Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Extra Part 2: Berusaha Melupakannya


Berdiri di depan pintu gerbang samping, Kinara memegang sebungkus cokelat di tangan kanan dengan gugup. Ia mendongak dan menatap ayahnya, ingin memastikan bahwa apa yang dilakukannya nanti tidak akan membuat ayahnya berada dalam masalah.


Christoper mengusap puncak kepala putrinya dan berkata, “Tenanglah, daddy sudah bicara dengan Tuan Jonathan. Dia mengizinkanmu menjenguk tuan muda sebentar. Ayo, masuk.”


Kinara tersenyum lembut dan menyongsong jemari ayahnya, melangkah dengan pasti melewati lorong-lorong panjang dan megah yang dipenuhi hiasan dan pajangan mahal. Gadis kecil itu menatap semuanya dengan penuh minat dan kekaguman. Di rumahnya, hanya ada foto keluarga mereka di dinding, juga beberapa patung kecil yang dibelinya bersama sang ibu di bazar.


“Lewat sini, Sweetie,” ujar Christoper seraya menuntun putrinya menaiki tangga.


Kinara sangat bersemangat. Tangan kirinya terkepal erat, mencoba meredam debaran yang membuatnya cemas dan merona.


Apakah dia akan percaya kalau ....


“Berhenti!”


Seruan dengan nada curiga itu membuat Christoper menahan lengan putrinya.


“Nyonya Besar,” sapanya seraya menunduk hormat.


Kinara mengikuti tindakan ayahnya, ia menunduk sambil berkata, “Nyonya ....”


Brenda Smith menatap dua orang di hadapannya dengan sorot dingin dan menyelidik, lalu bertanya, “Apa yang kalian lakukan di sini?”


“Putri saya ingin menjenguk Tuan Alex, Nyonya,” jawab Christoper dengan sopan.


“Menjenguk? Memangnya kau pikir putrimu itu siapa? Menginjakkan kaki di lantai ini pun kalian tidak pantas!”


Telinga Kinara memerah. Ia tahu ayahnya hanya seorang supir, tapi kalimat penghinaan seperti itu sangat menyakitkan.


“Maafkan kelancangan saya, Nyonya. Saya sudah meminta izin kepada Tuan Jo—“


“Tidak ada satu orang pun yang berhak mamasuki rumah ini tanpa izinku!“


Christoper terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata, “Maafkan kami. Kami akan segera pergi.”


Ia menarik lengan Kinara untuk pergi, tapi gadis kecil itu memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Brenda Smith.


“Maaf, Nyonya.” Kinara memberanikan diri untuk menatap wanita yang terlihat menyeramkan di hadapannya itu. “Saya hanya ingin menjenguk Tuan Muda sebentar. Setelah menolongnya di danau, saya tidak sempat—“


“Kinara,” tegur Christoper sambil menatap putrinya dengan sorot memohon. Ia tahu, Nyonya Besar tidak seperti putra dan menantunya yang cukup murah hati.


“Kamu apa?” tanya Brenda dengan mata memicing.


Kinara mengabaikan peringatan dari ayahnya dan menjawab, “Mm ... menolongnya, Nyonya.”


“Beraninya kamu! Lancang! Berani-beraninya mengarang kebohongan seperti itu?!” teriak wanita itu dengan telunjuk mengarah ke wajah Kinara hingga semua pelayan yang ada di sana ikut menatapnya dengan heran.


Kinara belum sempat menjawab ketika tiba-tiba pintu di belakang Brenda terbuka. Sebuah kepala dengan rambut berwarna pirang menyembul dari balik pintu dan berjalan keluar.


“Granny, ada apa? Alex mendengar Anda berteriak dan memintaku untuk memeriksa,” ujar gadis itu dengan suara yang sangat sopan dan lembut.


“Katakan Jessie, siapa yang menolong Alex dari danau?”


“Saya sendiri yang menariknya dari dalam air yang kotor itu, Granny,” jawab Jessica seraya mengerling penuh arti ke arah Kinara, “Tidak ada siapa pun di sana saat itu.”


“Kamu dengar itu?” ketus Brenda pada Christoper, “Ajari putrimu tata krama dengan baik! Orang-orang seperti kalian selalu mencari kesempatan untuk mencari keuntungan dari kami. Menjijikkan!”


