar. Ia ingin memastikan sendiri kalau Alex baik-baik saja. Jadi, meskipun kepalanya berdenyut hebat dan perutnya kembali bergolak, Kinara tetap melangkahkan kakinya menuju halaman.
Ia mendongak ketika mendengar deru baling-baling helikopter dari kejauhan. Wajahnya yang semula pias kembali berseri. Tiba-tiba saja seluruh tubuhnya menjadi bersemangat dan antusias. Sakit kepala dan mualnya menghilang begitu saja.
"Alex!" teriaknya sambil melambaikan meskipun helikopter belum mendarat sempurna.
Alex tersenyum dan melambaikan tangan pada istrinya. Perjalanan setengah jam terasa bagai setengah abad baginya. Ia melompat turun begitu kaki helikopter menjejak tanah. Sedikit merunduk, ia berjalan ke arah Kinara sambil merentangkan tangan.
Kinara berlari kencang dan melompat ke dalam pelukan Alex. Ia memeluk leher suaminya erat-erat sampai mereka berdua hampir terguling.
"Kamu pulang. Kamu pulang ... oh, Tuhan ... kamu pulang," racau Kinara berulang-ulang tanpa melonggarkan pelukannya.
Alex mengusap punggung Kinara ketika merasakan bahunya basah.
"Kamu ini, kenapa sangat suka menangis?" gumam Alex. Ia membiarkan Kinara tetap bergelayut di pundaknya seperti anak Koala.
"Dasar bodoh. Aku tidak akan mati semudah itu."
Kinara membuka mulutnya dan menggigit bahu suaminya sekuat tenaga hingga pria itu memekik keras karena terkejut.
"Aw! Apa yang--"
Kinara merosot turun, lalu membungkam mulut Alex dengan bibirnya. Ia menyesap bibir suaminya itu kuat-kuat sampai mereka berdua hampir kehabisan napas.
Alex terbengong ketika akhirnya Kinara mendorongnya menjauh. Ia mengusap bibirnya yang sedikit bengkak sambil menatap nanar ke arah istri mungilnya. Ini adalah pertama kalinya wanitanya itu bersikap agresif.
"Apakah ini sebuah undangan?" bisik Alex sambil menatap nanar pada bibir Kinara yang merah dan menggoda.
Kinara bersedekap dan mengangkat satu alisnya. "Malam ini kamu tidur di ruang tamu," cetusnya sebelum berderap masuk.
"A-apa? Hey! Memangnya apa salahku? Kinara! Kinara Lee!" seru Alex sambil mengejar istrinya. Ia tidak mengerti mengapa mood wanitanya naik turun dengan cepat seperti itu.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Alex ketika berjalan melewati Lorie, "Kenapa tiba-tiba marah?"
Lorie tersenyum kecut dan menjawab, "Nyonya juga sedang tidak mau berbicara dengan saya, Tuan."
Alex menghela napas dan menyusul Kinara. Namun, ia sedikit terlambat. Pintu kamar telah terkunci ketika ia tiba. Ia mengetuk pintu beberapa kali, tetapi Kinara benar-benar mengabaikannya. Akhirnya ia menyugar rambutnya dan berjalan menuju ruang tamu. Ia perlu mandi sebelum kembali memikirkan cara untuk meluluhkan hati istrinya.
***
Bau obat-obatan yang tajam menusuk hidung. Billy mengernyit dan mengerang pelan. Matanya terasa sangat berat, seperti digantungi batu. Rasa sakit mengoyak indera perasanya. Panas dan berdenyut nyeri. Ia mencoba untuk bergerak, tetapi sebuah sentuhan hangat di lengan menghentikan gerakannya.
"Sayang, jangan banyak bergerak dulu, nanti infusnya terlepas."
Billy terkesima mendengar suara itu. Suara yang bertahun-tahun dirindukannya. Kehangatan yang ia pikir tidak akan pernah bisa ia rasakan lagi. Kelopak matanya bergerak pelan dan terbuka, lalu satu bulir bening lolos begitu saja dari genangan yang terasa berat di pelupuk matanya.
"Lizie?" bisiknya ketika melihat wanita yang sangat dicintainya duduk di hadapannya dan tersenyum lembut ke arahnya.
Elizabeth menggenggam jemari Billy yang tidak diinfus dan mengecupnya dengan hati-hati.
"Halo, Sayang. Aku merindukanmu."
"Semua sudah berakhir?" tanya Billy dengan suara serak.
Elizabeth mengangguk berkali-kali.
"Ya. Semua sudah berakhir ... sudah berakhir, Sayang ...."
Billy menyentuh wajah kekasihnya, menatapnya dengan sorot penuh cinta.
"Kamu baik-baik saja? Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia menyakitimu?" tanyanya.
Elizabeth menggeleng. "Aku baik, Sayang. Aku sangat baik," jawabnya.
"Aku ingin memelukmu. Sangat ingin memelukmu," bisik Billy tanpa mengalihkan tatapannya. Ia bahkan terlalu takut untuk berkedip. Ia takut Elizabeth akan menghilang dari pandangannya ketika ia mengedipkan mata.
Elizabeth tersenyum lebar, lalu menunduk dan mengecup bibir Billy dengan lembut. Air mata yang menetes memberi rasa asin dalam ciuman mereka, tetapi kali ini ia merasa bahagia meski bulir bening tak berhenti mengalir dari sudut matanya.
"Aku mencintaimu. Cepatlah sembuh. Aku sangat merindukanmu," bisik Elizabeth tanpa menjauhkan wajahnya.
Billy mengulurkan tangannya untuk mengusap air mata di wajah Elizabeth. "Kamu ... kamu memaafkanku?"
Elizabeth mengangguk. "Tentu saja aku memaafkanmu. Aku mencintaimu."
Seluruh beban di pundak Billy seperti diangkat oleh tangan tak kasat mata. Pelupuk matanya pun menghangat, mengaburkan pandangannya.
"Terima kasih, Lizie. Aku mencintaimu ...," bisiknya di sela ciuman mereka.
Akhirnya setelah sekian lama, semuanya baik-baik saja ... semua pengorbanannya tidak berakhir sia-sia. Ia menangkup wajah Elizabeth dan mencium gadis itu dengan sepenuh hati.