Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 97


Raymond terus berdiri di sisi ranjang Lorie sampai entah berapa lama. Ia tidak beranjak sedikit pun meski perawat sempat mengingatkannya untuk mengobati luka-luka di tubuhnya akibat perkelahian dengan Daniel. Pria itu hanya diam dan menatap Lorie yang sedang tidur dengan tenang.


Sampai akhirnya ketika kantuknya sudah tidak dapat ditahan lagi, ia pergi ke sofa dan meringkuk di sana. Tadinya ia pikir akan sulit tidur dalam keadaan seperti itu, tapi siapa yang menyangka begitu tubuhnya berbaring, kesadarannya lesap dalam sekejap.


Meski dalam keadaan yang tidak memadai, itu adalah pertama kalinya Raymond dapat tidur dengan nyenyak selama tiga bulan terakhir. Seolah semua beban di pundaknya menyusut drastis. Tidak ada lagi mimpi buruk dan kegelisahan yang menghantui setiap kali ia memejamkan mata.


Mungkin karena terlalu lelap tertidur, Raymond tidak mendengar ketika pintu kamar terbuka, disusul langkah kaki yang tegas dan sedikit tergesa menuju ranjang Lorie.


Wanita itulah yang lebih dulu membuka mata ketika mendengar pergerakan halus di dekatnya. Matanya menatap dengan tidak fokus ke arah pria yang sedang meletakkan sebuah bungkusan entah apa di atas meja samping ranjangnya. Ia melirik jam dinding di dekat lemari pakaian. Masih pukul enam pagi.


“Apa yang kamu lakukan di sini sepagi ini?” tanya Lorie dengan suara serak.


Daniel yang terkejut karena pertanyaan yang datang dari balik tubuhnya itu hampir menjatuhkan bungkusan di tangannya. Untunglah refleksnya cukup bagus sehingga berhasil menahan sarapan yang baru saja dibelinya. Ia berbalik dan menatap Lorie dengan ekspresi bersalah.


“Apa aku membangunkanmu?” tanyanya.


“Tidak, kebetulan aku memang baru bangun,” sangkal Lorie. Ia tidak mau membuat pria di depannya itu merasa tidak enak hati. Lagi pula, tidurnya semalam lumayan pulas. Ia merasa lebih sedikit lebih segar sekarang.


“Oh. Kalau begitu kebetulan, aku melihat kedai bubur di samping rumah sakit,aku juga sedikit khawatir kamu tidak cocok dengan menu makanan di sini jadi aku mampir dan membelikan untukmu. Penjualnya seorang bibi dari ... oh, Korea ... betul, dia dari Korea. Dia bilang bubur ini sangat bagus untuk pasien yang sedang dalam masa pemulihan karena menggunakan banyak rempah-rempah alami yang sangat bagus untuk kesehatan,” jelas Daniel sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya di udara dengan canggung.


Setelah selesai mengucapkan kalimat yang panjang itu dalam satu tarikan napas, wajahnya terlihat sedikit memerah. Mungkin karena menyadari antusiasmenya yang berlebihan, mungkin juga karena Lorie terus menatapnya tanpa berkedip. Dalam sekejap Daniel merasa oksigen dalam ruangan itu menyusut drastis sehingga ia hampir megap-megap. Namun, saat melihat sudut bibir Lorie sedikit berkedut dan ada cahaya yang berkilau dalam pantulan matanya, bahu Daniel yang tegang langsung luruh.


“Aku terlihat konyol, bukan?” tanyanya dengan sedikit malu. Ia sadar wajahnya masih lebam dan biru karena dipukuli Raymond semalam. Meski sudah diobati, memar itu tidak bisa langsung pudar.


Lorie menahan tawanya dan menggeleng pelan. Wajah Daniel yang biasanya tampan dan sempurna kini terlihat seperti warna baju yang luntur, biru dan ungu di mana-mana. Bahkan ada noda darah di sisi kiri bibirnya, sedangkan sudut kanan pelipisnya masih bengkak. Akan tetapi, Lorie tidak ingin memberi komentar apa pun. Bukan dirinya yang menyuruh kedua pria itu berkelahi.


Cuping telinga Daniel semakin merah dan ia tidak tahu harus membalas apa. Ia terlihat sedikit kikuk, tidak tahu harus meletakkan kedua tangannya di mana, jadi akhirnya ia kembali mengambil bungkusan di atas meja dan membukanya.


Pria itu mengeluarkan bubur dari bungkusan dan menuang isinya ke dalam mangkuk yang ada di laci lemari. Uap panas yang mengepul menguarkan aroma yang sangat harum. Samar-samar tercium juga aroma rempah-rempah di antara aroma daging dan sayuran.


“Sepertinya bibi Korea itu tidak membohongimu, sangat wangi ...,” ucap Lorie yang masih ingin meledek Daniel.


Daniel hanya pura-pura memelototi Lorie sehingga membuat tawa wanita itu bergema di dalam ruangan. Di ujung sofa, Raymond mengernyit dan membuka mata perlahan. Sekejap ia linglung, tapi di detik berikutnya pemandangan yang harmonis di depan sana membuat kesadarannya kembali dengan cepat. Ia melompat bangun dan menerjang ke arah Daniel.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” gertaknya seraya menarik kerah baju Daniel.


“Apa yang kamu lakukan?!” Daniel balas bertanya. Bubur di tangannya hampir tumpah.


Aura permusuhan yang keras langsung memancar dari tubuh Daniel. Ia menepis tangan Raymond, tapi cekalan itu sekeras pencapit besi.


“Siapa yang mengizinkanmu masuk? Dia masih perlu istirahat, kenapa membangunkannya sepagi ini?” desak Raymond. “Benar-benar tidak tahu aturan.”


“Apakah ini rumahmu? Apakah kamu ini an*jing penjaga sehingga aku harus meminta izinmu dulu? Dia sudah bangun dan tidak keberatan untuk sarapan, mengapa kamu yang bersikap tidak masuk akal?” balas Daniel.


Kalau bukan karena sedang memegang mangkuk bubur, sepertinya ia sudah akan bangun dan berkelahi lagi dengan Raymond.


***