Pelupuk mata Kinara memanas. Ia menggeleng pelan dan mencoba menjawab, tapi ayahnya mencengkeram lengannya dengan kuat.


Pria itu menunduk dalam-dalam dan berkata, “Maafkan kelancangan putri saya, Nyonya. Saya akan mendidiknya dengan baik.”


Ia lalu menoleh pada Kinara dan berkata, “Cepat minta maaf.”


Hati Kinara terasa pahit dan sakit, tapi yang bisa ia lakukan hanya menunduk dan meminta maaf untuk kesalahan yang tidak pernah dilakukannya.


“Maaf,” lirih gadis itu dengan suara tercekat, seperti ada sebongkah batu yang mengganjal di tenggorokannya.


“Jangan pernah berani muncul di hadapan cucuku, atau kau dan keluargamu akan terima konsekuensinya!” ancam Brenda sambil menatap Kinara lekat-lekat.


“Baik, Nyonya ....”


Brenda mendengkus dan mencibir sinis, lalu menarik tangan Jessica untuk kembali masuk ke dalam kamar. “Pelayan, bersihkan bekas kaki mereka,” ujarnya sebelum membanting pintu dengan keras.


Kinara menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan agar isak tangis tidak lolos dari mulutnya. Seharusnya ia mendengarkan nasihat ibunya tadi. Seharusnya ia tidak memaksa untuk datang. Seharusnya ia tidak ... tidak menyukai Tuan Muda ....


***


Mata Kinara menyipit ketika gadis berambut pirang dengan gaun berenda di ujung sana kembali mendekati Tuan Muda Smith sambil menawarkan minuman, bertingkah sangat manis tapi jelas penuh kepalsuan. Sangat menjengkelkan!


“Apa yang sedang kamu lihat, Sweetheart?”


Suara lembut dari balik tubuhnya membuat Kinara berjengit dan menoleh cepat.


“Mom?” serunya dengan sedikit gugup, “A-aku ... aku h-hanya sedang—“


Rebecca meraih kepala putrinya dan membelainya lembut. “Dunia kita berbeda dengan mereka, Honey ... jangan sakiti dirimu sendiri.” ujarnya pelan.


“Aku tidak ... aku ....”


“Aku mengerti,” jawab Kinara seraya menunduk.


Ia kembali memusatkan perhatian pada sayuran dan buah-buahan yang harus disiapkan untuk makan malam. Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan berjalan di belakang ibunya tanpa menoleh ke belakang lagi, tempat para anak-anak orang kaya itu berkumpul dan bercengkerama.


“Letakkan di sini,” ujar Rebecca sambil menunjuk keranjang yang masih kosong.


Kinara meletakkan bawaannya dengan patuh. Ia hendak berjalan keluar lagi, tapi ibunya menahan lengannya sambil tersenyum.


“Tolong bereskan barang-barang di sini saja,” kata Rebecca sebelum berjalan keluar untuk mengambil sisa belanjaan. Ia tahu, putrinya akan merasa sedih jika melihat tuan muda lagi.


Lagi-lagi Kinara menghela napas sebelum mulai memilah sayuran dan buah untuk disimpan di mesin pendingin. Ini kali ketujuh keluarga Smith mengadakan acara bersama para karyawannya, termasuk pelayan dan supir. Sebenarnya Kinara tidak mau ikut karena tahu Alex juga akan datang. Ia tidak bisa menahan perasaannya yang ... entah ... ia sendiri tidak mengerti, karena buktinya ia tetap datang ... hanya agar bisa menatap pemuda itu dari kejauhan.


“Hey.”


Deg.


Deg.


Deg.


Kinara membeku. Otaknya mendadak kosong, tidak bisa memerintah anggota tubuhnya untuk melakukan sesuatu. Ia ingin mendongak, atau menjawab ... tapi tubuhnya benar-benar mematung begitu saja.


Dia memanggilku bukan? Dari mana dia datang? Kenapa tiba-tiba sudah ada di sini?


Deg.


Deg.


Deg.


“Hey, kamu. Ada minuman dingin?” ulang Alex seraya melihat ke sekeliling ruangan.


Kinara mengerjap, mencubit tangannya dengan keras hingga rasa sakit berhasil mengembalikan kesadarannya. Ia berdeham pelan sebelum menjawab, “Ada, Tuan.”


Gadis itu membuka mesin pendingin, mengambil sebotol air mineral dan berjalan ke pintu untuk menyerahkannya pada Alex.


“Ini,” ujarnya dengan kepala tetap menunduk, tidak sanggup menatap wajah yang selama ini membuatnya seperti orang linglung.


“Terima kasih,” kata Alex sebelum berjalan kembali ke lapangan.


Kinara berdiri di pintu dan menatap punggung tegap itu menjauh. Helaian rambutnya yang tertiup angin, aroma mint yang tertinggal di udara, siluetnya yang semakin menjauh ... oh, Tuhan ....


Seluruh tubuh Kinara gemetaran. Ibunya selalu mengatakan bahwa rasa sukanya pada Tuan Muda akan menghilang seiring berjalannya waktu, tapi nyatanya semua perasaan itu hanya semakin bertambah besar, bertumbuh liar dan memenuhi rongga dadanya.


Mom, apa yang harus kulakukan ....


Gadis itu menekan dadanya yang berdenyut nyeri.


“Hey, Gadis Pelayan.”


“Huh?”


Kinara mengerjap dengan linglung, kemudian menatap gadis berambut merah yang sedang mengamatinya dengan sorot merendahkan dan melecehkan. Dua orang gadis remaja seusianya berdiri di belakang Jessica berdiri dan menatap Kinara seakan ia adalah seekor lalat yang menjijikkan.


“Bersihkan gaunku,” perintah Jessica sambil menyeringai licik.


Kinara bergeming, menatap gaun gadis itu yang bersih tanpa noda sedikit pun. Kemudian, manik bulatnya melebar ketika melihat gadis di hadapannya itu dengan sengaja menumpahkan isi gelasnya hingga ujung gaunnya berubah menjadi kuning.


“Aku bilang, bersihkan gaunku.”


“B-baik, Nona,” jawab Kinara seraya mengambil kain dan berlutut di hadapan gadis itu.


Jessica tersenyum puas, sementara dua orang temannya terkikik geli. Para pelayan yang baru datang dengan barang bawaan masing-masing berpura-pura menutup mata dan tidak melihat semua kejadian itu.


Jessica mengangkat kakinya dan meletakkannya di atas paha Kinara, kemudian berkata, “Ingatlah posisimu ini, Gadis Pelayan. Sampai kapan pun, kamu tidak akan bisa mendapatkannya. Tidak layak. Tidak pantas. Mengerti?”


Kinara menggengam kain erat-erat hingga buku-buku tangannya memutih. Ia sangat ingin mendorong gadis kaya yang sok dan arogan di hadapannya hingga tersungkur, tapi ia tahu hal itu hanya akan membuat semuanya semakin runyam.


Jadi, yang bisa dilakukannya hanya mengangguk dengan patuh dan menjawab, “Mengerti, Nona.”


“Bagus. Cepat selesaikan perkejaanmu. Jangan sampai kami terlambat makan malam,” ujar Jessica sebelum berjalan menjauh.


Angin sepoi-sepoi yang berembus menerpa bulir bening yang menetes di pipi Kinara. Ibunya benar, ada harga yang sangat mahal yang harus dibayarnya jika bersikeras bertahan dengan perasaannya untuk Tuan Muda. Bukan hanya dirinya, mungkin kedua orang tuanya pun akan dipermalukan.


“Ada apa, Sweetie? Kenapa menangis?” tanya Rebecca ketika melihat putrinya tersedu di sudut ruangan.


“A-aku akan ... akan melupakannya, Mom. Aku berjanji, akan melupakannya ....”


Rebecca memeluk putrinya dan membelai kepalanya dengan penuh rasa sayang. Ia hanya terdiam dan terus memeluk putri semata wayangnya itu. Ia tahu, untuk saat ini, tak ada satu pun kata-kata penghiburan yang bisa membuat putrinya merasa lebih baik.


Kinara membalas pelukan ibunya dan menghapus air mata di pipinya.


Aku akan melupakannya, Mom ... aku pasti akan melupakannya ....